Archive for October, 2009

NT: The Rationalists

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Rationalists, antara lain: INTJ, ENTJ, INTP dan ENTP, memiliki ciri khas yang sama yaitu mencari kebenaran/pengetahuan (knowledge seeking). Faktor N (Intuitive) dan T (Thinking) yang mereka miliki, menjadikan mereka dapat menarik kesimpulan berdasarkan pendekatan ilmiah dari pelbagai hal-hal abstrak maupun imaginatif yang dialami. Gampangnya, membuat khayalan menjadi nyata melalui serangkaian proses logis yang harus dilalui. Mereka berada di perbatasan antara realist dan imaginatif. Dan umumnya mereka memiliki tingkat intelegensia di atas rata-rata.

INTJ, Introverted-Intuition with Extroverted-Thinking
Sang Ahli Strategi
Dari kesemua tipe NT, tipe ini lah yang paling ahli dalam membuat strategi baik bisnis, militer, dll dalam skala jangka panjang. Kapasitas berpikir mereka dari konteks abstrak hingga detil (Introverted-Intuition), sering menjadikan mereka seorang tulang punggung sebuah sistem agar bisa berjalan (Extraverted-Thinking). Mereka sangat mudah terinspirasi (Introverted-Intuition), dari hal yang abstrak, diimplementasikan dalam hal-hal yang nyata dalam kehidupan (Extraverted-Thinking). Boleh jadi, mereka lah para genius dari semua tipe karena kehebatannya membuat strategi yang realistis. Sama dengan INFJ, mereka tidak terlalu pandai dalam mengungkapkan abstraksi yang mereka bayangkan dan cenderung untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang levelnya sejenis (karena tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan mereka). Mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam karir maupun akademis, namun segalanya menjadi berbeda ketika berbicara mengenai hal percintaan (kelemahan terbesar INTJ).

ENTJ, Extroverted-Thinking with Introverted-Intuition
Sang Eksekutif
ENTJ sangat bersemangat bersama orang lain, dan suka mengarahkan orang lain (Extroverted-Thinking) yang kesemuanya murni menurut pandangan mereka yang intuitif (Introverted-Intuition). Mereka bisa melihat pelbagai kemungkinan di masa depan (meski tidak sehebat INTJ), dan menjadi pegangan mereka dalam membuat keputusan. Atas dasar ini lah, ENTJ sangat cocok menjadi seorang pemimpin besar atau eksekutif, terlepas dari image mereka yang cenderung dikenal sebagai ‘tukang perintah’. Segala keputusan dibuat berdasarkan intuisi mereka, yang terkadang sulit bagi orang lain untuk memahami. ENTJ tidak percaya pada perasaan mereka, karena mereka menilai bahwa hal-hal seperti itu akan mengganggu efisiensi dan efektivitas suatu proses. Mereka sangat fokus pada karir, dan banyak yang menjadi seorang pemimpin besar nan hebat, namun tidak jarang banyak yang bermasalah dengan kehidupan pribadi mereka.

INTP, Introverted-Thinking with Extroverted-Intuition
Sang Pemikir
INTP hampir bisa mengingat semua teori-teori maupun istilah-istilah yang aneh dalam dunia fisika, kimia, biologi dan keilmuan lainnya dalam konteks yang sangat dalam. Mereka lah ahli nya ahli ilmuwan, karena mampu mempelajari semua ilmu hingga paling dalam, yang nyata-nyata nampak tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau INFP berkhayal dengan ada yang ia rasakan, maka INTP berkhayal dengan apa yang ia pikirkan dari pendekatan logika. INTP tidak suka dikendalikan maupun mengendalikan, dan cenderung sangat independen dalam hidupnya. Kekurangpekaan mereka terhadap  perasaan orang lain, kalo boleh dibilang terlalu tidak peka, menjadikan mereka figur yang kurang dipertimbangkan selain pencapaian pribadi mereka di dunia sains. Mereka lah pencari kebenaran sejati, dan akan terus mencari sesuai dengan apa yang mereka yakini benar.

ENTP, Extroverted-Intuition with Introverted-Thinking
Sang Visioner
Sama seperti ENFP, ENTP sangat cepat dalam menginspirasi dirinya terhadap berbagai ide yang muncul dalam sekejap (Extroverted-Intuition). Mereka sering terlihat sangat ahli dan menguasai bidangnya, meski itu hanya nampak sesaat dikarenakan ENTP kurang fokus dalam dunia yang mereka tekuni. Bagus ketika memulai, namun buruk ketika mengakhiri. Mudah bosan ketika semuanya tidak lagi menarik. Boleh dibilang, mereka lah tipe yang paling natural untuk menjadi seorang wirausaha atau pengacara, karena mereka sarat dengan ide dan konsep yang menarik untuk dicoba (bukan ditekuni). Mereka sangat suka sekali berdebat (Extroverted-Intuition), dan jangan heran kalo mereka bisa berdebat dari dua sisi yang berbeda (Introverted-Thinking). ENTP mampu memahami situasi dan kondisi dengan sangat cepat, serta memiliki ide apa saja yang bisa dilakukan (seperti pengacara). Sama seperti NT yang lain, ENTP kurang begitu ahli ketika mengungkapkan perasaan mereka.

Untuk penjelasan lebih lengkap, bisa dilihat di:
INTJ
ENTJ
INTP
ENTP

NF: The Idealists

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Kita mulai dengan review kategori pertama dari semua jenis yang ada di MBTI, yaitu tipe NF. Ada 4 macam di kategori ini, yaitu INFP, ENFP, INFJ dan ENFJ. Kesemuanya memiliki ciri khas yang sama, yaitu mencari identitas/entity di dunia ini meski tidak selalu mereka dapatkan (identity seeking). Identitas di sini bisa berarti peranan, khayalan maupun dunia lain yang berada di angan-angan/impian mereka.

INFP, Introverted-Feeling with Extroverted-Intuition
Sang Pemimpi
Orang-orang yang cenderung tertutup, pemalu (introverted feeling) namun sering disebut sebagai pengkhayal tingkat tinggi (extroverted intuition). Tidak mudah percaya pada orang lain, dan tidak jarang terlihat misterius karena kemampuannya untuk menyembunyikan perasaan dengan sangat baik. Survei membuktikan bahwa hampir semua penulis hebat di dunia ini adalah seorang INFP, karena kemampuannya untuk mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan. Tidak jarang, INFP juga seorang teman yang baik ketika berusaha menyelesaikan konflik orang lain (Extroverted-Intuition). Akan tetapi karena dominannya Introverted-Feeling, menjadikan segala halnya bersumber dari bagaimana keputusan itu dilihat dari prinsip hidupnya.

