Hey, it’s been a while. Post terakhir tgl 24 mei tampaknya sudah mulai berjamur dan perlu diregenerasi dengan menabur spora yang baru
. Ini adalah kisah yang terjadi kemarin Jumat tanggal 14 Agustus 2009, yang intinya kejadian bahagia dan sedih datang silih berganti. Ga ketemu judul yang lebih tepat, jadi mohon maap kalo terlalu abstrak.
Cabut dari kantor jam 5an, dan berencana nonton G. I. Joe sama Alex di Semanggi. Karena berangkatnya udah telat dan ga bisa ngejer yang jam 5.30pm, maka kita memutuskan untuk nonton yang jam 6.45pm. Abis beli tiket, kita sempet makan dulu di foodcourt sebelum masuk ke studio 1.
The movie was great. Amazing visual effect with not-so-deep storyline if I might say. The artwork is terrific and I enjoyed the show very much. A bit better than Transformers 2 I think. Two hours were spent with so many excitement while watching. Gw ga akan membahas storylinenya di sini, because it means I’m spoiling
. Intinya, G. I. Joe adalah special forces yang berisi prajurit terpilih dengan perangkat persenjataan yang luar biasa modern. Sementara oposisinya adalah sebuah perusahaan penyedia persenjataan, MARS, yang tertangkap menjual senjata kepada kedua belah pihak. Bisa dibayangkan gimana dilemmanya. Pakai senjata buat ngelawan yang bikin senjata itu.
Jam menunjukkan pukul 9pm dan itu saatnya untuk pulang. Dan tentu saja, halte busway BenHil (Bendungan Hilir) jadi sasaran berikutnya. Sepintas liat kok ramenya minta ampun yang ngantre ke arah Harmoni. Mikir mikir mikir. Oke lah, gw ambil bus dengan arah berlawanan (ke Blok M) sebelum ngantri lagi buat yang ke arah Harmoni. Untuk ngeskip antrian maksudnya. Yeah. Sometimes to think effectively is to think conversely (artinya, kadang untuk berpikir efektif, kita harus berpikir terbalik). Turun di halte Bundaran Senayan dan kembali mengantri bus ke arah Harmoni. Untunglah antriannya ga sepadet di Benhil. Eh, taunya lama juga itu bus datengnya. Cape juga deh jadinya. Tapi gpp lah. At least, ngga ada aksi tarik dorong geser kiri kanan yang suka melibatkan body contact ==”.
Sebenernya tujuannya bukan Harmoni, tapi Kota. Tapi itu searah memang, jadi ga perlu ganti bus. Keep sitting and waiting. Sambil nengok kiri-kanan mencari obyek yang enak untuk dilihat. Bisa bangunan, bisa makanan atau bahkan bisa lawan jenis. Sekedar lirik dan lihat masih fine lah menurut gw, kalo udah ngedatengin dan make a topic, that’s a different case. Asal ngeliriknya dalam batas kewajaran yang dapat dipertanggungjawabkan
. Kadang suka ga sadar ada temen dlm satu bus karena minimnya line of sight kedua mata ini, tertutup oleh daging-daging besar lainnya. Yah, lumayan lah buat ngobrol, daripada diem ga jelas. Eh, beneran aja. Ada kejadian menarik pas bus mendekati halte harmoni. I think that was somekind of accident between a car and a motorcycle. Spontan, jadi tontonan massal dah. But that entertained us only for few seconds before we left the place. Not really a serious one sih, tapi sorot lampu mobil polisi yang ada di situ cukup membuat hati penasaran untuk mencari tahu.
Sampai juga di Halte kota, dan target selanjutnya ada metromini 02 yang berwarna biru, agak gelap dan sedikit kusam (karena jarang dicuci mgkn
). Ngetemnya cukup lama ternyata, around 10 mins. Waktu menunjukkan pukul 9.30pm. Still a long way to go, so I decided to sleep. Nyaman banget tidur ampe lupa diri kalo di sebelah udah ada orang lain yang duduk. Dengan mata yang semakin berat dan kepala yang rasa-rasa cukup sulit untuk dikendalikan, tidur pun tak tertahankan. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa itu adalah saat indah terakhir sebelum masalah yang cukup serius muncul setelah turun dari itu bus.
