Archive for August, 2009

Lost In Space (mod.)

Posted in Lyrics on August 27, 2009 by dplt

Sometimes I get tired of this me first attitude
You are the one thing that keeps me smiling
That’s why I’m always wishing hard for you

Cause your life shines so bright
I don’t feel no solitude
You are my first star at night
I would be lost in space without you

And I will never lose my faith in you
How will I ever get to heaven without you

Feels just so fine
When we touch the sky me and you
This is my idea of heaven
Why can’t it always be so good

But it’s alright, I know you are out there
Doing what you have got to do
You are my soul satellite
I would be lost in space without you

And I will never lose my faith in you
And I will never lose my faith in you, ever

A Flower Fairy Christmas

Posted in Journal on August 22, 2009 by dplt

Hari Natal hampir tiba. Para Flower Fairies sibuk mempersiapkan pesta kejutan untuk Peri Pohon Natal. Yuk, berrgembira bersama mereka dalam pesta paling meriah sepanjang tahun!

==================================================

Para Flower Fairies sangat menyukai Natal. Bagi beberapa di antara mereka, Natal merupakan saat paling sibuk dalam setahun! Holly kelihatannya ada di mana-mana! Ia ingin semua bergembira.

“Aku punya ide bagus” katanya. “Ayo kita adakan pesta kejutan untuk Peri Pohon Natal! Dia punya begitu banyak tugas di musim perayaan ini.”

Peri-peri muda itu bersemangat sekali dan langsung merencanakan pesta. Holly mengirimkan undangan-undangan yang indah kepada semua peri, berbunyi sebagai berikut:

Peri-peri yang baik,
Selamat Natal!

Datang yuk ke pesta Natal kita, pada Malam Natal di samping pohon Natal. Bawa sesuatu yang dapat dinikmati sama-sama, ya.

Salam sayang dari Holly

nb: Jangan bilang-bilang Peri Pohon Natal. Ini pesta kejutan buat dia!”


“Ayo kita buat hiasan Natal untuk pesta!” kata si mungil Winter Jasmine.

“Bungan-bunga kuningku tampak seperti binatang yang bersinar-sinar.”
“Tandan-tandan bungaku akan menjadi perada keemasan bagi phon Natal!” tambah Hazel Catkin.

Pohon Cemara membawa buah-buahnya untuk dicat dan ditaburi dengan debu peri. Heather membawa pita yang terbuat dari rangkaian buah berry warna-warni. Beberapa peri menyiapkan makanan dan minuman yang lezat untuk pesta itu.

“Aku akan membuat jus berry yang sedap!” kata Blackberry.

“Aku akan membawa pai biji mallow yang enak, ” sambung Mallow.

“Apel panggang akan merupakan hidangan istimewa!” tukas Crab-apple.

“Dan aku akan membawa mangkukku untuk wadah jus blackberry!” timpal Acorn.

“Ayo berlatih memainkan musik Natal!” usul si dkecil Winter Aconite. “Aku jadi dirigennya!” Dengarkan bunyi biji-bijian ini, “Kecrek! Kecrek!”

Biji-biji poppy berdesir halus, “Shhh! Shhh!”

Bunga trompet berbunyi nyaring, “Tet! Tet!”.

Lonceng-lonceng Natal berdenting, “Ding-a-ling!”

Peri-peri itu memainkan lagu-lagu Natal. Nadanya begitu riang sehingga semua mulai menari.

Sekarang Malam Natal. Waktunya untuk berpesta. Para Flower Fairies menangkap cahaya bulan dan sinar bintang untuk menyalakan lentera mereka.

“Kita hampir sampai!” seru Burdock. “Aku sudah tak sabar!”

“Ssssttt!” tegur Cotton-Grass. “Ayo kita terbang pelan-pelan dan bikin kejutan untuk Peri Pohon Natal!”

“Selamat Natal” seru peri-peri itu, menyapa sahabat mereka yang berdiri di atas pohon Natal.