INFJ, Introverted-Intuition with Extroverted-Feeling
Sang Pelindung
Seperti saudaranya, INTJ, INFJ memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap segala macam informasi serta memiliki tingkat imajinasi yang terkadang sulit bagi orang lain untuk memahami (Introverted-Intuition). Faktor ini juga lah yang membuatnya tidak begitu bermasalah dengan hal-hal yang rumit atau abstrak serta mampu melihat sesuatu dari pelbagai sudut pandang. INFJ rata-rata adalah seorang penyemangat yang sangat baik (Extroverted-Feeling) karena mereka mempunyai kemampuan untuk memotivasi dan memahami maksud dan hasrat tersembunyi yang terkadang tidak mudah bagi orang lain untuk melihat (Introverted-Intuition).

ENFP, Extroverted-Intuition with Introverted-Feeling
Sang Inspirator
ENFP adalah orang-orang yang memiliki ketajaman visi dalam melihat masa depan, dan tidak jarang bisa berpikir jauh lebih cepat daripada orang lain karena terlalu abstrak untuk dipahami (Extroverted-Intuition). Mereka bisa dengan sangat cepat menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain keterkaitannya (Extroverted-Intuition), namun kesemuanya dilihat dari peranannya terhadap orang lain (Introverted-Feeling). Mereka hidup dalam kemungkinan-kemungkinan, dan setiap detil dianggap setiap hal-hal yang kurang penting. Satu lagi, mereka adalah orang yang mudah bosan dan sulit untuk fokus pada suatu hal, seperti saudaranya ENTP.

ENFJ, Extroverted-Feeling with Introverted-Intuition
Sang Guru
ENFJ fokus pada orang lain (Extroverted-Feeling). Dan didukung dengan kemampuannya dalam menyerap berbagai informasi (Introverted-Intuition), menjadikannya tokoh yang ideal untuk menjadi seorang guru. Mereka bisa dengan cepat memahami situasi dan kondisi, dan bisa mengarahkan mereka melalui pendekatan personal yang luar biasa (Extroverted-Feeling). Tidak sulit bagi mereka untuk membuat orang lain melakukan apa yang mereka inginkan. Dari semua tipe NF, bisa dibilang tipe ini lah yang paling ahli berkomunikasi dengan orang lain. Mereka jauh lebih mementingkan orang lain, dan tidak jarang mereka lupa pada kebutuhannya sendiri. Bedanya dengan INFJ, ENFJ cenderung untuk berhubungan dengan banyak orang, sementara INFJ cenderung untuk berhubungan dengan orang-orang tertentu secara personal.

Untuk penjelasan yang lebih lengkap, bisa dilihat di:
INFP
INFJ
ENFP
ENFJ

Four Dichotomies of MBTI

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Hari ini saya tidak masuk kerja karena masuk angin, yang artinya saya punya waktu untuk melunasi hutang-hutang saya sebelumnya. Kali ini, saya mau menekankan kembali pengertian dari 4 kunci teori psikologi MBTI, supaya nantinya para pembaca tidak kebingungan menginterpretasikan  kepribadiannya melalui penjelasan ilmiah yang disajikan.

Pertama, introvert dan extrovert.
Introvert artinya kecenderungan untuk fokus pada dunia sendiri daripada dunia di luar. Contoh kegiatan yang berkaitan seperti membaca, introspeksi dan mendengar. Juga bisa diartikan kecenderungan untuk menyerap informasi.
Extrovert artinya kecenderungan untuk fokus pada dunia di luar dirinya. Contoh kegiatan yang berkaitan seperti berbicara, mengajar, dan hal lainnya yang umumnya berhubungan dengan komunikasi langsung. Juga bisa diartikan kecenderungan untuk menyajikan/menyampaikan informasi.

Banyak orang yang mengira dirinya introvert, padahal aslinya ekstrovert. Begitu juga sebaliknya. Cara yang terbaik ialah dengan melakukan test, syukur-syukur ambil official test. Faktor intro dan extro ini sangat mempengaruhi perbedaan karakter yang akan kita pahami lebih lanjut di bawah ini.

Kedua, sensing atau intuition.
Mengenai bagaimana kita menyerap informasi. Sensing lebih cenderung pada hal-hal yang kasat mata, realistik, nyata, identik dengan hal-hal yang pasti, praktis, detil. Sementara intuition lebih cenderung pada hal-hal yang abstrak, imaginatif, tidak nyata, identik dengan ketidakpastian, estimasi, konseptual, umum.

Dengan mengimplementasikan faktor introvert/ekstrovert ke dalamnya, maka ada 4 macam yang dapat dibentuk:
- introverted intuition: kemampuan untuk menyerap semua hal yang ditangkap oleh intuisinya. Apa itu intuisi? Seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu hal-hal yang abstrak, imaginatif, tidak nyata, dst.
- extroverted intuition: kemampuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk hal yang tidak nyata, imaginatif, ketidakpastian.
- introverted sensing: kemampuan untuk menyerap semua informasi yang ditangkap oleh kelima panca inderanya, baik yang dilihat, didengar, dirasakan, diraba, dikecap. Orang jenis ini biasanya sangat teliti dalam melihat suatu benda, dan dengan cepat bisa mengetahui bila ada yang retak, berubah bentuk, warna, dll.
- extroverted sensing: berbeda dengan introverted sensing, tipe ini lebih cenderung untuk menyentuh langsung benda-benda kasat mata yang ia lihat. Ingin berhubungan secara langsung dengan hal-hal yang ia lihat, baik diraba, dikecap, dst. Faktor yang umumnya dimiliki oleh para olahragawan. Tipe ini biasanya pintar melucu, karena kemampuannya dalam mengungkapkan hal-hal detil yang sering tidak terpikirkan oleh orang lain.

