So Long Old Friend

Posted in Uncategorized on January 27, 2010 by dplt

It was a great time. Thank you for your contributions to shape this small world. The Network is The Computer.

Puzzle: Ayam dan Serigala

Posted in Puzzle on January 24, 2010 by dplt

Peternakan ayam anda baru saja diserang oleh sekawanan serigala dan hanya tersisa tiga ekor di antara lima ekor serigala yang mengancam. Guna menyelamatkan ayam yang tersisa, anda berusaha menempatkan ketiganya di posisi yang tepat agar serigala tak dapat menerkam. Seekor serigala dapat menerkam ayam yang terletak satu baris baik horizontal, vertikal maupun diagonal (seperti pergerakan ratu pada permainan catur). Catatan: Serigala tidak akan menyerang sesamanya.

Berikut adalah contoh solusi yang kurang tepat:

Catatan: Ayam pada posisi a2 dan a4 aman, sementara ayam di b1 terlihat terancam oleh keberadaan serigala di d3.

Dapatkah anda menemukan solusinya? Selamat mencoba.

Introspeksi dan Resolusi

Posted in Psychology on January 9, 2010 by dplt

Blog post kali ini saya buka dengan sebuah pertanyaan berikut:

Apakah saya sudah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan?

Seorang teman berinisial F beberapa waktu lalu pernah berkata kepada saya suatu ketika, “Menurut aturan kesehatan, seseorang sebaiknya istirahat 6-8 jam sehari. Katakanlah 8 jam sehari. Berarti sudah sepertiga dari jam hidup dia selama sehari“. “Iya. Lalu kenapa dengan itu?“, saya memotong. “Jadi, ketika kita berumur 60 tahun, kita sudah menghabiskan 20 tahun HANYA untuk tidur. Padahal kita selalu dinasehati untuk selalu giat untuk bekerja“, lanjutnya.

Pernyataan itu tidak salah memang. Selain secara numerik memang masuk akal, kehidupan perkotaan agaknya memang berbeda dengan masyarakat pedesaan atau pun kota kecil yang aktivitas hariannya tidak sepadat orang-orang kota yang sebagian besar adalah orang kantoran. Kerja keras nan giat tampaknya sudah menjadi harga mati bagi yang ingin bertahan hidup di kota seperti Jakarta ini.

Tapi ada pernyataan yang lebih penting dari itu sesungguhnya, bahwa kita hidup tidak HANYA untuk bekerja. Sungguh menyedihkan orang-orang yang menilai bahwa hidupnya didedikasikan hanya untuk uang dan karir, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang ‘menabung’ ketidakbahagiaan mereka sendiri di kemudian hari. Sudah banyak contoh orang yang memiliki banyak uang, namun hidupnya hampa. Kosong. Uang ada. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Hiburan tinggal cari. Kebahagiaan? Dipertanyakan. Bagi yang tidak percaya, silakan dicoba sendiri.

Menanggapi pernyataan F, saya pun membalikkan itu dengan bertanya, “Jadi, kalau kita lebih sedikit beristirahat, kita bisa punya lebih banyak waktu untuk bekerja?“. “Tentu saja, kalau ngga, ngapain coba. Toh hidupnya sudah didedikasikan buat bekerja“, terangnya. “Dari pertama saja sudah salah arah, hidupnya didedikasikan buat bekerja. Selanjutnya tidak mengherankan kalau jadi berantakan“, kata saya. “Maksudnya berantakan?“, tanya si F. Saya kembali melanjutkan, “Maksud saya sudah jelas. Semakin sedikit kita istirahat, bukan malah lebih banyak kerja, tetapi justru lebih besar kemungkinan untuk sakit. Kita setiap hari semakin tua, berapa lama kita bisa bertahan untuk kerja banting tulang?“.

Saya sudah memikirkan tentang hal-hal ini semenjak jauh-jauh hari. Aktivitas saya ketika berorganisasi semasa kuliah, banyak memberikan hasil simulasi yang realistis tentang apa yang terjadi dengan saya menjadi seorang workaholic. Mulai dari sering bolos kuliah, kurang memperhatikan keluarga sampai berpacaran pun selalu putus sambung. Sebaliknya, karir saya meroket. Reputasi yang saya peroleh memang luar biasa, namun pada akhirnya saya merasa tidak ada hal yang bisa saya banggakan dengan itu semua.

Selepas masa kuliah, mulailah salah menjajaki dunia kerja yang terkenal keras dan kejam. Banyak hal yang berubah selepas saya lulus, terutama dari segi kepribadian. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa aktivitas masa-masa saya kuliah selama empat tahun sebenarnya sudah saya proyeksikan sedari awal-awal sebelum masuk kuliah. Pelbagai rencana sudah disiapkan, dan beragam target sudah terpampang. Meski di tahun kedua sempat diselingi kesibukan terlibat dengan ajakan orang tua untuk berbisnis, namun karir organisasi saya terus berlanjut bahkan sampai ke level tertinggi. Memang, saya sempat cukup diperhitungkan ketika cukup aktif berpartisipasi beberapa lomba pemrograman di kampus. Namun sayangnya, ini sama sekali tidak termasuk dalam rencana saya di awal tadi. Sehingga yang satu ini pun, tidak saya tekuni dengan serius meski saya sangat antusias untuk terus belajar.

Kita hidup untuk suatu tujuan. Dan perlahan-lahan, saya mulai paham akan hal itu. Suatu tujuan yang bisa jadi berbeda untuk setiap orang. Ada berbagai pendekatan yang dipakai oleh orang-orang pada umumnya demi memahami tujuannya untuk hidup di dunia ini, mulai dari sisi psikologis, sains, hingga religius. Agaknya sulit untuk mendefinisikan ‘tujuan’ ini sendiri, karena kita tidak tahu masa depan akan berbentuk seperti apa.