“Lihat apa yang kami bawa!”

Dengan wajah berseri-seri, peri-peri itu menyerahkan hiasan dan makanan yang mereka bawa kepada Peri Pohon Natal.

“Terima kasih! Terima kasih!” seru Peri Pohon Natal.

Ketika sudah dihias, pohon Natal tampak sangat indah. Semua peri menari mengelilinginya dan mulai menyanyi.

“Selamat Hari Natal!
Selamat Hari Natal!
Selamat Hari Natal!
Dan Tahun Baru!”

Selamat Natal untukmu juga, dari sahabatmu para Flower Fairies.

====================================================

My little 6-year-old sis, Bella Josephine, told me about the story this morning and I was so amazed by watching how she presented the story. I felt like I was in a different world, where lots of fairies and happiness lie in there. Just like in the world of fairy tales. I have never taught her how to tell stories, but she indeed taught me how to do it. And that was awesome. Thanks, little sis.

He’s Just Not That Into You

Posted in Romance on August 21, 2009 by dplt

Judul tersebut diambil dari sebuah buku motivasi (self-improvement book) membahas masalah relasi dalam percintaan yang ditulis oleh Greg Behrendt dan Liz Tuccillo, serta dipublikasikan oleh Simon Spotlight Entertainment. Buku keluaran tahun 2004 tersebut sempat menjadi best-seller versi New York Times dan bahkan kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2009 ini. Pertama kali tau ttg ini buku dari blog seorang teman baik, yang kebetulan membahas masalah percintaan yang sedang dia alami. Buku yang tebalnya sekitar 40-an halaman ini (versi Inggris) banyak bercerita mengenai kehidupan para wanita menghadapi kelakuan para pria yang cenderung acak dan mengacak-acak kehidupan pribadi mereka. Dan itu yang terjadi pada seorang teman wanita yang curhat pagi hari ini via YM tentang apa yang baru saja dia alami ketika dalam perjalanan ke kantor. And here is the story.

Seperti hari-hari biasanya seorang perempuan, sebut saja A, berangkat dari rumahnya ke kantor via kereta yang biasa ia naiki pukul 7.30am. Normally, the trip is around 1 hour dan itu berarti waktu yang cukup lama buat dia untuk, let say, tidur di kereta. Tapi hari itu berbeda dari yang lain, dia ketemu dengan seorang pria yang, let say, attractive enough for her to make a topic. Tidak dijelaskan siapa yang lebih dulu memulai drama romantika tersebut, tapi yang jelas keduanya terlihat cukup akrab berdiskusi meski dalam waktu yang begitu singkat. Dan tentu saja, tidak terasa mereka sudah sampai di stasiun tujuan. Dan itu berarti saatnya mulai berjalan kaki menuju kantor. :D . Kebetulan, kantor si pria letaknya sedikit lebih jauh, tapi untungnya masih satu jalan. Dan A pun mencoba memaksimalkan kesempatan ini untuk keep the conversation selama mungkin. Singkat cerita, bagaikan disambar geledek di pagi hari, tiba-tiba muncul wanita berjilbab (sebut saja B) yang mendadak menempatkan diri di titik strategis (titik tengah) diantara keduanya. Spontan tentu saja A kaget, kok ga sopan amat tiba-tiba muncul dan nyelonong gitu aja. Tp A tetep mencoba bersabar dan berharap diskusi tadi tidak terputus di tengah jalan. Harap harap cemas ceritanya. But, well well well. Tidak lama setelah itu, hal mengejutkan lainnya terjadi. Ibarat disambar geledek kedua kalinya, sang pria tiba-tiba memutuskan untuk jalan berdua dengan si B tanpa mengucapkan farewell sedikit pun dengan A. Pahit memang, tapi seperti itulah rupanya cinta sengsara atau yang juga disebut bertepuk sebelah tangan. Ia pun bertanya mengapa mengapa dan mengapa. Tapi sebatas ingatan A, si pria tidak memakai atribut yang mengisyaratkan bahwa ia sudah berpasangan, seperti cincin, dsj. Mengingat rupanya yang lumayan rupawan, si A pun tetap mencoba untuk mempertimbangkan. Cerpen pun diakhiri dengan pertanyaan dari A mengenai opini pribadi gw ttg kejadian itu. Dan satu jawaban yang langsung terlintas di pikiran gw buat dia, he’s just not that into you (artinya: dia tidak benar-benar tertarik padamu)