Ketiga, feeling dan thinking.
Mengenai bagaimana kita membuat keputusan. Untuk faktor ketiga ini, banyak sekali orang yang salah menginterpretasikannya dengan mengasumsikan bahwa orang Feeling tidak bisa berpikir, dan orang Thinking tidak punya perasaan. Bukan demikian yang dimaksud oleh sang pembuat teori. Perbedaan mendasarnya ialah: orang Feeling cenderung membuat keputusan berdasarkan prinsip yang ia miliki, sedangkan Thinking cenderung membuat keputusan berdasarkan aturan yang berlaku. Orang feeling juga biasanya memiliki kepekaan yang tinggi dalam menangkap signal orang lain, meski orang sensing masih lebih ahli (sensitif; sense; sensing).

Dengan mengimplementasikan faktor introvert/ekstrovert ke dalamnya, maka ada 4 macam yang dapat dibentuk:
- introverted feeling: membuat keputusan berdasarkan apa yang ia rasakan atau prinsip yang ia miliki serta memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik, kalo boleh dikatakan paling ahli dari tipe yang lain.
- ekstroverted feeling: melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ia rasakan harus ia lakukan atau sesuai dengan prinsip yang ia miliki. Tipe ini biasanya seorang ahli komunikasi yang sangat baik, dan bisa mengendalikan situasi ketika sedang berdiskusi dengan tatanan bahasa yang cenderung sopan dan diterima oleh banyak orang.
- introverted thinking: serupa dengan introverted feeling, hanya saja lebih ditentukan dari logis tidaknya keputusan itu dibuat. Kelemahannya pun juga sama, tidak mudah untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan ke dalam bahasa verbal yang dimengerti orang lain. Hampir semua ilmuwan memiliki faktor ini, karena kemampuannya dalam memahami suatu konsep tapi sulit menjelaskannya kepada orang lain.
- extroverted thinking: kecenderungan untuk selalu mengungkapkan pendapatnya kepada orang lain. sederhananya, tipe ini disebut juga ‘tukang perintah’ karena selalu aja ada hal yang ia rasa seharusnya perlu dilakukan oleh orang lain melalui pendekatan logika, birokrasi, aturan, dsj. Hampir semua eksekutif, pemimpin besar nan radikal, memiliki faktor ini.

Okay, sekarang saya rasa anda sudah mulai menerka-nerka termasuk golongan apakah anda di atas. Apakah sensing atau intuitive? Tergolong intro atau ekstro? Begitu juga dengan feeling atau thinking, tergolong intro atau extro?

Berbeda dengan yang sebelumnya, bagian yang keempat ini mau menunjukkan kecenderungan manakah yang lebih dominan antara menerima informasi (sensing-intuitive) dengan membuat keputusan (thinking-feeling) dilengkapi dengan intro dan ekstro-nya masing-masing tentunya.

Judging:
kecenderungan untuk membuat keputusan (feeling/thinking). Ditandai dengan suka membuat rencana jangka panjang, melakukan sesuatunya lebih cepat (early), teratur, rapi, sistematis, terencana.

Perceiving:
kecenderungan untuk menunggu apa yang akan dilakukan hingga menit terakhir, melihat dulu semua hal yang ada (intutive/sensing). Ditandai dengan suka menunda-nunda, kurang sistematis, spontan.

Dengan demikian, setelah semua hal kita analisis, kita akan mendapatkan hasil akhir berupa 4 karakter yang menjadi kunci kepribadian kita secara umum (disebut umum, karena teori ini tentunya tidak pas 100%; namanya juga pendekatan). Kenapa MBTI? Karena sejauh ini, teori ini masih diakui yang paling reliable dalam menentukan kepribadian manusia.

Cara menganalisisnya ada beberapa cara (meski yang paling baik ialah melalui testnya), seperti:
- pertama, tentukan keempat faktor secara bergiliran. apakah I/E, N/S, T/F, P/J. kemudian digabungkan menjadi INTJ misalnya.
- kedua, dianalisis tiap sensing/intuition (apakah intro atau extro), begitu juga dengan feeling/thinking. Lalu, kalo kita cenderung lebih dominan ke menerima informasi (sensing/intuition) berarti kita adalah P. Kalo kita cenderung membuat keputusan terlebih dahulu (Thinking/Feeling), berarti kita adalah J. Kemudian, kita melihat faktor dominan kita apakah introvert / extrovert. Dari situlah ditentukan apakah kita Introvert atau Ekstrovert.

Contoh:
Introverted Sensing, Extroverted Thinking. Lebih dominan Extroverted Thinking, berarti Judging (J). Karena extroverted thinking adalah dominan, berarti pada dasarnya kepribadiannya Extrovert (E). Maka hasilnya, ESTJ.

Selamat mencoba :)

Honor Your Mother?

Posted in Psychology on October 22, 2009 by dplt

I got this article this morning and I think it’s nice to read.

—————————————————————————————————————————

Question:

I know that the Ten Commandments require us to respect our parents. But not all parents are worthy of respect. I am disgusted by the things my mother has done. She is old now and needs me, but there is nothing in her life that deserves respect. How can I respect my mother without losing my dignity?

Answer:

Respecting your mother doesn’t mean that you think she is all good. But surely she can’t be all bad. Surely you can think of some redeeming feature, something good your mother has done. There must be something for which you can say that she is a worthwhile person. Can’t you think of one good thing she has achieved?

I can. You?

“Respect for parents is a base for self-respect”

Like it or not, you are a product of your parents. No matter how different you are from them, no matter how far you go to avoid repeating their mistakes, you will never be able to change the simple fact that they are your parents. Whether they were good parents or horrible parents, whether they built you up or put you down, they are where you come from.

Your mother brought you into the world. If you honestly think your mother is all bad, without a good bone in her body, then on some level you will see yourself as another one of her failures. Your existence stems from her. Respect for parents is a base for self-respect.

The fact that she mothered a child who has a clear sense of right and wrong, and is aware of her wrongdoing, means she must not be all bad. She may not get the credit for your moral sensitivity, but she does get some credit for your existence. If nothing else, you can at least respect her for that. Far from compromising your dignity, respecting your mother forms the basis for your dignity, because she, along with your father and G-d, was a partner in your birth.

Respect does not mean accepting her failings or excusing her misdeeds. It means that if your mother needs help, you should be there for her. When she speaks, you need not agree, but you must listen respectfully. You have to treat her as a mother. Failing that, your self-respect has shaky foundations.

You don’t have to respect the life your mother has led. But, for your own sake, you do have to respect that she is your mother.