Belasan buku sudah saya habiskan demi mencari ‘tujuan’ itu. Berdasarkan apa yang saya pahami, tujuan kita pada akhirnya tidak selalu yang kita harapkan. Entah kita akan menjadi seperti apa di masa tua nanti, yang pasti itu semua masih misteri. Jadi masuk akal saja bila dibilang tadi: ‘tidak selalu kita harapkan’. Namun, hal yang menggelitik di sini adalah: jika tujuan akhir itu bisa jadi tidak selalu yang kita harapkan, lalu bagaimana kita bisa menentukan tujuan itu sendiri sementara kita tidak tahu masa depan itu seperti apa? Ini pertanyaan yang sulit memang.

Saya berpikir, berpikir dan berpikir. Mulai dari faktor A, B, C, D, E, hingga Z pun menjadi bahan pertimbangan. Apa sesungguhnya tujuan saya hidup di dunia ini? Apakah semata-mata hanya untuk mati? Hal ini mungkin masih bisa diterima, jika seorang bayi yang masih dalam kandungan atau baru lahir, tidak lama kemudian sudah mengakhiri hidupnya. Namun, bagi kita yang bisa hidup layaknya manusia normal, agaknya ada hal lainnya yang harus kita pertimbangkan. Tidak hanya sekedar mati. Apalagi materi. Pernahkah juga anda memikirkan hal ini? Hal yang kelihatannya sederhana, tapi sesungguhnyalah hal ini sangat amat rumit untuk dibahas.

Berbicara tentang kematian, hal ini pun sebenarnya merupakan misteri bagi semua orang. Berbagai opini dilontarkan, berbagai keyakinan dipublikasikan mengenai apa itu mati, kematian dan hidup setelah mati. Kalimat pertama paragraf ini sudah jelas, “..Berbicara tentang kematian..” bahwa hanya orang yang sudah mati lah yang bisa berbicara tentang kematian karena mereka sudah mengalami. Namun orang mati tidak dapat berbicara, meski ada yang mempercayainya dalam rupa roh. Mereka semua yang berpendapat ini dan itu, semuanya adalah spekulasi apa adanya. Sekalipun salah satunya ada yang benar, itu kembali ke bagaimana kita mau menerima dan mempercayainya. Dalam hal ini adalah iman. Bagi saya, semua orang pasti mati. Jadi kita tidak perlu gusar tentang itu, karena tiap orang pasti melaluinya. Kecuali ada kemungkinan antara mati atau tidak mati, barulah kita boleh gusar akan hasil akhirnya. Seperti ibarat dua sisi koin yang peluangnya sama, fifty-fifty.

Jadi sebenarnya, apa arti dari semua ini? Apakah hidup ini memang harus sebegitu kompleksnya sampai harus membuat kita sakit kepala ketika memikirkannya?

Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah film berjudul Sang Pemimpi, seri kedua lanjutan dari Laskar Pelangi. Seorang pemuda tanggung bernama Arai, salah satu pemeran utamanya, sedang berbicara kepada temannya bernama Haikal, “Orang kecil macam kita pasti mati kalau tak punya mimpi“. Ucapan Arai pada awalnya saya anggap sambil lalu karena di film yang berjudul Sang Pemimpi ini menjadi sangat jelas bahwa itu menunjuk kepada si Arai yang kaya dengan mimpi dan visi. Ibarat The Half-Blood Prince yang merujuk kepada Severus Snape, merujuk pada novel keenam Harry Potter. Beberapa hari berikutnya, kedua mata saya baru terbuka tentang makna dari mimpi yang dia maksud. Ya, sepertinya saya mulai paham sekarang.

Mimpi bukan berarti khayalan atau bunga tidur yang kita alami ketika sedang tertidur lelap. ‘Mimpi’ sesungguhnya adalah hal yang ingin kita capai dalam hidup. Hal yang begitu ingin dan yakin untuk kita perjuangkan dalam hidup demi mendapatkannya. Hal yang tentu saja membuat kita bahagia ketika mencapainya.

Ketiga anak dari Belitong itu bermimpi bahwa mereka ingin berkeliling dunia. Sepintas memang terlihat seperti orang gila, namun mereka memberi bukti dengan usaha mereka untuk mencapai itu. Sekali pun kita harus gagal, namun kita akan terus berusaha untuk mendapatkannya karena tujuan dari bermimpi itu sendiri ialah menyemangati kita untuk lebih hidup. Di sini lah pemahaman yang sesungguhnya. Tidak ada hal yang luar biasa dalam hidup secara nyata, namun kita lah yang merasakannya luar biasa. Kita masih bisa hidup tanpa makanan, tapi kita takkan bisa hidup tanpa semangat.

Sebagai contoh, seorang ayah yang bekerja keras menghidupi keluarganya. Meski bekerja keras tadi sudah disinggung di awal bahwa juga harus dibatasi, namun sang ayah merasa yakin berkorban untuk bekerja lebih keras lagi karena ia merasa ada hal yang lebih berharga yang ia perjuangkan. Yakni kesejahteraan keluarganya.

Kata kunci dari semua ini sebenarnya sederhana, kebahagiaan. Saya tidak akan membahas definisi dari kata ‘kebahagiaan’ entah itu merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau kamus yang lain karena kita memasuki area yang agak irasional di sini.

Apa arti kebahagiaan bagimu? Kejarlah dan lakukanlah itu sesuai keinginanmu.

Melakukan sesuai keinginan kita, bukan berarti bisa sesuka kita. Dengan kita merugikan orang lain, itu pasti akan berdampak lebih lanjut. Dan bukankah itu bisa mengancam kebahagiaan hidup kita? So do it for the good of yourself and the people.