Ternyata banyak juga wanita yang mengalami hal yang serupa, dan dalam hal ini, wanita yang dimaksud adalah teman-teman di sekitar saya. Mereka umumnya masih single dan belum pernah berpacaran. Or let say, once or twice lah. Ya intinya masih meraba kanan kiri sana sini. Dan kebanyakan dari mereka itu seperti takut jatuh cinta (karena takut patah hati maybe). Patah hati memang sakitnya bukan main, tapi itu bukanlah hal yang harus dihindari melainkan proses pendewasaan yang ada baiknya dilalui. Kerelaan berkorban menjadi salah satu faktor penentu besarnya rasa cinta kita kepada seseorang. Seperti halnya kita belajar untuk materi ujian, belajar untuk mencintai juga butuh proses dan waktu. Tidak bisa instan, yang mendadak bertemu pasangan ideal dan langsung saling mencintai secara total. Satu kenyataan yang ternyata tidak disadari oleh banyak orang bahwa tidak semua orang itu mengerti bagaimana mencintai orang lain. Cinta itu selfless. Dan selama kita masih lebih memikirkan kebutuhan kita sendiri instead of others, maka akan sangat mungkin bagi kita untuk menghadapi berbagai halangan untuk membangun suatu relasi yang intim. Believe it.

Berbicara mengenai bagaimana sebaiknya wanita membangun personal relationship, ada beberapa tips yang bisa digunakan dimulai dari yang paling sederhana yaitu perbedaan mendasar karakteristik antara pria dan wanita. Naturally, men are to dominate and women are to protect. Atas dasar itulah, para wanita sangat tidak dianjurkan untuk ‘mencari-cari’ ke sana ke mari layaknya mencari kerja. So what they should do is actually to wait, see and decide. But not to pursue. Mengapa demikian? Ketika kita bicara relationship, suatu hari nanti kita akan bicara marriage (kecuali anda tidak berencana utk menikah one day). Dan dalam suatu marriage, wanita adalah pihak yang paling potensial untuk dirugikan dalam berbagai kasus, mulai dari perselingkuhan, perceraian (bahkan ketika hamil), poligami, kekerasan dalam rumah tangga sampai rebutan anak di meja hijau. Come on girls, belajarlah dari kenyataan! I hate to say this but men are basically naughty bast*rds who learn to become a better man from time to time. Oleh karena itulah, carilah orang yang benar-benar mencintai anda. Buka mata, buka telinga, bukan hanya buka mulut :P .

Menunggu dan menunggu itu kedengarannya pasif, tapi sebenarnya ada hal lain yang bisa dilakukan untuk membuat para pria tertarik, seperti make up. Bagi yang expert, biasanya mereka bisa modify personality. Jadi more friendly or funny misalnya. Attract sih boleh-boleh aja tapi intinya tetap sama, not to pursue but let them to start first. Seorang pria yang baik, tidak cukup hanya bisa mencintai saja, melainkan juga harus percaya diri. Confidence. Dan itu hukumnya wajib. Why? Jawabannya simple, karena mereka adalah calon pemimpin keluarga. If he doesn’t even trust himself, then how can you trust your life to him? So, let him start first. Don’t make it hard for them either. Just wait and see first. Then decide (or even judge, if needed). Be careful especially with the last one, because that’s the area where most broken hearts are started. And when it started, you’ll find it so hard to go back. And I don’t suggest to you to even try to do so.