Kiss From a Rose (.mod)

Posted in Lyrics on October 21, 2009 by dplt

There used to be a graying tower alone on the sea
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill

But did you know
that when it snows
My eyes become large and
the light that you shine can be seen

To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy?

There is so much a man can tell you
So much he can say
You remain my power, my pleasure, my pain

I’ve been kissed by a rose on the gray…

I compare you to a kiss from a rose on the gray
The more I get of you, stranger it feels
Now that your rose is in bloom
A light hits the gloom on the gray

FB, Face-Broke?

Posted in Journal on October 18, 2009 by dplt

By this informal acknowledgment, I want to announce anyone that I am no longer using FB since it has discontinued its services (on me).

This last 5 days, I was having problems logging into FB. I don’t know what happened for sure but it always gives me the same error message:

“Your account is currently unavailable due to a site issue. We expect this to be resolved shortly. Please try again in a few minutes.

fb-error2


However, few days ago Finne tested and founded that it is still possible to log in by keep refreshing the page until it shows the contents. Well, I found it so annoying (because waiting and waiting are the most boring things to do, agree?). And later on, I used the same method like she did and I could log in. Maybe it’s just a few minutes maintenance on their databases before recovering the systems, I thought. But wait, I still found it just-like-another-unusual-page to see. What happened here actually?

What I mean here is that I got no wall posts, and the most strange one is that I got 0 friend(s). That was really strange ‘coz it had been about a thousand of friends I had if I remembered it correctly. Bastari said that it was possible that a user (who-should-be-better-not-exist) clicked “report/block this user” on the bottom of the profile page. Theoretically that’s possible, but how come that there’s any user did that on me. That’s just too outrageous. I think Reachy was right, that there’s too much activity on my account last days so that they probably decided to block my account. The last time I uploaded some photos about HILET, it came out about 70-100 notifications every single day for certain, nearly all are about those pictures’ comments or like-this-picture note. I am still find it hard to take, especially after seeing her playing several games in FB so smooth without any problem like I had while I was nearly a whole day in her room yesterday.

So on behalf of my self, I would like gently to say to everyone that I will be lowering my activity on FB due to this accident occured. Currently, I don’t have any other social networking community web account beside FB, and am not really interested to find another one. I hope FB could fix this problem soon, or otherwise I’ll be no longer using it.

But don’t worry, I’ll keep updating my blog for any certain news, events or other activities. You can make a post on this blog or email me for sure. Got no prob with this, right? Good day everyone :)

Pragmatisme Politik Pemuda

Posted in Journal on October 14, 2009 by dplt

Ini adalah kutipan surat pembaca yang menurut saya bagus untuk disimak. Penyampaiannya yang lugas serta tepat sasaran membuatnya menarik untuk dibaca dengan seksama. Selamat membaca.

—————————————————————————————————————————

Pragmatisme Politik (Kedangkalan Moral) Pemuda

Sejarah membuktikan betapa peristiwa-peristiwa besar yang dilalui digerakkan oleh pemuda. Sejarah telah membuktikan pula bahwa pemuda merupakan penggerak utama denyut nadi revolusi suatu bangsa di mana pun. Tak terkecuali di Indonesia.

Sejarah telah mencatat gerakan kebangkitan nasional pertama Boedi Oetomo 1908 yang dipelopori oleh Dr Sutomo dan kawan-kawan dalam menggugah semangat kebangsaan atau nasionalisme sebagai dasar dari kebangkitan nasional dalam melawan penjajahan asing.

Kesadaran moral kebangsaan ini dua puluh tahun kemudian telah melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang intinya membangun rasa persaudaraan senasib, sebangsa, setanah air, serta satu bahasa nasional, Indonesia. Ikrar suci itu pun kemudian menjelma menjadi gerakan politik kemerdekaan tujuh belas tahun kemudian. Tepatnya 17 Agustus 1945 yang dipelopori oleh Soekarno-Hatta dan kawan-kawan yang tak lain adalah orang-orang muda.

Begitu pula gerakan mahasiswa 66 (Tritura), gerakan mahasiswa 74 (peristiwa Malari), gerakan mahasiswa 78 (tentang Aliran Kepercayaan), gerakan mahasiswa 80-an, dan gerakan mahasiswa Mei 1998, merupakan gerakan revolusioner pemuda Indonesia yang gigih berani membela dan memperjuangkan suara rakyat kecil yang tertindas.

Sikap idealisme dan patriotisme mahasiswa/ pemuda yang rela mengorbankan apa saja. Bahkan, nyawa sekali pun inilah yang perlu ditauladani oleh para elit politik kita yang tengah mengalami demoralisasi dan mediokrasi.

Kini para elit politik kita mulai dari eksekutif, legeslatif, sampai yudikatif tengah terjerembab dalam kubangan kedangkalan moral. Paradigma politik para elit politik mengalami pendangkalan berpikir. Semuanya asal instan saja tanpa memikirkan rambu moral, hukum, dan tata nilai yang ada.

Korupsi menjadi momok yang amat memalukan dan memprihatinkan di negeri ini. Setiap hari kita disuguhkan sajian amat tak bermoral oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang notabene adalah wakil rakyat yang harus memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat.

Tapi, apa lacur. DPR malah menggerogoti uang negara yang sejatinya berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Demi hidup yang mewah dan kesenangan pribadi mereka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa rasa malu sedikit pun. Tak jarang dari mereka yang terang-terangan melakukan korupsi. Mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, program studi banding ke luar negeri yang banyak menguras kocek negara, sampai praktik jual-beli hukum.

Perilaku elit-elit politik kita makin hari makin memuakkan nurani saja. Tanpa ada niatan mereka untuk berubah. Kita menyaksikan bagaimana sesama mereka saling “membunuh” dan membuka aib sesama. Mereka terus berebut kue kekuasaan yang menggerus nurani dan akal sehat mereka. Demi kekuasaan yang sesaat mereka rela mengebiri dan mengorbankan apa saja. Termasuk hak rakyat kecil untuk hidup layak. Sementara itu perbaikan kehidupan rakyat ditelantarkan begitu saja.

Rakyat dibiarkan miskin dan terlunta-lunta menanti nasibnya yang tak kunjung pasti. Kemakmuran dan kesejahteraan semakin menjauh dari relung kehidupan mereka. Kelaparan karena tak bisa membeli makan, putus sekolah kerana tak punya biaya, menjadi pengemis di jalan hanya demi sesuap nasi menjadi pemandangan rutin yang tak sedap dipandang mata kita.