Turun dari metromini 02, sampai di Muara Karang. Waktu menunjukkan pukul 10.05pm. Kalau udah di atas jam 7.30pm, omprengan terakhir udah tidak berkeliaran lagi. Jadi otomatis pilihan jatuh pada ojek atau taksi. Karena keduanya tidak berbeda jauh dari segi biaya, maka biasanya taksi yang menjadi pilihan utama. Terlintas di pikiran pas di rumah kayaknya bakal bosen selain ditemani laptop untuk BBF (browsing + buka facebook), dan angin sejuk yang berhembus dari Air Conditioner bermerek Crystal. Alhasil, diputuskanlah untuk mampir dulu ke mini market terdekat untuk membeli seperangkat minuman soda dan penyegar panas dalam untuk keperluan di kemudian hari. Pilih pilih pilih, kemudian bergerak mendekati koordinat meja kasir terdekat sambil memulai untuk membuka-buka dompet yang mulai tebal karena kertas-kertas putih entah itu bon, bukti ATM, atau surat ga jelas lainnya. Dilihat dilihat dilihat, weks. Kok cuma segini duit yang tersisa? Wew. That’s not enough for the taxi, of course. Dan target selanjutnya tentu saja saudara-saudara sudah bisa menebak. Mesin seukuran mini kulkas bernilai sangat berharga yang namanya terdiri dari tiga huruf. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30pm. Oh my, I wanna go home ASAP.
15 mins were spent to go to the nearest that-3-letter-named-machine. Di situ kebetulan kantor cabangnya bank dari mesin terkait, dan kebetulan agak banyak mesin yang tersedia. 5 buah buat tarik tunai dan 1 buah buat non-tunai. Ketika itu untungnya agak sepi, dan mulailah gw memberanikan diri untuk mendekati mesin yang jika dihitung dari kiri berarti nomor 4. Yes, I’m on it baby!
. Put the card inside and here we go.
“Please enter your PIN”, itu yang tertulis di layar dengan background biru mesin tersebut. Karena udah biasa menekan tombol dengan cepat dan bahkan lebih cepat daripada layar menampilkan karakter ‘*’, maka mata pun sudah tidak perlu lagi melihat ke arah pencetannya. Pas udah selesai pencet PIN, lho kok cuma lima ‘*’ yang muncul? Oh no, digit ke2 rupanya tidak terinput dengan baik. Well, okay. Setidaknya kalo salah pertama, masih bisa dilanjutkan sebelum eksekusi transaksi pas terakhir. Pilih tunai dan masukkin angka, dan tinggal tunggu lembaran-lembaran kertas akan muncul secara ajaib dari tempatnya. But wait, tadi kan PIN nya salah dan bener aja, disuruh input lagi. Tapi kali ini ditambahkan sebuah string yang berbunyi, “Salah PIN 3x maka kartu akan terblokir”. Yes, I know that. Better be careful this time. Tombol pertama ditekan, muncul simbol ‘*’. Tombol kedua ditekan, simbol ‘*’ tidak muncul. Wew??? Is this somekind of joke? Tombol itu kembali ditekan tapi kali ini dengan lebih keras. Kok masih blum muncul juga, heh? Apa perlu pake digebuk kayak pas dulu jamannya main ding dong? Dan benar saja, ga bisa muncul. Feeling mendadak ga enak, dan akhirnya tombol ‘Cancel’ yang dipilih. Masih ada mesin nganggur di sebelah kiri, dan saatnya mencoba peruntungan di mesin yang berbeda.
Enter the card and insert the PIN again. Like before, PIN dimasukkan dengan cepat, dan layar selanjutnya muncul. Pilih Tunai dan masukkan angka. Lalu pilih OK. Tapi tunggu, kok tiba-tiba muncul tulisan begini, “Salah PIN 3x maka kartu akan terblokir”. Wew?? Tadi salah pencet sepertinya. Padahal udah bener 6 char. Kalau kurang satu, harusnya cuma 5 ‘*’ yang muncul. Okay, sometimes shit happens. And this is the time! Feeling parno ga keruan, I decided to cancel it and move the left again. Maksudnya mesin yang sebelah kirinya lagi.