If a guy really likes a girl then he will after her no matter what. Some girls find it hard to believe it. But trust me, if he dumped you then it means he dumped you. Kalau dalam cerita sebelumnya, bukan salah B jika tiba-tiba menginterupsi keduanya, meski terlihat kurang sopan, melainkan tepatnya si pria yang memberinya kesempatan untuk menginterupsi A (!!!). Read this carefully. If he is trying to end or avoid a conversation, if he avoids to make a relationship to go even further, if he is suddenly disappear without any confirmation, if he is saying that he is about to go far away, if he didn’t even give a d*mn call to you even a few second, if he keeps saying that you’re more like a sister to him, if he gives you his phone number, if he didn’t try to ask your phone number, if he isn’t trying to know more about you, if he didn’t ask you to go out, then it is likely that he’s just not that into you :) . It’s evil but it’s true. On top of all, don’t afraid to be single. Masih banyak lawan jenis di luar sana yang mau mencintai anda dengan tulus. Buka mata, buka telinga, dan satu lagi yang cukup penting, buka hati :) . Cinta tidak datang dari langit, melainkan datang dari mata kemudian turun ke hati.

Seorang wanita harus selalu peka dengan hubungan yang dijalaninya. Dan biasanya yang paling sulit ialah membedakan antara good signals (GS) dan false positive alarm (FPA). GS artinya orang itu memang suka dengan apa yang kita lakukan. Sementara FPA artinya keliatannya suka padahal aslinya biasa-biasa saja. Ini dilakukan umumnya untuk menghindari pasangannya kecewa atau sakit hati. Dan kacaunya, FPA sering dikira GS. Dikira suka, taunya ngga. Dikira tertarik, taunya ngga. Keliatannya tertarik ,tapi cuma main-main doang, dll. Remember this, “Kata-kata tidak menjelaskan perbuatan, tapi perbuatan menjelaskan ribuan kata-kata”. Lalu, bagaimana caranya kita bisa tau itu beneran GS atau bukan? Itulah gunanya strategi tarik-ulur, untuk testing signalnya bagus atau ngga. If it’s good, then congratulations. If it’s not, leave it at once. Don’t even think for a second chance or you’ll likely be doomed forever.

So, what you girls should do? Well, keep attracting, looking and waiting. Then decide. Don’t waste your time for poor relationships. Kalau bukan jodoh, ya apa mau dikata. Tapi ga ada salahnya kalau mau dicoba. Dan bukan ga mungkin, dari not attracted jadi attracted. Meski memang, ada kata-kata ajib yang bunyinya demikian, “First sight is very important because that is the basis of healthy relationship”. Believe it or not.

How about me? Well, let say that I have some experiences in the past that I think it can help. Biasanya gw hampir ga pernah share beginian karena basically hal-hal semacam ini adalah practical knowledge, bukan semata-mata knowledge transfer yang bisa dipindahkan hanya dengan tutorial atau short discussion. You have to experience with it, not just listen and read. Why do you think that business and management studies are not ideal for knowledge transfer? It’s because those knowledge need actions, not just theories like most what we had while in school.

Through Good and Bad Time

Posted in Journal on August 16, 2009 by dplt

Hey, it’s been a while. Post terakhir tgl 24 mei tampaknya sudah mulai berjamur dan perlu diregenerasi dengan menabur spora yang baru :D . Ini adalah kisah yang terjadi kemarin Jumat tanggal 14 Agustus 2009, yang intinya kejadian bahagia dan sedih datang silih berganti. Ga ketemu judul yang lebih tepat, jadi mohon maap kalo terlalu abstrak. :P

Cabut dari kantor jam 5an, dan berencana nonton G. I. Joe sama Alex di Semanggi. Karena berangkatnya udah telat dan ga bisa ngejer yang jam 5.30pm, maka kita memutuskan untuk nonton yang jam 6.45pm. Abis beli tiket, kita sempet makan dulu di foodcourt sebelum masuk ke studio 1.