This may seem difficult to consider, but let’s start with the first question. What brings happiness to you? Do you love your life? You are old enough to understand your own life. Just give it a little more time to think. It’s your life, not others. So it’s you yourself who can really really understand your happiness. Not me, him, her or someone else.

Kejar impianmu, raih cita-citamu, capai kebahagianmu.

Hendaklah hidupmu berharga untuk orang lain, karena itulah inti dari kebahagiaan sejati.

Semoga Tuhan memberkati.

Incomplete by Sisqo

Posted in Lyrics on January 8, 2010 by dplt

These days, I’ve been listening to Sisqo’s song, Incomplete. I really like this song. You should give it an ear I guess. I like the lyric either, especially this part:

Even though it seems I have everything, I don’t wanna be a lonely fool.

[So] I can make believe I have everything, but I can’t pretend that I don’t see.

—————————————————————————————————–

Bright lights, fancy restaurants
Everything in this world that a man could want
Got a bank account bigger than the law should allow
Still I’m lonely now

Pretty faces from the covers of the magazines
From their covers to my covers wanna lay with me
Fame and fortune still can’t find
Just a grown man runnin’ out of time

Chorus:
Even though it seems I have everything
I don’t wanna be a lonely fool
All of the women
All the expensive cars
All of the money don’t amount to you
I can make believe I have everything
But I can’t pretend that I don’t see
That without you girl my life is incomplete

Your perfume, your sexy lingerie
Girl I remember it just like it was on yesterday
A Thursday you told me you had fallen in love
I wasn’t sure that I was

It’s been a year
Winter, summer, spring and fall
But bein’ without you just ain’t livin’ ain’t nothin’ at all
If I could travel back in time
I’d relive the days you were mine

[Chorus]

I just can’t help lovin’ you
But I loved you much too late
I’d give anything, and everything
To hear you say
That you’ll stay

[Chorus 2x]

Without ya girl
My life is incomplete

————————————————————————————————–

You can download the song here (Right click, save as).

Hati dan Persegi (to understand and to see)

Posted in Journal on January 5, 2010 by dplt

Siang itu, tanpa dibekali makan siang dari rumah dan tanpa diawali dengan doa pembuka, saya dan teman saya (sebut saja Lingga) terlihat cukup sibuk di meja berukuran 3×1 meter, yang kalau juga boleh dibilang sebuah meja makan tetapi pada jam-jam tertentu. Tentu saja kami berdua bukan sedang berdoa, belajar apalagi bermain bola meski hanya berdua.

Meja berwarna coklat, berbahan dasar kayu, disusun rupa teralis yang tersusun rapi, terduduk main di area luas yang juga dihuni para mahasiswa yang lain. Area foodcourt itu memang tergolong mewah untuk ukuran universitas, meski kawasan kampus tergolong sempit. Hanya dua gedung, berbeda dengan UI, ITB atau UGM yang luasnya bukan main. Yang pasti, jumlah gedung, mahasiswa, meja, kursi, jendela maupun kaleng minuman kosong yang berserakan ketika itu, sama sekali tidak menganggu konsentrasi kami untuk berpikir. Layaknya pertandingan final kompetisi para grandmaster.

Mate in five“, saya ucapkan seketika setelah langkah kesekian dilakukan untuk memastikan zugzwang yang tak terelakkan lagi, meski Lingga tidak menyadarinya. Lingga terheran-heran sambil berucap, “jangankan bertahan, mau diserang dari mana aja aku ga tau”. Tenang, saya juga tidak meminta anda untuk memikirkan bagaimana solusinya. Langkah berikutnya yang akan saya ambil, itu sangat nyata di mata saya. Akan tetapi, orang lain tidak jarang sulit untuk melihat, apalagi memahami. Tampaknya sudah terlalu sering saya mengalami hal ini, dan kali ini saya berharap tulisan saya bisa membuat pembaca mengerti, jika memang ucapan saya tidak lah lebih berarti.

*zugzwang: suatu kondisi dimana langkah apa saja yang dipilih tidak menguntungkan

Hidup itu ibarat kubus, memiliki enam sisi yang berukuran sama yakni persegi. Keenam persegi itu saling bertolak belakang, dan oleh karenanya, kita tidak bisa melihat kesemuanya sekaligus pada saat yang sama. Maksimal tiga sisi. Meski pada saat yang sama kita tidak bisa melihat tiga sisi yang lain, kita sangat yakin bahwa tiga sisi sisanya adalah persegi juga karena kita percaya dan yakin bahwa benda ini adalah kubus. Inilah prinsip dasar untuk memahami suatu konsep atau prinsip, bahwa dengan kita tahu fundamental atau kerangka dasar dari suatu benda, kita akan bisa melihat jauh bagaimana aplikasinya dalam hal-hal yang lebih kompleks. Bingung?

Andaikan keenam sisi kubus di bawah ini memiliki warna yang berbeda-beda. Merah, kuning, putih, hijau, biru dan hitam. Saat ini kita hanya bisa melihat warna hijau, biru dan merah.

Melihat

Meski sudah disebutkan keenam warnanya satu per satu, namun tetap saja sebagian orang tetap ingin melihat keenam sisinya satu per satu. Seakan-akan hendak memastikan keenam warnanya sesuai dengan yang disebutkan. Jika tidak, maka mereka akan keheranan dan sambil berkomentar kalau ini salah warna atau salah cetak.

Memahami

Bagi beberapa orang yang lain, mereka merasa tidak perlu lagi melihat ketiga warna yang lain, bahkan mungkin bukan hal aneh bila tidak melihat kubus itu sama sekali. Itu bukan semata-mata karena yakin 100% warna sisanya adalah kuning, putih dan hitam. Sekalipun sisanya bukan tiga warna itu, bukan masalah jika diganti warna yang lain. Kenapa? Karena intinya bukan pada warna apa saja, tapi pada variasi warna yang ada, di mana di setiap sisi terdapat satu jenis warna. Coba anda baca kalimat pertama tadi: “…keenam sisi memiliki warna yang berbeda-beda..”.