Enter the card and the PIN. Okay, this time is fine I think. Karena tombol demi tombol ditekan dengan seksama. Ga lucu neh kalo sampai salah 3x. Pilih tarik tunai, masukkan angka dan pilih OK. Suddenly, kalimat-kalimat ajib berikut muncul di layar biru itu mesin: “Mohon maaf, transaksi yang anda lakukan untuk sementara waktu tidak dapat diproses”. Wew??? Oh no….. masa iya ga bisa pulang gara-gara beginian. Mesin nomor 1 dari kiri kebetulan dipakai oleh seorang ibu-ibu. Karena penasaran, akhirnya memutuskan bertanya lebih lanjut, “Bu, lagi ga bisa tarik tunai ya? Kok saya dari tadi ngehang terus (padahal baru 1x)”. Si Ibu menjawab, “Bisa kok. Saya barusan malah abis narik tunai berkali-kali (di mesin nomor 1)”. Karena penasaran, akhirnya opsi terakhir, mesin nomor 2 pun dicoba. Enter the card and the PIN. Pilih tarik tunai and enter the amount. But again, “Mohon maaf, transaksi yang anda lakukan untuk sementara waktu tidak dapat diproses”. OMG. Hati ini rasanya kecewa, remuk redam, tak dapat berkata-kata. Kartu ATM sepertinya terblokir dan, intinya adalah I can’t go home. Masa iya harus jalan kaki sepanjang sekian kilometer dengan kedua kaki yang udah mulai karatan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 pm, dan orang-orang di rumah pasti udah pada tidur. Jadi rasanya kurang etis kalo ngebangunin cuma buat jemput aja. Keluar dari ruang mesin-mesin tadi, dan di luar merenung sambil memikirkan rencana selanjutnya bagaimana.
=========
Dulu ada cukup banyak satpam yang kerja di kompleks perumahan tempat gw tinggal. Tapi lambat laun, orangnya berganti-ganti dan alhasil banyak orang baru bermunculan. Tiap hari biasanya jalan kaki, dan setidaknya sempet lah untuk chat dengan satpam-satpam yang ditemui sepanjang jalan menuju rumah pas udah di dalam kompleks. Cukup banyak yang kenal baik, mgkn karena sama-sama bicara berkomunikasi dalam bahasa Jawa jadinya lebih elegan gitu
. Mereka yang keluar juga bukan berarti berganti profesi, tapi banyakan dihire untuk ngejaga rumah (bukan kompleks lagi), kompleks perumahan lain atau malah tempat lain seperti rumah sakit, apotik, dll. Kebetulan tempatnya ga begitu jauh dari ini kompleks. Ya setidaknya kadang masih suka ketemu, walaupun orangnya udah ga jadi satpam di kompleks perumahan gw sekarang. Jadwal jaganya juga beragam. Ada yang dari pagi ke sore, sore ke pagi atau tengah malam sampai malam lagi. Tergantung tempat tentunya. Namun ada 1 orang yang kadang suka ketemu kalo pas lagi berangkat kerja, karena tempat dia jaga (apotik) letaknya ga jauh dari angkutan pertama yang gw naikin. Kadang suka mampir juga ke apotiknya buat beli obat, dan sempet chit chat aja.
Di situ, dia katanya jaga dari pagi ampe tengah malem. Terus besoknya diganti orang lain. Seminggu libur 3 hari katanya. Rumahnya sih cukup jauh, di Bogor sana. Tapi ya namanya hidup di Jakarta memang butuh perjuangan. Jangankan yang minim kemampuan, yang lulusan S1 pun ga sedikit yang nganggur. Kerja apa aja gpp yang penting halal. Dan yg paling penting, bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarga. Oh ya, dia biasanya pake motor buat pulang pergi karena kalo angkutan umum suka ga ada kalo tengah malem. Iya memang, dan itu lah terjadi ama gw sekarang.