The movie was great. Amazing visual effect with not-so-deep storyline if I might say. The artwork is terrific and I enjoyed the show very much. A bit better than Transformers 2 I think. Two hours were spent with so many excitement while watching. Gw ga akan membahas storylinenya di sini, because it means I’m spoiling :P . Intinya, G. I. Joe adalah special forces yang berisi prajurit terpilih dengan perangkat persenjataan yang luar biasa modern. Sementara oposisinya adalah sebuah perusahaan penyedia persenjataan, MARS, yang tertangkap menjual senjata kepada kedua belah pihak. Bisa dibayangkan gimana dilemmanya. Pakai senjata buat ngelawan yang bikin senjata itu.

Jam menunjukkan pukul 9pm dan itu saatnya untuk pulang. Dan tentu saja, halte busway BenHil (Bendungan Hilir) jadi sasaran berikutnya. Sepintas liat kok ramenya minta ampun yang ngantre ke arah Harmoni. Mikir mikir mikir. Oke lah, gw ambil bus dengan arah berlawanan (ke Blok M) sebelum ngantri lagi buat yang ke arah Harmoni. Untuk ngeskip antrian maksudnya. Yeah. Sometimes to think effectively is to think conversely (artinya, kadang untuk berpikir efektif, kita harus berpikir terbalik). Turun di halte Bundaran Senayan dan kembali mengantri bus ke arah Harmoni. Untunglah antriannya ga sepadet di Benhil. Eh, taunya lama juga itu bus datengnya. Cape juga deh jadinya. Tapi gpp lah. At least, ngga ada aksi tarik dorong geser kiri kanan yang suka melibatkan body contact ==”.

Sebenernya tujuannya bukan Harmoni, tapi Kota. Tapi itu searah memang, jadi ga perlu ganti bus. Keep sitting and waiting. Sambil nengok kiri-kanan mencari obyek yang enak untuk dilihat. Bisa bangunan, bisa makanan atau bahkan bisa lawan jenis. Sekedar lirik dan lihat masih fine lah menurut gw, kalo udah ngedatengin dan make a topic, that’s a different case. Asal ngeliriknya dalam batas kewajaran yang dapat dipertanggungjawabkan :D . Kadang suka ga sadar ada temen dlm satu bus karena minimnya line of sight kedua mata ini, tertutup oleh daging-daging besar lainnya. Yah, lumayan lah buat ngobrol, daripada diem ga jelas. Eh, beneran aja. Ada kejadian menarik pas bus mendekati halte harmoni. I think that was somekind of accident between a car and a motorcycle. Spontan, jadi tontonan massal dah. But that entertained us only for few seconds before we left the place. Not really a serious one sih, tapi sorot lampu mobil polisi yang ada di situ cukup membuat hati penasaran untuk mencari tahu.

Sampai juga di Halte kota,  dan target selanjutnya ada metromini 02 yang berwarna biru, agak gelap dan sedikit kusam (karena jarang dicuci mgkn :P ). Ngetemnya cukup lama ternyata, around 10 mins. Waktu menunjukkan pukul 9.30pm. Still a long way to go, so I decided to sleep. Nyaman banget tidur ampe lupa diri kalo di sebelah udah ada orang lain yang duduk. Dengan mata yang semakin berat dan kepala yang rasa-rasa cukup sulit untuk dikendalikan, tidur pun tak tertahankan. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa itu adalah saat indah terakhir sebelum masalah yang cukup serius muncul setelah turun dari itu bus.