————————————————————————————————–

Ketika saya kuliah, banyak orang bertanya apa gunanya belajar ini dan itu. Semua ilmu yang dikomersilkan, paling tidak, pasti ada gunanya. Kalau tidak, mana mungkin bisa dijual. Tinggal pertanyaannya, apakah kita tahu cara menjual kembali ilmu-ilmu tersebut. Kali ini, saya mencoba menjelaskan dengan lebih baik menggunakan ilustrasi yang kedua. Saya namakan ini ilustrasi hati dan persegi.

Coba perhatikan gambar berikut ini.

Ada sebuah persegi besar berwarna putih. Ada sebuah persegi kecil berwarna hijau yang diisi dengan hati berwarna merah. Pertanyaannya: berapa jumlah persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan jika seluruh persegi besar tertutup rapat olehnya? Persegi kecil boleh digeser-geser sedemikian rupa, asalkan jumlah persegi hijau yang bisa didapat menjadi lebih banyak.

Saya beri anda waktu 10 detik untuk memikirkan jawabannya. Sekarang.

Kalau sudah, saya beri anda waktu 10 detik lagi untuk memikirkan ulang jawaban lain yang mungkin. Sekarang.

Mungkin ada yang menjawab “1″. Tapi saya rasa, banyak orang akan memilih angka “4″ sebagai jawaban akhir mereka. Untuk lebih jelas, coba lihat gambar ini.

Jawabannya: ada lima persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan. Keempat persegi pertama tentu sudah jelas didapatkan dari mana. Persegi kelima, didapatkan dari persegi besar yang telah berubah menjadi persegi besar nan hijau. Jangan terkecoh dengan benda-benda lain yang tidak perlu, dalam hal ini adalah gambar hati. Persegi besar tidak memiliki gambar hati secara khusus, namun yang ditanyakan adalah persegi hijau-nya, bukan yang lain. Terkadang, kita terlalu fokus pada detil, sehingga tidak menyadari hal yang lebih besar daripada itu. The bigger picture.

————————————————————————————————–

Saya yakin dari anda semua pasti sangat tahu dengan rumus ajaib ini:

1+1 = 2

Anda pasti setuju bukan? Tetapi, bagaimana dengan ini:

1+1 = 10

Anda tidak percaya?
Anda tidak ‘melihat’?
Anda butuh jawaban yang masuk akal dan logis?

Well….. , apakah anda pernah dengar bilangan biner? :P

“Blessed are those who have not seen and yet have believed”

Kaleidoskop 2009

Posted in Journal on January 1, 2010 by dplt

CLICK HERE TO READ IN ENGLISH

Sudah pukul lewat sebelas malam. Meski ini sudah masuk jamnya orang tidur, masih banyak orang berkeliaran di luar sana melakukan ritual tahunan dengan bersenjatakan terompet panjang berwarna-warni menyambut datangnya tahun baru. 2010. Ditemani biskuit Khong Guan dan segelas air putih, tulisan-tulisan ini pun dimulai perlahan-lahan.

Banyak peristiwa menarik terjadi sepanjang tahun 2009 ini. Peristiwa di luar negeri dimulai dari gejolak resesi ekonomi di Amerika Serikat (US), ketika presiden berkulit hitam pertama, Barack Hussein Obama, baru saja terpilih dan mulai menjalankan masa tugasnya hingga lima tahun ke depan. Belakangan ia baru saja memenangkan Nobel Perdamaian karena keberhasilannya mengantisipasi gejolak terorisme di negaranya. Peristiwa di dalam negeri pun juga tak kalah menarik, mulai dari kematian mahasiswa Indonesia di Nanyang Technological University hingga Pemilu 2009 yang dimenangkan SBY dan PD dengan presentase lebih dari enam puluh persen.

Jebolnya tanggul Situ Gintung benar-benar di luar dugaan. Dan sebagai gantinya, jumlah orang yang tidak sedikit pun yang menjadi korban. Peristiwa penembakan diam-diam pun turut menhiasi tahun ini dengan ditembaknya direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen dari jarak yang cukup jauh ketika sedang berada di dalam mobil. Kasus ini menjadi rentetan kejadian berantai dengan munculnya dugaan Antasari Azhar sebagai dalang pembunuhan ini.

Pergolakan pemberantasan korupsi di Indonesia juga berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Mulai dari ditahannya Antasari Azhar sebagai ketua KPK, karena diduga terlibat dalam kasus penembakan Nasrudin Zulkarnaen karena keterlibatannya dengan seorang pihak ketiga yang bernama Rhani Juliani mengangkat tema cinta segitiga dengan berasumsi bahwa Antasari menginginkan Rhani lebih lanjut.

Gejolak di KPK sendiri belum berakhir karena dua pemimpin sementara mereka, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, ditahan karena dugaan ancaman pemerasan terhadap munculnya pemain baru, Anggodo Wijaya (yang kakaknya sendiri pun sebenarnya merupakan ‘pemain lama’ yaitu Anggoro Wijaya, direktur utama PT. Masaro, yang terlibat dalam kasus suap anggota DPR dalam proses pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu – SKRT di Departemen Kehutanan). Berbagai aksi protes dan demonstrasi dengan slogan “Cicak melawan Buaya” pun menjadi topik panas dengan diangkatnya berita mengenai perseturuan antara KPK dan Polri yang dianggap menghalang-halangi KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia.

