Blog post kali ini saya buka dengan sebuah pertanyaan berikut:
Apakah saya sudah melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan?
Seorang teman berinisial F beberapa waktu lalu pernah berkata kepada saya suatu ketika, “Menurut aturan kesehatan, seseorang sebaiknya istirahat 6-8 jam sehari. Katakanlah 8 jam sehari. Berarti sudah sepertiga dari jam hidup dia selama sehari“. “Iya. Lalu kenapa dengan itu?“, saya memotong. “Jadi, ketika kita berumur 60 tahun, kita sudah menghabiskan 20 tahun HANYA untuk tidur. Padahal kita selalu dinasehati untuk selalu giat untuk bekerja“, lanjutnya.
Pernyataan itu tidak salah memang. Selain secara numerik memang masuk akal, kehidupan perkotaan agaknya memang berbeda dengan masyarakat pedesaan atau pun kota kecil yang aktivitas hariannya tidak sepadat orang-orang kota yang sebagian besar adalah orang kantoran. Kerja keras nan giat tampaknya sudah menjadi harga mati bagi yang ingin bertahan hidup di kota seperti Jakarta ini.
Tapi ada pernyataan yang lebih penting dari itu sesungguhnya, bahwa kita hidup tidak HANYA untuk bekerja. Sungguh menyedihkan orang-orang yang menilai bahwa hidupnya didedikasikan hanya untuk uang dan karir, karena mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang ‘menabung’ ketidakbahagiaan mereka sendiri di kemudian hari. Sudah banyak contoh orang yang memiliki banyak uang, namun hidupnya hampa. Kosong. Uang ada. Semua kebutuhan hidup terpenuhi. Hiburan tinggal cari. Kebahagiaan? Dipertanyakan. Bagi yang tidak percaya, silakan dicoba sendiri.
Menanggapi pernyataan F, saya pun membalikkan itu dengan bertanya, “Jadi, kalau kita lebih sedikit beristirahat, kita bisa punya lebih banyak waktu untuk bekerja?“. “Tentu saja, kalau ngga, ngapain coba. Toh hidupnya sudah didedikasikan buat bekerja“, terangnya. “Dari pertama saja sudah salah arah, hidupnya didedikasikan buat bekerja. Selanjutnya tidak mengherankan kalau jadi berantakan“, kata saya. “Maksudnya berantakan?“, tanya si F. Saya kembali melanjutkan, “Maksud saya sudah jelas. Semakin sedikit kita istirahat, bukan malah lebih banyak kerja, tetapi justru lebih besar kemungkinan untuk sakit. Kita setiap hari semakin tua, berapa lama kita bisa bertahan untuk kerja banting tulang?“.
Saya sudah memikirkan tentang hal-hal ini semenjak jauh-jauh hari. Aktivitas saya ketika berorganisasi semasa kuliah, banyak memberikan hasil simulasi yang realistis tentang apa yang terjadi dengan saya menjadi seorang workaholic. Mulai dari sering bolos kuliah, kurang memperhatikan keluarga sampai berpacaran pun selalu putus sambung. Sebaliknya, karir saya meroket. Reputasi yang saya peroleh memang luar biasa, namun pada akhirnya saya merasa tidak ada hal yang bisa saya banggakan dengan itu semua.
Selepas masa kuliah, mulailah salah menjajaki dunia kerja yang terkenal keras dan kejam. Banyak hal yang berubah selepas saya lulus, terutama dari segi kepribadian. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa aktivitas masa-masa saya kuliah selama empat tahun sebenarnya sudah saya proyeksikan sedari awal-awal sebelum masuk kuliah. Pelbagai rencana sudah disiapkan, dan beragam target sudah terpampang. Meski di tahun kedua sempat diselingi kesibukan terlibat dengan ajakan orang tua untuk berbisnis, namun karir organisasi saya terus berlanjut bahkan sampai ke level tertinggi. Memang, saya sempat cukup diperhitungkan ketika cukup aktif berpartisipasi beberapa lomba pemrograman di kampus. Namun sayangnya, ini sama sekali tidak termasuk dalam rencana saya di awal tadi. Sehingga yang satu ini pun, tidak saya tekuni dengan serius meski saya sangat antusias untuk terus belajar.
Kita hidup untuk suatu tujuan. Dan perlahan-lahan, saya mulai paham akan hal itu. Suatu tujuan yang bisa jadi berbeda untuk setiap orang. Ada berbagai pendekatan yang dipakai oleh orang-orang pada umumnya demi memahami tujuannya untuk hidup di dunia ini, mulai dari sisi psikologis, sains, hingga religius. Agaknya sulit untuk mendefinisikan ‘tujuan’ ini sendiri, karena kita tidak tahu masa depan akan berbentuk seperti apa.
Belasan buku sudah saya habiskan demi mencari ‘tujuan’ itu. Berdasarkan apa yang saya pahami, tujuan kita pada akhirnya tidak selalu yang kita harapkan. Entah kita akan menjadi seperti apa di masa tua nanti, yang pasti itu semua masih misteri. Jadi masuk akal saja bila dibilang tadi: ‘tidak selalu kita harapkan’. Namun, hal yang menggelitik di sini adalah: jika tujuan akhir itu bisa jadi tidak selalu yang kita harapkan, lalu bagaimana kita bisa menentukan tujuan itu sendiri sementara kita tidak tahu masa depan itu seperti apa? Ini pertanyaan yang sulit memang.