Turun dari metromini 02, sampai di Muara Karang. Waktu menunjukkan pukul 10.05pm. Kalau udah di atas jam 7.30pm, omprengan terakhir udah tidak berkeliaran lagi. Jadi otomatis pilihan jatuh pada ojek atau taksi. Karena keduanya tidak berbeda jauh dari segi biaya, maka biasanya taksi yang menjadi pilihan utama. Terlintas di pikiran pas di rumah kayaknya bakal bosen selain ditemani laptop untuk BBF (browsing + buka facebook), dan angin sejuk yang berhembus dari Air Conditioner bermerek Crystal. Alhasil, diputuskanlah untuk mampir dulu ke mini market terdekat untuk membeli seperangkat minuman soda dan penyegar panas dalam untuk keperluan di kemudian hari. Pilih pilih pilih, kemudian bergerak mendekati koordinat meja kasir terdekat sambil memulai untuk membuka-buka dompet yang mulai tebal karena kertas-kertas putih entah itu bon, bukti ATM, atau surat ga jelas lainnya. Dilihat dilihat dilihat, weks. Kok cuma segini duit yang tersisa? Wew. That’s not enough for the taxi, of course. Dan target selanjutnya tentu saja saudara-saudara sudah bisa menebak. Mesin seukuran mini kulkas bernilai sangat berharga yang namanya terdiri dari tiga huruf. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30pm. Oh my, I wanna go home ASAP.

15 mins were spent to go to the nearest that-3-letter-named-machine. Di situ kebetulan kantor cabangnya bank dari mesin terkait, dan kebetulan agak banyak mesin yang tersedia. 5 buah buat tarik tunai dan 1 buah buat non-tunai. Ketika itu untungnya agak sepi, dan mulailah gw memberanikan diri untuk mendekati mesin yang jika dihitung dari kiri berarti nomor 4. Yes, I’m on it baby! :D . Put the card inside and here we go.

“Please enter your PIN”, itu yang tertulis di layar dengan background biru mesin tersebut. Karena udah biasa menekan tombol dengan cepat dan bahkan lebih cepat daripada layar menampilkan karakter ‘*’, maka mata pun sudah tidak perlu lagi melihat ke arah pencetannya. Pas udah selesai pencet PIN, lho kok cuma lima ‘*’ yang muncul? Oh no, digit ke2 rupanya tidak terinput dengan baik. Well, okay. Setidaknya kalo salah pertama, masih bisa dilanjutkan sebelum eksekusi transaksi pas terakhir. Pilih tunai dan masukkin angka, dan tinggal tunggu lembaran-lembaran kertas akan muncul secara ajaib dari tempatnya. But wait, tadi kan PIN nya salah dan bener aja, disuruh input lagi. Tapi kali ini ditambahkan sebuah string yang berbunyi, “Salah PIN 3x maka kartu akan terblokir”. Yes, I know that. Better be careful this time. Tombol pertama ditekan, muncul simbol ‘*’. Tombol kedua ditekan, simbol ‘*’ tidak muncul. Wew??? Is this somekind of joke? Tombol itu kembali ditekan tapi kali ini dengan lebih keras. Kok masih blum muncul juga, heh? Apa perlu pake digebuk kayak pas dulu jamannya main ding dong? Dan benar saja, ga bisa muncul. Feeling mendadak ga enak, dan akhirnya tombol ‘Cancel’ yang dipilih. Masih ada mesin nganggur di sebelah kiri, dan saatnya mencoba peruntungan di mesin yang berbeda.

Enter the card and insert the PIN again. Like before, PIN dimasukkan dengan cepat, dan layar selanjutnya muncul. Pilih Tunai dan masukkan angka. Lalu pilih OK. Tapi tunggu, kok tiba-tiba muncul tulisan begini, “Salah PIN 3x maka kartu akan terblokir”. Wew?? Tadi salah pencet sepertinya. Padahal udah bener 6 char. Kalau kurang satu, harusnya cuma 5 ‘*’ yang muncul. Okay, sometimes shit happens. And this is the time! Feeling parno ga keruan, I decided to cancel it and move the left again. Maksudnya mesin yang sebelah kirinya lagi.