Pelbagai kejadian di atas baru terlihat lebih jelas setelah ditarik garis merah bagaimana Antasari Azhar hendak memulai pengusutannya akan pengaliran dana Bank Century. Aliran dana sekian miliar yang diduga menjadi dana kampanye SBY memberikan kejutan yang luar biasa kepada publik. Spekulasi demi spekulasi hingga berbagai pihak yang turut menerima dana tersebut menjadi sorotan semua pihak. Partai Demokrat yang menjadi ‘kendaraan’ SBY ketika memenangkan Pemilu pun juga menjadi pertanyaan besar, mengingat kemenangan mereka sungguh di luar dugaan dengan angka mutlak enam puluh persen yang mereka dapatkan.

Aliran miliar rupiah yang keluar dari Bank Century juga bukannya tanpa pertanyaan. Ironisnya, pengaliran dana tersebut terjadi setelah Bank Century mendapatkan bail out dari pemerintah Indonesia. Lalu, apakah dana bail out itu semata-mata hanya untuk mendanai kampanye SBY? Boediono dan Sri Mulyani tentu saja menjadi sasaran tembak selanjutnya karena dua figur itu lah yang menjadi pemeran penting disetujuinya bail out Bank Century.

bail out : peminjaman dana kepada suatu lembaga yang dinilai pailit untuk memperbaiki kondisi ekonomi

Belakangan, George Junus Aditjondro menulis sebuah buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century”. Buku yang baru saya dapatkan dua hari yang lalu ini, sudah saya habiskan hari ini. Satu hal yang pasti, kita harus berhati-hati ketika membaca yang menyajikan data dalam jumlah sangat besar dan kritis seperti yang ada di dalam buku itu. Jika tidak, maka itu sangat berpotensi akan penyesatan publik karena data yang tidak benar. Anda tahu buku “Da Vinci Code” karangan Dan Brown?

Kematian David Hartanto Widjaja patut kita cermati lebih lanjut. Integritas pemerintah kita dalam membela hak rakyatnya yang berada di negeri orang patut diberikan tanda tanya besar. Tidak sedikit TKI yang mengalami berbagai perlakukan kekerasan di negara tetangga. Sebaliknya, koruptor yang ‘lari’ ke negara tetangga pun seperti tak tersentuh, seakan hukum ekstradisi sudah tidak berlaku lagi di kawasan ASEAN ini. David, yang kebetulan namanya sama dengan saya, diduga melakukan aksi bunuh dengan melompat dari lantai 4 di salah satu gedung kampus NTU setelah diketahui gagal menghabisi dosennya, Chan Kap Luk, yang dinilai mempersulit skripsinya di tahun terakhir. Peristiwa kematian mahasiswa NTU lainnya sempat mengikuti peristiwa ini, meski pada akhirnya kasus ini selesai dengan keputusan bahwa David memang bunuh diri. Sebuah fakta menyesakkan memang, meski memang pernah ada kasus serupa tapi tak sama yang dilakukan oleh Seung-Hui Cho di Virginia Tech. Ironisnya, berita David ini tidak lagi terdengar gaungnya setelah dimulainya berita pemilu hingga pertengahan tahun.

Rumah Sakit Omni Tangerang menjadi bulan-bulanan media massa setelah salah satu pasiennya, Prita Mulyasari, menulis keluhannya melalui email kepada beberapa temannya. Masalah kecil ini kemudian menjadi luar biasa besar setelah ia disidangkan secara perdata mengenai pencemaran nama baik hingga ia terancam untuk mendekam di penjara. Malpraktik sebenarnya bukan lagi hal yang aneh di masyarakat kita. Hanya saja, sedikit dari kejadian tersebut yang terlihat ke permukaan.

Sinetron berjudul “Manohara” menjadi perbincangan orang banyak setelah popularitasnya melonjak tajam setelah masalah pribadi Manohara Odelia Pinot dengan Pangeran Kelantan Malaysia, Tengku Muh. Fakhry, menjadi hot topic semua siaran infotainment dalam seketika. Hebatnya, popularitasnya bahkan melebihi kasus kematian David sebelumnya.

Kasus terorisme di Indonesia sepertinya juga tidak ketinggalan ambil bagian. Kemunculan kembali ledakan bom di JW Merriott sepertinya mengenang peristiwa ledakan bom di Bali beberapa tahun silam. Kali ini, dengan rencana yang tidak kalah rapi, Noordin M. Top berhasil membuat aparat pemerintah kebakaran jenggot dengan keberhasilannya dalam merancang aksi terorisme maupun meloloskan diri dalam sekejap. Belakangan, diyakini Noordin sudah berhasil dinetralisir bersama dengan mertuanya, Baridin alias Bahrudin Latif, juga tertangkap setelah bersembunyi di daerah Garut.

Dan pada akhirnya, berita duka cita menjadi penutup tahun 2009 ini setelah dikabarkan meninggalnya Gus Dur dan Frans Seda. Gus Dur menjadi figur sentral budaya yang patut diperhitungkan dalam satu dekade terakhir ini setelah keberhasilannya membawa negeri ini keluar dari masa orde baru yang identik dengan keluarga Cendana selama lebih dari tiga dekade. Frans Seda, yang juga merupakan salah satu tokoh di masa orde baru menjabat beberapa posisi menteri pada tahun 60-an, juga patut kita ingat sebagai salah satu tokoh ekonomi yang membangun negeri ini. Selamat jalan Pak!

Akhir kata, semoga tahun 2010 ini membawa negeri kita menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga di tahun ini, impian dan keinginan kita tercapai, dan semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Happy New Year 2010!

Christmas 2009: Home Alone

Posted in Journal on December 27, 2009 by dplt

Sebelum saya mulai tulisan panjang ini, pertama-tama perkenankan saya untuk mengucapkan Selamat Natal bagi anda bila merayakannya. Semoga Natal kali ini memberikan rahmat dan berkah bagi kita semua. Amen.