Tanpa disadari kalau perilaku elit politik kita telah mengimbas di dunia akademik-mahasiswa (aktivis pemuda). Tak sedikit dari mereka yang “berjuang” di organisasinya masing-masing hanya untuk menjadi anggota dewan yang terhormat. Dengan berpartisipasi menjadi ketua cabang, ketua daerah, sampai menjadi ketua umum organisasinya di tingkat nasional. Kemudian, setelah lulus dari organisasinya masing-masing, mereka ramai-ramai mencalegkan diri menjadi anggota dewan. Mereka berharap, akan terjadi sebuah transformasi diri dari hidup yang biasa menjadi sejahtera. Dari yang “miskin” menjadi tidak terlalu “miskin”.

Harapan akan transformasi diri pribadi inilah telah menanamkan sikap atau mental korup dalam benak anak-anak muda ini. Tanpa disadari bahwa perilaku dan sikap korup sehari-hari sedang mereka jalani.

Banyak contoh kasus sikap pragmatisme yang dilakukan pemuda. Misalnya, tertangkapnya politisi muda kita Al Amin Nasution atas dakwaan korupsi/ suap miliaran rupiah dana alih fungsi lahan. Al Amin merupakan anggota DPR RI dari fraksi PPP dan mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kasus Al-Amin merupakan cerminan pragmatisme seorang mantan aktivis muda yang ingin mentransformasi diri pribadi secara instan tanpa harus bekerja keras.

Contoh lain dari sikap pragmatisme politik pemuda adalah masuknya para mantan aktivis pemuda ke dalam lingkaran kekuasaan. Sederet nama seperti: Andy Arif, Syahganda Nainggolan, Aam Sapulete, Anas Urbaningrum, Rama Pratama, dan Nusron Wahid, semuanya masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Andi, mantan aktivis mahasiswa yang diculik Tim Mawar Kopassus, kini diangkat menjadi komisaris PT Pos Indonesia. Syahganda didaulat menjadi komisaris PT Pelindo. Adapun Aam Sapulete menjadi komisaris PT Perkebunan VII (Lampung). Nusron Wahid dan Rama Pratama merupakan anggota DPR RI dari fraksi Golkar dan PKS. Sedangkan Anas yang mantan Ketua Umum HMI kini menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan masuknya mereka ke dalam kekuasaan. Akan tetapi, apakah setelah masuk ke dalam kekuasaan mereka tetap komitmen dan konsisten dengan suara rakyat miskin. Apakah semangat mereka membela kaum susah masih sama seperti dulu ketika mereka masih menjadi seorang aktivis.

Pertanyaan inilah yang harus mendapatkan jawaban. Sebab, selama ini kita merasa sepi akan suara para mantan aktivis muda itu membela rakyatnya yang kini sedang dilanda kesulitan ekonomi. Kita sudah tidak mendengar lagi suara lantang mereka membela kaum yang tertindas.

Kini para aktivis muda baru lainnya bermunculan mewarnai setiap aksi demostrasi di tiap daerah atau pun ibu kota. Atas nama rakyat kecil mereka berteriak lantang akan nasib dan kesejahteraan masyarakat yang ujung-ujungnya untuk memenuhi kocek pribadi mereka saja.

Memang, tidak semua demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa/ aktivis seperti itu. Saya yakin masih ada sebagian dari mereka yang betul-betul ikhlas membela rakyat kecil.

Contohnya, masih ada sebagian dari aktivis pemuda yang melakukan advokasi untuk memberdayakan masyarakat pinggiran. Mereka berusaha mengimpower masyarakat dengan memberikan penyadaran politik (civic education) dan penguatan nalar publik, dengan menanamkan pemahaman masyarakat atas hak dan kewajibannya di dalam berbangsa dan bernegara. Mereka dengan keterbatasannya tetap sukarela menolong rakyat kecil tanpa pamrih.

Seharusnya sikap dan mental seperti inilah yang harus dimiliki oleh para elit politik, politisi muda, dan juga para aktivis mahasiswa di negeri ini. Sikap mengedepankan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi, menolong kaum papa yang tak berdaya.

Menyikapi perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Membangun rasionalitas berpolitik yang mengedepankan etika moral dan akal sehat. Menjauhkan diri dari sikap tamak harta dan benda yang menghalalkan segala cara. Berpolitik luhur untuk membangun peradaban bangsa yang mulia, tanpa harus menghancurkan sesama kita.

Dengan rasionalitas dan moralitas politik akan terlihat lebih seperti seni dan kemuliaan. Bukan kejam dan busuk yang selama ini kita lihat. Kasantunan, kedewasaan, dan keluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tanpa itu semua nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta.

Maka dari itulah mulai saat ini juga, baik elit politik maupun para (aktivis) pemuda/ mahasiswa wajib mengedepan etik moral berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Karena politik tanpa rasionalitas moral dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat jahat. Sebaliknya, moral saja tanpa diimbangi kesadaran politik (kerakyatan dan kebangsaan) hanya akan menjadi tatanan kehidupan yang sia-sia. Maka berpolitiklah dengan akal sehat dan kejernihan nurani. Demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Semoga.

Abdul Ghopur

Penulis adalah Direktur Eksekutif Jendela Indonesia dan Pemerhati masalah sosial politik.

My Way

Posted in Lyrics on October 14, 2009 by dplt

Long time ago, I’ve posted this lyric on my FB note. Deep meaning and well-articulated, making it one of my favorite.

————————————————————————————————

and now the end is near
and so I face the final curtain
My friend, I’ll say it clear
I’ll state my case of which I am certain

I’ve lived a life that’s full
I traveled each and every highway
and more much more than this
I did it my way

Regrets, I’ve had a few
But then again, too few to mention
I did what I had to do
and saw it through without exemption

I planned each charted course
Each careful step along the byway
and more much more than this
I did it my way

Yes, there were times I am sure you knew
When I bit off more than I could chew

But through it all when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall
and did it my way

I’ve loved, I’ve laughed and cried
I’ve had my fill and my share of losing
and now as tears subside
I find it all so amusing

To think I did all that
and may I say not in a shy way
oh no, oh no not me
I did it my way

[I really love this part]
For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels
and not the word of one who kneels

The record shows I took the blow
and did it my way

Yes, it was my way!