Enter the card and the PIN. Okay, this time is fine I think. Karena tombol demi tombol ditekan dengan seksama. Ga lucu neh kalo sampai salah 3x. Pilih tarik tunai, masukkan angka dan pilih OK. Suddenly, kalimat-kalimat ajib berikut muncul di layar biru itu mesin: “Mohon maaf, transaksi yang anda lakukan untuk sementara waktu tidak dapat diproses”. Wew??? Oh no….. masa iya ga bisa pulang gara-gara beginian. Mesin nomor 1 dari kiri kebetulan dipakai oleh seorang ibu-ibu. Karena penasaran, akhirnya memutuskan bertanya lebih lanjut, “Bu, lagi ga bisa tarik tunai ya? Kok saya dari tadi ngehang terus (padahal baru 1x)”. Si Ibu menjawab, “Bisa kok. Saya barusan malah abis narik tunai berkali-kali (di mesin nomor 1)”. Karena penasaran, akhirnya opsi terakhir, mesin nomor 2 pun dicoba. Enter the card and the PIN. Pilih tarik tunai and enter the amount. But again, “Mohon maaf, transaksi yang anda lakukan untuk sementara waktu tidak dapat diproses”. OMG. Hati ini rasanya kecewa, remuk redam, tak dapat berkata-kata. Kartu ATM sepertinya terblokir dan, intinya adalah I can’t go home. Masa iya harus jalan kaki sepanjang sekian kilometer dengan kedua kaki yang udah mulai karatan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 pm, dan orang-orang di rumah pasti udah pada tidur. Jadi rasanya kurang etis kalo ngebangunin cuma buat jemput aja. Keluar dari ruang mesin-mesin tadi, dan di luar merenung sambil memikirkan rencana selanjutnya bagaimana.

=========

Dulu ada cukup banyak satpam yang kerja di kompleks perumahan tempat gw tinggal. Tapi lambat laun, orangnya berganti-ganti dan alhasil banyak orang baru bermunculan. Tiap hari biasanya jalan kaki, dan setidaknya sempet lah untuk chat dengan satpam-satpam yang ditemui sepanjang jalan menuju rumah pas udah di dalam kompleks. Cukup banyak yang kenal baik, mgkn karena sama-sama bicara berkomunikasi dalam bahasa Jawa jadinya lebih elegan gitu :P . Mereka yang keluar juga bukan berarti berganti profesi, tapi banyakan dihire untuk ngejaga rumah (bukan kompleks lagi), kompleks perumahan lain atau malah tempat lain seperti rumah sakit, apotik, dll. Kebetulan tempatnya ga begitu jauh dari ini kompleks. Ya setidaknya kadang masih suka ketemu, walaupun orangnya udah ga jadi satpam di kompleks perumahan gw sekarang. Jadwal jaganya juga beragam. Ada yang dari pagi ke sore, sore ke pagi atau tengah malam sampai malam lagi. Tergantung tempat tentunya. Namun ada 1 orang yang kadang suka ketemu kalo pas lagi berangkat kerja, karena tempat dia jaga (apotik) letaknya ga jauh dari angkutan pertama yang gw naikin. Kadang suka mampir juga ke apotiknya buat beli obat, dan sempet chit chat aja.

Di situ, dia katanya jaga dari pagi ampe tengah malem. Terus besoknya diganti orang lain. Seminggu libur 3 hari katanya. Rumahnya sih cukup jauh, di Bogor sana. Tapi ya namanya hidup di Jakarta memang butuh perjuangan. Jangankan yang minim kemampuan, yang lulusan S1 pun ga sedikit yang nganggur. Kerja apa aja gpp yang penting halal. Dan yg paling penting, bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarga. Oh ya, dia biasanya pake motor buat pulang pergi karena kalo angkutan umum suka ga ada kalo tengah malem. Iya memang, dan itu lah terjadi ama gw sekarang.