Waktu menunjukkan 19.30 malam, detik-detik menjelang datangnya asupan gizi terakhir untuk hari ini. Beberapa hari ini saya selalu terbangun di siang hari, dan tentu saja itu selalu menjadi hambatan untuk ritual harian semenjak ditinggal sekeluarga balik kampung yang antara lain menggunakan media air berbusa (baca: mencuci) hingga sesajen untuk dewa matahari (baca: menjemur pakaian).

Tidak ada orang lain sama sekali, kecuali tetangga itupun kalau mereka ada, semuanya saya kerjakan sendirian. Dan memasak pun tanpa kecuali. Untuk makan pagi dan siang, biasanya buat sendiri. Sementara untuk malam, saatnya kita ber-free-style ria. Begitu juga untuk hari ini. Sudah kali keenam saya melakukan ini dalam hitungan hari. Dan malam ini, saya merasa begitu bosan karena akan melakukannya lagi dan lagi tanpa ada variasi.

Saya harus melakukannya dengan cara yang berbeda untuk malam ini, setidaknya supaya saya tidak mati kebosanan di rumah, di depan laptop setiap hari, berchat ria, buka FB, ataupun kelayapan buka forum sana sini, baca situs berita ini dan itu, tanpa bermain game sedikit pun. Kenapa tidak main game? Karena saya sedang malas main game. Rasanya ingin melakukan hal lain yang lebih berguna secara riil, dan itu lah yang saya pikirkan sekarang. We need more actions here.

Alhasil, situs cineplex yang jadi sasaran berikutnya. Dengan rencana yang cukup matang, alhasil direncanakanlah untuk nonton Sang Pemimpi di Pluit Junction pukul 21:25. Sekarang sudah pukul 20:30, dan saya harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jatah kursi di parlemen (baca: bioskop) nanti.

Di samping acara makan malam singkat sebelum mencari jatah kursi nantinya, sempat terpikir untuk mencari teman untuk menonton bareng. Maklum, nonton sendiri kurang seru sebenarnya walaupun ketika mulai menonton, rasanya tidak banyak berbeda. Tapi mengingat waktunya yang miris dan lokasi rumah dari beberapa teman yang cukup jauh, disimpulkan bahwa ini akan saya lalui sendirian. A.G.A.I.N. Enough talk, let’s move out.

Pukul 20:50, tepat sampai di lokasi dinner. Pesan nasi goreng telur siap saji, satu piring sudah cukup untuk membuat perut keroncongan ini menjadi bertenaga seketika. Tidak banyak yang diceritakan, selain langit mulai meneteskan air mata. Oh tidak. I have to move faster.

Pukul 21:10, tepat berada di depan counter pembelian tiket di Pluit Junction. Antri  antri antri. Sampai depan mbaknya, mendadak gw jadi tulalit sendiri. Walah, ada apa? Apa mbaknya cakep? Manis? Imut? Menggemaskan? Mungkin iya, tapi sayangnya bukan itu. Film yang mau saya tonton, Sang pemimpi, tidak ada di list schedulenya! Beuh, kenapa bisa begini? Inget inget inget, tadi tulisannya di parlemen (baca lagi: bioskop) mana. Memang tadi saya buka beberapa tab di firefox untuk beberapa parlemen yang berbeda yang kesemuanya berdekatan dengan lokasi tempat tinggal. Oh! Mungkin di parlemen satunya lagi. No more time, langsung aja saya ngesot ke tempat parkir untuk bermutasi dengan cepat. Keraguan sempat menyelimuti beberapa saat, apakah benar itu parlemen yang dimaksud. Sempat dicoba untuk nelpon Agnes dan Avandhy untuk minta tolong lihat di cineplex, sapa tau mereka lagi depan kompie. Tapi sayangnya, ring out. I’m on my own, baby.

Segalanya terasa begitu cepat dalam hitungan menit. Dan dalam tujuh menit, saya sudah berada di gedung parlemen yang berbeda. Sempat nyasar pula nyari tempat parkirnya. Sayang ga ada extra time kayak pas main bola. Langsung aja menuju ke XXI dan mata langsung tertuju ke layar tancap yang tertulis studio dan film yang akan diputar. Hasilnya? A.G.A.I.N. Film yang mau saya tonton tidak terdaftar. Alamak! Jangan-jangan cineplexnya boong nih. Tulisnya apa, yang diputar apa. Keringetan, cape lari sana lari sini, untuk menghibur sedikit lara maka saya memutuskan untuk menonton film apa aja yang masih mungkin, selama masih masuk genre. Dan pilihan pun jatuh pada: Bodyguards and Assassins. Kalau dilihat sepintas, rasa-rasanya film tentang jaman perjuangan revolusi Cina nih. Tapi ya lihat aja nanti, pikir saya.

Total dua jam penuh, film itu diputar. Cukup banyak adegan kekerasan di film ini, dimulai dari kepala dipelintir, aksi benda-benda tajam, hingga cipratan darah sampai ke mana-mana. Tapi satu yang pasti, film ini bisa membangkitkan semangat seseorang untuk berjuang lebih baik lagi. Film yang bagus untuk menanamkan nasionalisme akan revolusi. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Saatnya kita pulang ke rumah masing-masing.

Ketika melewati lorong pas mau keluar, sepintas tertarik dengan salah satu poster yang dipajang di situ. Filmnya kelihatannya menarik, namanya cukup populer di telinga saya, dan kalau tidak salah nama pernah disebut di salah satu game hidden object yang pernah saya mainkan. “Sherlock Holmes, detektif brilian yang dengan kemampuannya mengingat berbagai macam detil dengan menggunakan kelima panca inderanya, mampu membuat konklusi tepat yang tidak jarang memecahkan kasus yang sulit sekalipun“, begitu kurang lebih pesan sponsor yang tertulis di situ. Wow, menarik! Apalagi saya adalah tipe orang yang sangat menyukai tipikal film yang menuntut kemampuan untuk berpikir seperti ketika hendak memecahkan puzzle. Okay, what’s the plan now? Take the midnight show, baby! Bagus nak, biasakan diri kamu untuk pulang pagi setiap hari.