Shake O’ Shake

Posted in Journal on October 13, 2009 by dplt

I don’t remember correctly when does this exactly happen but surely it’s about 10 minutes before an earthquake was happened at Tasikmalaya measuring 7.6 Richter scale. It’s my body starting to shake on both my legs for about 5-10 seconds. I feel it nearly every two or three days, and normally between 3-4 pm.

The moment when I took it seriously is when the earthquake was happening. I didn’t really care about it much before, since I thought it’s just a normal symptom of fatigue like most people had. Ten minutes before the quake came, I felt it for the very first time. Don’t really care much, because I was very busy that time. Five minutes later, I felt it again. Both my legs were shaking like I had done exercises or something. Okay, it got my attention this time. I stood up for a while, looking at both my legs, and everything was normal. People around me were also extraordinary normal. So what could I say about earthquake? Not at all. Everything was fine, it’s just me. At least that was on my mind.

About five minutes after the second, here came the third. But this time, it was somehow much stronger than usual. I wonder why this was. It was quite a strong shake (or I might say quake if everyone felt it the same). Oh yeah, it’s just me who felt it. That’s why I had never thought that it’s an earthquake. Not after my friend suddenly screamed, “Guys, it’s an earthquake isn’t it?”. Got no more question this time, I suddenly ran to the nearest door and found my way through the emergency exit. This was the very first time I’ve got experience with earthquake inside a building. I forgot to tell you, my office is on the 13th floor. And that was a problem because we had got a long way to go to the ground floor.

Since that time, every time both my legs are starting to shake, I am starting to be nervous. I mean, I am afraid for another earthquake. I’ve got some kind of phobia or something, dunno what it is called for sure. But one thing I know for sure, I hate earthquake very much. It makes me lost my body balance which means I can not do anything at all to save my butt.

Honestly, I have a problem while I am nervous. The reaction is the same, shaking legs. Although it’s not very visible to others, I feel so uncomfortable with that. And normally that happens when I am under stress maybe for hours, days or weeks. And when I am under a lot of stress, mostly I will get health problems either low-physical-condition or low-blood-pressure. The first one can be handled through several hours of some rest. Not really a major problem. Conversely, the second one is my unfavored one.

Low blood pressure (LBP) means that your blood is not flowing on the normal speed as most people have. For that reason, you will feel your body not well (not delicious; delicious is for food) and certainly you are extremely need some rest. And the bad thing is that even you’ve got some rest, you still feel need more. Feeling more unwell, need more sleep and, finally, you’re becoming more like koalas :P . Koalas normally sleep for about 16 – 18 hours a day due to their low metabolism. Every time I’ve got LBP, the vertigo will come unnoticed. I mean they come altogether. I also hate vertigo, just making me to be a more useless man who can not do anything at all. Even standing by my self.

I am the boy-who-lived from LBP since childhood. Or if we might say, I’ve got a natural LBP. For that reason, I have never ever participated in any blood donation event. I’ve always got too low pressure which is around 110/75. That’s normal for me, but maybe not for you. But when I am under stress, it can go for 100/70 or 100/65. Painful isn’t it?

There are several foods you can take if you’ve got an LBP like me. People say that I should take more ‘durians’ or ‘kambings’. Well, I don’t like both. Why? First of all, I am a humble vegetarian. Secondly, I don’t like durian’s offensive smell. I hate it. If you like it, take it and ate it. Should be no more ache. That’s what they say.

Ketika semuanya menjadi salah

Posted in Journal on October 7, 2009 by dplt

Sekitar seminggu yang lalu, gw sempet berchat ria yang pada intinya bercerita ttg kejadian unik di masa kecil gw ketika sekolah. Ini kejadian belasan tahun yang lalu, tepatnya ketika gw baru aja pindah SD dari Jogja ke Malang. Nyokap waktu itu memutuskan untuk mengadu nasib ke ibukota, sementara gw tinggal sama tantenya nyokap karena masih belum stabil untuk hidup di Jakarta. Kejadian ini cukup menyedihkan waktu itu, karena kita sekeluarga terpaksa berpencar karena adanya permasalahan keluarga dan ekonomi. Alhasil, gw pun meniti hidup di Malang selama beberapa waktu, tapi itu ngga lama setelah nyokap memutuskan untuk membawa gw ke Jakarta sedari SMP. Okay, mari kita mulai ceritanya.

Dengan status gw sebagai anak baru, wajar kalo gw masih belum punya teman. Mau kenalan juga malu-malu disamping males. Seperti biasa layaknya cerita-cerita masa remaja, di kelas itu juga ada semacam ketua geng dan antek-anteknya. Dan sialnya buat gw, knp di saat-saat awal, gw udah harus berurusan dengan mereka antara lain: Mr. Popular, Mr. Giant, Ms. Sweety, dan Ms. Sexy. Gw sekelas dengan tiga orang pertama, sementara satunya berada di kelas sebelah. Sweety adalah cewenya Giant, sementara Sexy adalah cewenya Popular. Disebut Popular, karena dia tergolong rupawan, pintar dan tajir. Sementara Giant itu jagonya berantem alias tukang pukul. Itu dua cewe disebut demikian karena mereka memang demikian sesuai namanya.

Ketika itu adalah minggu kedua, which means sudah sekitar 10 hari gw berada di situ. Mr. Popular duduk sebelahnya Mr. Giant, dan keduanya selalu terlihat akrab setiap saat layaknya saudara sedarah, sebangsa dan setanah air di deretan bangku paling belakang. Pelajaran matematika diakhiri dengan bel yang berbunyi dengan nyaringnya, pertanda bahwa kita punya waktu istirahat sekitar 15 menit, sebelum pelajaran selanjutnya dimulai which is pelajaran menggambar. Semua murid bergembira keluar dari kelas dan bermain, sementara yang lainnya terlihat sibuk membuka bekal yang dia bawa dari rumah, sambil bercengkerama dengan teman-temannya mengenai hal apa yang ia yakini menarik, which is mostly film seputar doraemon, power ranger, dragon ball, conan, hattori, dsj. Tapi ada 1 anak yang begitu kesepian ketika itu, terduduk lemah sambil mengeluarkan bekal dari tasnya. Satu-satunya bekal buat dia ketika siang itu, dan itu adalah sebuah donat yang ditaburi mesis coklat di atasnya. Itu adalah menu yang ia bawa hampir setiap hari, tidak lupa ia hampir tidak pernah jajan di luar rumah. Dan itu adalah gw.