======

Pukul 10.50pm, dan masih belum ketemu solusi. Mau naik taksi, duit ga cukup. Mau naik ojek, sama aja ga beda jauh ama taksi soalnya dari segi biaya. Mau nelpon orang rumah, ga enak udah pada tidur. I don’t wanna disturb them. Well, ya udah deh kalo gitu. Jalan kaki! Sayang ga ada headband waktu itu, kalo ga kan jadi makin semangat apalagi ini lagi detik-detik menjelang kemerdekaan. Semangat 45 jadinya. :D . Berdasarkan perhitungan kasar yang tidak jelas referensinya, waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam kalo tidak berhenti. Atau mungkin 1.5 jam kalo berlari. I prefer to walk than run. Sepanjang jalan bergumam, “It’s so close, but yet so far”. Sebagai pembanding aja, kalo naik taksi butuh waktu sekitar 15 menit-an paling. Yang penting sih orang rumah ga cemas karena belum pulang. Itu terlihat dari ga ada misscall yang bersarang di HP. Dalam hati sih masih berharap ada solusi yang lebih baik, tapi kalo memang ini jalan satu-satunya ya sutra lah. Don’t worry, I can handle this. Just like most problems I had in the past. I believe He will help me and always do. And I have nothing to worry about.

Waktu menunjukkan pukul 11.15pm, dan masih berjuang menapaki jalan beraspal yang begitu sepi. Yeah, dinginnya udara dalam kesunyian malam begitu menusuk sampai ke tulang. Hari ini berencana ga bawa jaket soalnya. Males aja, bawa banyak barang dari rumah. Tas berisi laptop, charger HP, dll cukup membuat bahu ini berteriak minta tolong. Hari ini benar-benar menapaki jalan penuh kenangan. Sambil mencari lagu yang pas untuk didendangkan sambil berjalan, tiba2 dari jalan yg arah berlawanan, ada sesosok yang rasa-rasanya dikenal dan mengklakson cukup kencang. Kenal ga kenal yang penting kasih tangan dulu, ya kan. Eh, taunya dia muter balik dan menghampiri gw. Dalam hati bertanya, ’sapa ni orang?’. Spontan sih penasaran, tapi selama bukan tante-tante yang datengin, ga masalah lah.

“Mau ke mana mas? Udh tengah malem gini masih belum pulang”, kata orang itu sambil ngelepas helmnya yang usually dipakai oleh para pembalap motorcross. “Saya baru mau pulang. Tadi abis keluyuran, biasalah. Jumat malam. Haha”. Rupanya dia adalah satpam si penjaga apotik yang ga jauh dari kompleks rumah. Dia pun bertanya lagi, “Lah, kenapa ga minta dijemput aja? Kan biasanya gitu kalo udah kelewat malam”. Gw jawab lagi, “Iya, tapi ini kan udah terlalu malam. Ga enak aja ngeganggu orang tidur sih. Mau naik taksi tapi ga ada, jadinya ya jalan kaki”. Diskusi kemudian berlanjut dalam bahasa Jawa, tapi ditulis pakai Indo supaya pembaca tidak bingung. Dia jawab lagi, “Oh gitu ya. Ya udah, saya antar pulang dulu sini daripada nanti tambah kemalaman”. Biasa lah karena kebiasaan ga enak jadi gw jawab, “Oh ga usah pak. Saya bisa jalan sendiri kok. Masih punya 2 kaki ini”. Kita berdua pun tertawa keras, sambil dalam hati berpikir ngapain juga ngomong gitu. Udah bagus ada yang mau nganter, ditinggal beneran baru tau rasa. Emang enak jalan kaki 2 jam??? “Gpp mas, saya anter dulu aja. Deket ini kok. Tinggal nge-gas doang ini. Haha”. Dan akhirnya pulang dengan selamat sampai di rumah. Tarikan 80km/jam cukup membuat gw kehilangan rasa kantuk, dan dalam sesaat sudah berada di depan rumah.

Waktu menunjukkan pukul 11.45 pm dan sudah berada di kamar tercinta. Wow. that was a miracle. And I am so grateful to Him for that. These last several months, I have been given a lot of great things in my life. In the past, I was a person who believed that I can do it all alone. Until one day, I presenced that nothing I could do to help my self. You have to believe that you will make it through. It’s not about how you are going to get through it (i.e. walking or getting a ride) but rather how you believe that you will get through it. And it’s called Faith.