Durasinya tidak jauh berbeda dengan yang pertama, tapi yang jelas film yang ini lebih kena di jiwa dan raga saya ketimbang yang pertama. Menarik untuk ditonton, terutama bagi orang-orang yang menyukai plot-plot tak terduga yang ketika di akhir, segalanya menjadi jelas layaknya skenario terselubung yang sempurna. Well, saya tidak akan memberikan spoiler sendiri. Tapi yang pasti, kalau anda tertarik untuk menonton, berarti anda normal. :D

[untuk bacaan seterusnya mungkin akan memusingkan. semoga anda mengerti]

Karakter seorang Sherlock Holmes sangat jelas. Sangat brilian mengingat setiap detil kejadian, dan dapat membuat susunan skenario sempurna dari rangkaian kejadian berkaitan. He’s a perfect ISTJ. Ada beberapa ISTJ yang populer di dunia film, salah satunya adalah Spock (Star Trek) dan Hermione (Harry Potter). Hermione adalah contoh role model yang sempurna untuk seorang ISTJ, karenanya tidak heran hampir semua ISTJ adalah seorang teacher’s pet, atau anak kesayangan guru karena kehebatannya mengingat semua hal yang diajarkan. ISFJ juga sebenarnya mirip dengan ISTJ. Hanya saja, outcome dari ISFJ lebih ke living creatures sedangkan ISTJ lebih ke object or structures.

Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan saya? Yang pasti, saya tidak sehebat Sherlock Holmes dalam mengingat berbagai hal detil dalam jumlah besar. Tapi kita berdua sama dalam satu hal, punya kemampuan untuk membuat keterkaitan atau hubungan dari satu hal ke hal lainnya dengan cepat meski tidak jarang sulit dipahami oleh orang lain.

[bagian tidak dipahami sudah berakhir]

Hari ini saya bertekad untuk menonton Sang Pemimpi, setelah siang tadi baru menyadari kebodohan saya mengingat lokasi gedung parlemen yang seharusnya saya datangi. Semoga kali ini saya berhasil. I’ll let you know later about the movie.

Nantikan juga tulisan saya tentang kaleidoskop 2009 beberapa hari ke depan. I promise you it will be nice to read. :D

Kontes Benc*ng Thailand

Posted in Journal on December 16, 2009 by dplt

hari ini, saya dikejutkan oleh email seorang teman yang berisi foto-foto kontes kecantikan di thailand, dimana kesemua kontestan mengenakan pakaian bikini berwarna pink dengan tatanan rambut yang demikian indahnya. namun yang membuat saya lebih terkejut lagi ialah kontes ini dikhususkan utk war*a.

Klik gambar untuk melihat dalam ukuran penuh.

Waw, benar-benar hot. Bagi pria-pria jomblo yang sudah kehabisan akal untuk berpasangan, opsi seperti ini mungkin bisa jadi jalan keluar yang lebih baik. Mungkin suatu hari nanti, saya juga akan mencobanya bila putus asa.

Dari dulu diyakini kalau populasi wanita itu mendekati dua kali populasi pria. Hal itu dapat dimaklumi mengingat pria-pria pada jaman dulu banyak yang berguguran karena berjuang di medan perang, sementara wanita tetap mengurus anak di rumah (budaya single parent klasik).

Menjelang awal tahun 2000, perbandingan jumlah populasi antara pria dan wanita dikabarkan semakin seimbang 1:1. Hal ini diyakini wajar, mengingat dari segi biologis terbentuknya gen XX maupun XY itu sama besar yaitu 50:50.

Jika pada masa yang akan datang dikabarkan populasi pria kembali menurun, saya kira saya sudah mengerti apa penyebabnya.

Keributan yang tidak perlu

Posted in Journal on December 12, 2009 by dplt

Relokasi.

Pintu terbuka dan saya pun menginjakkan kaki langkah pertama keluar dari bus transjakarta di halte Kota. Ketika itu sudah sore menjelang malam dan seperti hari-hari biasa sudah menjadi tradisi hampir bagi semua orang untuk berlalu-lalang di area-area publik seperti itu.

Jam-jam segitu memang sudah menjadi bulan-bulanan setiap orang yang ingin segera pulang ke rumah masing-masing ataupun menuju tempat lainnya. Perhatian: semua angkutan umum penuh sesak! Tidak terkecuali bus bernomor 02 yang akan saya naiki sampai ke Muara Karang. Syukurlah saya masih mendapat tempat duduk yang layak, meski tidak sedikit yang berdiri sambil kepanasan tidak lupa berdesak-desakan untuk menemukan spacenya masing-masing. Ngetem 15 menit. Cukup lama, dan perjalanan pulang rute ini pun dimulai.

Reaksi.

Tidak jelas dimulai dengan kejadian apa. Yang jelas, teriakan cukup keras terdengar dari arah belakang. Posisi duduk saya sekitar baris ketiga dari depan, jadi cukup jauh dari bangku yang paling belakang. Saya memang tidak mendengarkan percakapan mereka dari awal, tapi rasa-rasanya saya cukup bisa menyimpulkan apa yang terjadi sebelum keributan yang tidak perlu itu dimulai.