Yes, the only thing to eat. Knp bukan makanan yang lain? Ya karena adanya cuma itu. Knp ga jajan? Karena ga ada duit jajan. Ketika itu hidup emang agak susah dan serba terbatas, jadi ya maklumi aja. Intinya, ketika itu gw sedang duduk di hall utama sambil membuka plastiknya donat yang udah gw bawa. Kebetulan, Mr. Giant sedang asik pacaran sama Ms. Sweety persis di sebelah gw layaknya shooting sinetron. Karena gw bengong ga jelas, ya gw dengerin aja percakapan mereka berdua di sebelah:

Giant (G): kamu ud makan yang? aku mau beli chitato di koperasi.
Sweety (S): belum. yawis, beli dong sana. biar aku dapet juga. hehe.
G: dasar, bilang aja minta dibeliin satu.
S: tau aja. mending chitato, daripada minta beliin drawing set.
G: drawing set? emang kamu ga bawa? ya udah, nanti pinjem punyaku aja.
S: bukannya ga bawa, tapi emang belum beli. kelupaan terus mamaku.
G: yawis, gampang lah. Popular juga bawa kok, kerenan lagi. udah liat?
S: udah. keren banget. tapi pasti mahalnya minta ampun.
G: iya, mahal banget. pengen punya nih, gara-gara ngeliat dia pake. hehe.
S: yawis, beli aja sana. lumayan tho, nanti kan aku bisa pinjem kalo butuh.
G: ngapain aku beli, aku pinjem punya Popular aja. tinggal ambil ini.
S: huzz. ambil ambil, emangnya punyamu. haha.
G: walah, tak ambil juga paling dia ga pa pa. udah biasa kok.
S: ya udah. kalo gitu ambilin buat aku dong. hahaha.
G: ya udah. nanti tak ambil, terus aku kasih buat kamu. hehe.

Plastik sudah terbuka, dan tinggal gw masukin ke mulut. Udah lapar juga soalnya, dari pagi belum makan soalnya. Hwarakadah, rupanya insiden dadakan terjadi. Si Giant nyenggol tangan gw yang lagi pegang donat. Spontan, donatnya jatuh ke lantai which is totally berdebu ga kira-kira. Dia keliatan kaget, apalagi gw, begitu juga si cewe. Tapi itu belum seberapa. Yang bikin gw lebih kaget lagi, dia (si Giant) malah ketawa kenceng sambil bilang, “Sorri ya, aku nyenggolnya kurang kenceng”. Ga lama dia bilang gitu, donatnya tadi ditendang jauh-jauh ampe ke ujung. Wow, another shock. Mungkin dia ga tau, kalo itu adalah satu-satunya makanan yang gw punya. Mungkin dia ga tau, kalo gw ga punya uang saku sebanyak dia. Tepatnya ga punya apa-apa. Mungkin dia juga ga tau, kalo gw ga bisa marah ama orang langsung di depan mata. Lagian, apa susahnya sih minta maaf. It’s a simple word but wise enough to say. Gw sebenernya bukan seorang pemarah, tapi kalo udah kelewatan ga manusiawi, gw juga ga tahan. Singkat cerita, spontan gw langsung naik darah. Dan sampai detik kesekian, gw masih belum mengeluarkan satu kata pun alias terdiam. Ga lama, kedua mempelai meninggalkan arena untuk beli chitato di koperasi. Sorot mata gw masih belum berpindah dari si Giant, meski si Sweety tampaknya mulai sadar kalo cowonya kelewatan. Mereka berjalan makin jauh dari pandangan gw. Menjauh, menjauh dan menjauh, sampai udah ga keliatan lagi. Orangnya udah hilang, tapi amarah gw belum juga padam. Saking furiousnya, akhirnya dalam hati gw bilang, “mesti gw abisin tuh orang. sori, tapi gw bener-bener gak terima”. Badannya besar dan tinggi, sementara gw kecil dan pendek. Adu fisik udah pasti kalah. Dan di saat ini lah, gw mempraktekkan salah satu strategi gw untuk menghancurkan lawan. Gw sebut “hancur”, karena memang demikian hasilnya di akhir.

Gw berpikir sangat cepat untuk menentukan apa yang gw lakukan selanjutnya dan itu hanya butuh waktu sekitar 20 detik. Bisa menebak apa yang akan gw lakukan? Bagi pembaca yg tergolong intuitif, seharusnya paling tidak sudah bisa mulai menerka apa yang akan gw lakukan selanjutnya. Semua informasi sudah tersedia di paragraf-paragraf sebelumnya, tinggal dianalisis dan dimaksimalkan. Kita lihat tebakan anda benar atau tidak, kecuali anda memilih untuk penasaran sampai cerita ini berakhir.

Langsung gw berdiri dari posisi gw duduk, dan lari ke kelas di mana ketika itu masih 10 menit waktu istirahat. Nengok ke sana, nengok ke sini. Ga ada orang. Bagus, mari kita mulai permainan ini. Tanpa basa basi, gw langsung menuju koordinat di mana si Popular biasa duduk. Apa yang gw lakukan? Gw ambil drawing setnya si Popular dan gw masukin ke tasnya si Giant. That’s it. Cuma itu, ga lebih. Just a simple action, but it will cause a great damage. Ga percaya? Mari kita lanjutkan ceritanya.

Bel pun berbunyi, tandanya semua murid masuk ke kelas masing-masing. Guru pun bersuara dengan keras di depan kelas, “Anak-anak, pelajaran apakah selanjutnya? Apa? Iya, menggambar. Ayo keluarkan alat menggambar kalian ya. Kita mulai pelajaran ini”. Semua anak sibuk mempersiapkan peralatannya, begitu juga si Giant dan Popular. Gw sudah mempersiapkan segalanya dengan baik, tinggal lihat hasilnya bagaimana. Karena ga ada di tasnya, si Popular terlihat cemas sambil bertanya ke temen dekatnya apa ada yang liat drawing setnya dia.