======
Pukul 10.50pm, dan masih belum ketemu solusi. Mau naik taksi, duit ga cukup. Mau naik ojek, sama aja ga beda jauh ama taksi soalnya dari segi biaya. Mau nelpon orang rumah, ga enak udah pada tidur. I don’t wanna disturb them. Well, ya udah deh kalo gitu. Jalan kaki! Sayang ga ada headband waktu itu, kalo ga kan jadi makin semangat apalagi ini lagi detik-detik menjelang kemerdekaan. Semangat 45 jadinya.
. Berdasarkan perhitungan kasar yang tidak jelas referensinya, waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam kalo tidak berhenti. Atau mungkin 1.5 jam kalo berlari. I prefer to walk than run. Sepanjang jalan bergumam, “It’s so close, but yet so far”. Sebagai pembanding aja, kalo naik taksi butuh waktu sekitar 15 menit-an paling. Yang penting sih orang rumah ga cemas karena belum pulang. Itu terlihat dari ga ada misscall yang bersarang di HP. Dalam hati sih masih berharap ada solusi yang lebih baik, tapi kalo memang ini jalan satu-satunya ya sutra lah. Don’t worry, I can handle this. Just like most problems I had in the past. I believe He will help me and always do. And I have nothing to worry about.
Waktu menunjukkan pukul 11.15pm, dan masih berjuang menapaki jalan beraspal yang begitu sepi. Yeah, dinginnya udara dalam kesunyian malam begitu menusuk sampai ke tulang. Hari ini berencana ga bawa jaket soalnya. Males aja, bawa banyak barang dari rumah. Tas berisi laptop, charger HP, dll cukup membuat bahu ini berteriak minta tolong. Hari ini benar-benar menapaki jalan penuh kenangan. Sambil mencari lagu yang pas untuk didendangkan sambil berjalan, tiba2 dari jalan yg arah berlawanan, ada sesosok yang rasa-rasanya dikenal dan mengklakson cukup kencang. Kenal ga kenal yang penting kasih tangan dulu, ya kan. Eh, taunya dia muter balik dan menghampiri gw. Dalam hati bertanya, ’sapa ni orang?’. Spontan sih penasaran, tapi selama bukan tante-tante yang datengin, ga masalah lah.
“Mau ke mana mas? Udh tengah malem gini masih belum pulang”, kata orang itu sambil ngelepas helmnya yang usually dipakai oleh para pembalap motorcross. “Saya baru mau pulang. Tadi abis keluyuran, biasalah. Jumat malam. Haha”. Rupanya dia adalah satpam si penjaga apotik yang ga jauh dari kompleks rumah. Dia pun bertanya lagi, “Lah, kenapa ga minta dijemput aja? Kan biasanya gitu kalo udah kelewat malam”. Gw jawab lagi, “Iya, tapi ini kan udah terlalu malam. Ga enak aja ngeganggu orang tidur sih. Mau naik taksi tapi ga ada, jadinya ya jalan kaki”. Diskusi kemudian berlanjut dalam bahasa Jawa, tapi ditulis pakai Indo supaya pembaca tidak bingung. Dia jawab lagi, “Oh gitu ya. Ya udah, saya antar pulang dulu sini daripada nanti tambah kemalaman”. Biasa lah karena kebiasaan ga enak jadi gw jawab, “Oh ga usah pak. Saya bisa jalan sendiri kok. Masih punya 2 kaki ini”. Kita berdua pun tertawa keras, sambil dalam hati berpikir ngapain juga ngomong gitu. Udah bagus ada yang mau nganter, ditinggal beneran baru tau rasa. Emang enak jalan kaki 2 jam??? “Gpp mas, saya anter dulu aja. Deket ini kok. Tinggal nge-gas doang ini. Haha”. Dan akhirnya pulang dengan selamat sampai di rumah. Tarikan 80km/jam cukup membuat gw kehilangan rasa kantuk, dan dalam sesaat sudah berada di depan rumah.
Waktu menunjukkan pukul 11.45 pm dan sudah berada di kamar tercinta. Wow. that was a miracle. And I am so grateful to Him for that. These last several months, I have been given a lot of great things in my life. In the past, I was a person who believed that I can do it all alone. Until one day, I presenced that nothing I could do to help my self. You have to believe that you will make it through. It’s not about how you are going to get through it (i.e. walking or getting a ride) but rather how you believe that you will get through it. And it’s called Faith.