Si kenek menegur seorang bapak-bapak, sebut saja Gino, karena dua hal. Pertama, ngotot gelantungan di pinggir pintu belakang sementara masih ada space untuk berdiri di dalam. Kedua, karena menabok kepala si kenek. Kejadian pertama mungkin masih dapat dimaklumi jika Gino memang akan turun tidak lama lagi. Tapi aksinya yang kedua, benar-benar membuat si kenek naik pitam. “Bapak saya aja ga pernah ngegituin saya”, berkali-kali diucapkan olehnya. Dia pun tidak kalah garang, sambil berkata “Gw tunggu loe di lampu merah. Ga usah pake omong loe”. Si kenek membalas, “ngomong baik-baik apa susahnya sih”. Rupa-rupanya, si Gino itu temannya si supir. Hal itu diketahui dari ucapan berikutnya, “Din, lain kali ga usah pake ini kenek. Bikin susah aja. Lain kali pake yang lain. Tau gak loe!”. Dan si supir tampak mengalah sambil memintanya memaafkan si kenek. Si kenek ngga lama ikutan minta maaf, tapi orangnya tambah sensi minta ampun.

Revisi.

Okay, titik klimaks sudah dilalui. Cukup sekian tontonan publik selama kurang lebih berdurasi 10 menit tersebut. Semua orang tampak kembali rileks, sambil menanti gilirannya untuk turun dari mobil besar berwarna biru tersebut. Entah kenapa, saya merasa ada yang janggal dari keributan tadi. Dan tidak lama, keributan yang tidak perlu (plus tidak penting) lainnya kembali terjadi. Kali ini benar-benar dimulai dari gejolak emosi yang dialami si kenek.

Si supir sudah meminta maaf, dan si kenek juga tidak lama turut demikian. Gino pun tampak mulai melembut sambil berdiam diri meski tetap dalam posisi gelantungan di pintu belakang. Entah si kenek kesambet apa, tiba-tiba dia mendatangi Gino dan bilang, “Loe pikir lo siapa sih? Main nabok kepala gw. Heran gw”. Tiga kalimat maut itu sudah lebih dari cukup memancing amarah Gino. Baku hantam nyaris terjadi jika para penumpang yang duduk di deretan belakang tidak berusaha memisahkan keduanya. Gino tetap mengucapkan kalimat-kalimat seperti sebelumnya, “gw tunggu lo di lampu merah”. Sepertinya dia sendiri mulai kehabisan kata-kata.

Remisi.

Suasana mulai mereda beberapa saat kemudian setelah para penumpang tampak awas akan kedua orang tersebut. Semua tentu mengira masalah sudah selesai karena kedua pihak (sepertinya) setuju berdamai setelah ada yang berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah kenek kembali memulai permasalahan yang seharusnya tidak perlu. Di sini saya melihat kedewasaan sang kenek benar-benar di bawah standar. Sudah tidak seharusnya dia berkata demikian, apalagi dia sendiri yang mengucapkan secara sadar kalau dia meminta maaf sebelumnya.

Penumpang demi penumpang mulai turun, dan jumlah penumpang tampak tinggal sepertiga dari awal berangkat dari Kota. Jauh lebih lega dari sebelumnya, dan tidak terlihat satu orang pun yang berdiri. Semua mendapat tempat duduknya masing-masing. Begitu juga Gino, yang duduk di deretan paling belakang bus itu.

Baik Gino maupun si kenek, tampak tidak lagi berinteraksi. Apalagi tentu Gino sudah illfeel dengan ucapan si kenek yang tidak lihat kanan kiri. Mungkin karena itu juga, ia menjadi lebih waspada dengan apa yang akan terjadi kemudian. Terlihat ia mulai berdiri dari tempat duduknya, tampaknya ia akan turun tidak lama lagi. Dan si kenek tampak mengawas-awasi gerak-geriknya sedari tadi.

Refleksi.

Bus sudah mendekati lokasi tujuan saya, dan saya pun berdiri. Berancang-ancang hendak turun, bus mulai menurunkan kecepatannya perlahan-lahan. Masih ada dua rute angkutan lagi yang harus dilalui, semoga ini tidak menjadi malam yang panjang. Cukup pelik sudah setelah kejadian sarat urat syaraf tadi menjadi santapan selama di perjalanan. Saya hanya tidak habis pikir kenapa si kenek yang sudah (terlihat) sangat tulus meminta maaf, dalam sekejap bisa mengubah argumennya seratus delapan puluh derajat tanpa lihat kiri-kanan sedikit pun. Saya jadi meragukan ketulusannya untuk meminta maaf. Salah tidaknya Gino pun, tetap saja kata-kata seperti itu akan memancing emosi orang lain. Untung saja dia (si kenek) bukan adik atau teman saya. Jika iya, maka ia sudah saya iris-iris dengan kata-kata saya yang lembut tapi membunuh.

Okay lah, mungkin si kenek dan Gino sedang dalam kondisi emosional dan keduanya hanya butuh waktu untuk berdiam diri. Jadi setelah keributan kedua tadi, harusnya masing-masing udah sama-sama introspeksi kali ya. Kalau ampe terulang ketiga kali, ya itu namanya udah terlalu amat sangat keterlaluan namanya. Yeah, manusia kadang butuh proses yang menyakitkan untuk belajar, apalagi kalau sampai harus diulang-ulangi. Dua kali sudah lebih cukup seharusnya. Bukankah begitu teman-teman? :)

Repetisi.

Tepat sesaat Gino hendak turun, si kenek mendatanginya utk kesekian kalinya, dan berkata “mau loe apa sih sebenernya? ayo jawab!!”.

Liszt Hungarian Rhapsody No. 2

Posted in Music on December 6, 2009 by dplt

It’s been a while I didn’t make a post about classical music. Having amazed by Arcadi Volodos‘ version on Liszt Hungarian Rhapsody No. 2 (S.244), I searched youtube and found Marc-André Hamelin’s version. I can’t say more. This is what I called perfect.

Phew, it seems that I’ll have quite a long way to master this artwork.