Saya berpikir, berpikir dan berpikir. Mulai dari faktor A, B, C, D, E, hingga Z pun menjadi bahan pertimbangan. Apa sesungguhnya tujuan saya hidup di dunia ini? Apakah semata-mata hanya untuk mati? Hal ini mungkin masih bisa diterima, jika seorang bayi yang masih dalam kandungan atau baru lahir, tidak lama kemudian sudah mengakhiri hidupnya. Namun, bagi kita yang bisa hidup layaknya manusia normal, agaknya ada hal lainnya yang harus kita pertimbangkan. Tidak hanya sekedar mati. Apalagi materi. Pernahkah juga anda memikirkan hal ini? Hal yang kelihatannya sederhana, tapi sesungguhnyalah hal ini sangat amat rumit untuk dibahas.
Berbicara tentang kematian, hal ini pun sebenarnya merupakan misteri bagi semua orang. Berbagai opini dilontarkan, berbagai keyakinan dipublikasikan mengenai apa itu mati, kematian dan hidup setelah mati. Kalimat pertama paragraf ini sudah jelas, “..Berbicara tentang kematian..” bahwa hanya orang yang sudah mati lah yang bisa berbicara tentang kematian karena mereka sudah mengalami. Namun orang mati tidak dapat berbicara, meski ada yang mempercayainya dalam rupa roh. Mereka semua yang berpendapat ini dan itu, semuanya adalah spekulasi apa adanya. Sekalipun salah satunya ada yang benar, itu kembali ke bagaimana kita mau menerima dan mempercayainya. Dalam hal ini adalah iman. Bagi saya, semua orang pasti mati. Jadi kita tidak perlu gusar tentang itu, karena tiap orang pasti melaluinya. Kecuali ada kemungkinan antara mati atau tidak mati, barulah kita boleh gusar akan hasil akhirnya. Seperti ibarat dua sisi koin yang peluangnya sama, fifty-fifty.
Jadi sebenarnya, apa arti dari semua ini? Apakah hidup ini memang harus sebegitu kompleksnya sampai harus membuat kita sakit kepala ketika memikirkannya?
Beberapa waktu lalu, saya menonton sebuah film berjudul Sang Pemimpi, seri kedua lanjutan dari Laskar Pelangi. Seorang pemuda tanggung bernama Arai, salah satu pemeran utamanya, sedang berbicara kepada temannya bernama Haikal, “Orang kecil macam kita pasti mati kalau tak punya mimpi“. Ucapan Arai pada awalnya saya anggap sambil lalu karena di film yang berjudul Sang Pemimpi ini menjadi sangat jelas bahwa itu menunjuk kepada si Arai yang kaya dengan mimpi dan visi. Ibarat The Half-Blood Prince yang merujuk kepada Severus Snape, merujuk pada novel keenam Harry Potter. Beberapa hari berikutnya, kedua mata saya baru terbuka tentang makna dari mimpi yang dia maksud. Ya, sepertinya saya mulai paham sekarang.
Mimpi bukan berarti khayalan atau bunga tidur yang kita alami ketika sedang tertidur lelap. ‘Mimpi’ sesungguhnya adalah hal yang ingin kita capai dalam hidup. Hal yang begitu ingin dan yakin untuk kita perjuangkan dalam hidup demi mendapatkannya. Hal yang tentu saja membuat kita bahagia ketika mencapainya.
Ketiga anak dari Belitong itu bermimpi bahwa mereka ingin berkeliling dunia. Sepintas memang terlihat seperti orang gila, namun mereka memberi bukti dengan usaha mereka untuk mencapai itu. Sekali pun kita harus gagal, namun kita akan terus berusaha untuk mendapatkannya karena tujuan dari bermimpi itu sendiri ialah menyemangati kita untuk lebih hidup. Di sini lah pemahaman yang sesungguhnya. Tidak ada hal yang luar biasa dalam hidup secara nyata, namun kita lah yang merasakannya luar biasa. Kita masih bisa hidup tanpa makanan, tapi kita takkan bisa hidup tanpa semangat.
Sebagai contoh, seorang ayah yang bekerja keras menghidupi keluarganya. Meski bekerja keras tadi sudah disinggung di awal bahwa juga harus dibatasi, namun sang ayah merasa yakin berkorban untuk bekerja lebih keras lagi karena ia merasa ada hal yang lebih berharga yang ia perjuangkan. Yakni kesejahteraan keluarganya.
Kata kunci dari semua ini sebenarnya sederhana, kebahagiaan. Saya tidak akan membahas definisi dari kata ‘kebahagiaan’ entah itu merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau kamus yang lain karena kita memasuki area yang agak irasional di sini.
Apa arti kebahagiaan bagimu? Kejarlah dan lakukanlah itu sesuai keinginanmu.
Melakukan sesuai keinginan kita, bukan berarti bisa sesuka kita. Dengan kita merugikan orang lain, itu pasti akan berdampak lebih lanjut. Dan bukankah itu bisa mengancam kebahagiaan hidup kita? So do it for the good of yourself and the people.
This may seem difficult to consider, but let’s start with the first question. What brings happiness to you? Do you love your life? You are old enough to understand your own life. Just give it a little more time to think. It’s your life, not others. So it’s you yourself who can really really understand your happiness. Not me, him, her or someone else.
Kejar impianmu, raih cita-citamu, capai kebahagianmu.
Hendaklah hidupmu berharga untuk orang lain, karena itulah inti dari kebahagiaan sejati.
Semoga Tuhan memberkati.