Popular (P): asem, drawing set gw hilang
Giant (G): ha? hilang? ketinggalan kali.
P: pala lu ketinggalan. orang jelas-jelas tadi gw liat pas masukin buku matematika. gimana cara bisa ketinggalan.
G: lo naruhnya ga bener kali. coba cek lagi.
P: udah gw cek. kagak ada. heran gw bisa hilang.
G: beh. aneh bener. makanya, jangan bawa yang bagus-bagus. kalo hilang jadi lebih nyesel kan.
P: oii. mau bantuin gw nyari ga?
G: kan lo yakin bawa, ya berarti ada yang ngambil. coba ada tanya anak depan ato tengah. sapa tau ada yang liat.
P: gw udah tanya, pada ga ngerti. gw bilang ke guru aja mendingan kalo gitu.
G: ya udah. buruan sana.

P: Pak, drawing setnya saya hilang. Padahal tadi saya yakin bawa. Gimana ini pak?
(Si P karena tergolong cerdas, maka kata-katanya diperhatikan dengan baik oleh sang guru)
Guru: Oh ya? kamu yakin bawa?
P: yakin pak. karena tadi pas masukin buku matematika, saya masih lihat dengan jelas ada di tas saya.
Guru: baik lah, coba kita tanya ke yang lain.

Guru: Anak-anak, ada yang liat drawing setnya Popular ngga?
Anak-anak: Ngga, pak
(dan begitu sampai 3x nanya)

Si Popular kembali ke bangkunya sampai terdiam lemah lesu. Maklum, itu alat memang harganya mahal. Gw ga tau harganya berapa, tapi kalo menurut perhitungan gw, harusnya itu mahal banget. Gara-gara kejadian ini, pelajaran sempet ngaret selama 15an menit. Lumayan buat istirahat tambahan, gw pikir, sambil nunggu skenario berikutnya berjalan. Tapi ternyata ga lama, part selanjutnya sudah dimulai.

Sweety (S): Giant, pinjem dong. punyanya si Popular ilang soalnya.
Giant (G): ya udah, ambil aja di tas gw.
S: Okay.

1 menit kemudian

S: Giant, ini bukannya drawing set si Popular?
G: Ha? mana coba liat (Si Popular juga dengar dan langsung penasaran)
S: Ini. lah orang jelas-jelas ditulis namanya di bagian depan
G: Ha?? Kok bisa ada di tas gw? aneh bener. pasti ada yang masukin neh.
P: Mana?? Coba gw liat
G: Ini ini. kayaknya emang punya lo. coba aja liat.
P: Ini mah emang punya gw.
G: iya lah, di depannya ditulis nama lo. udah jelas lah.
P: emang iya. Pertanyaannya, kenapa ini bisa ada di tas loe?
G: mana gw tau
P: lo kalo pake, bilang dulu. apa susahnya sih tinggal bilang.
G: ngapain gw ambil. itu pasti orang lain yang masukin. gila ya lu.
P: lu yang gila. memang orang lain kok yang masukin, dan orang itu adalah lu.
S: lo ngebet drawing setnya si Popular ya? gw kira lo cuma becanda. Ternyata bener yang dibilang ama Sexy.
G: maksud lo apa?
S: sexy juga ada bilang, kalo lo itu suka drawing setnya si Popular.
G: ha? apalagi ini. sotoy banget sih cewe lo itu P.
P: bukan sotoy, gw yang bilang gitu ke dia. dan sekarang, lo ga usah ngelak lagi. jelas-jelas lo yang ambil.

Mengingat volume diskusi panjang di atas makin mengeras, makin satu kelas pun jadi ikut-ikutan menyaksikan adegan drama nan seru yang ditampilkan dalam durasi sekitar 10 menit tersebut. Guru pun lekas menghampiri dan menghentikan keduanya yang mulai terlihat berkelahi. Wow, sesuai prediksi gw (dikurangi dengan si Popular yg udah ngerasa si Giant suka drawing set dia, plus bilang ke Sexy, dan Sexy bilang ke Sweety. bagus, menambah beban). Keributan pun berakhir, dan pelajaran menggambar dimulai. Keduanya (Popular dan Giant) masih terlihat saling bertatap wajah dengan sorotan mata tajam. Meski sepintas terlihat sudah berdamai, tapi ini belum saat nya skenario berakhir. No no, not this time. It’s too soon.

Sekolah berakhir dengan berbunyinya bel tanda pelajaran selesai. Semua murid bergembira, kali ini termasuk gw :) , minus si dua orang yang ribut tadi gara-gara drawing set. “Buset? Ribut gara-gara drawing set? Gara benda kecil begitu?”, ini adalah kata-kata yang umumnya dilontarkan oleh pihak ketiga yang tidak tahu menahu tentang kejadian yang sesungguhnya. Meski terlihat sepele, tapi jangan disimpulkan sederhana begitu aja. Kalo kulit jeruk rasanya pahit, belum tentu bahnya juga pahit. Kedua sahabat (meski kali ini sepertinya kurang cocok disebut demikian), Popular dan Giant tampak saling menjaga jarak ketika hendak mendekati pintu keluar kelas. Gw ga jauh dari mereka berdua, karena memang gw sendiri ingin menyaksikan secara live, adegan yang sudah rencanakan sejak berjam-jam yang lalu. This is not over yet, setelah ini seharusnya ada kejutan lain terjadi. Cuma kejadian apa itu, gw belum tau pasti. Yang jelas, namanya air mendidih, pasti ada bunyi yang muncul dari teko. Dan itulah yang sedang gw amati kali ini.

Hanya berjarak 5 meter dari gerbang utama sekolah, pintu yang selalu dilewati ketika masuk atau keluar dari sekolah, Popular narik Giant dan keduanya langsung terlihat aksi baku hantam layaknya siaran tinju. Keduanya berbadan tinggi, meski Giant lebih besar. Pukul dan pukul dan pukul. Alhasil, keduanya pun berdarah-darah. Satu di hidung dan satu lagi di mulut. Dalam hati gw bilang, “mungkin gw memang ga akan bisa mukul lo, tapi pukulan tadi cukup mewakili semua pukulan-pukulan gw via orang lain tentunya”.  Keduanya kemudian dipisah dan dikirim ke penjemput masing-masing. Sekian untuk hari ini. Tapi kalo menurut perhitungan gw, seharusnya itu belum berakhir. Not yet. Mengingat keduanya teman akrab, dampak yang terjadi seharusnya lebih besar. Dan benar saja, kali ini makin banyak pihak yang terlibat.

Pagi hari itu, ketika gw sedang mendekati gerbang utama sekolah keesokan harinya, gw ngeliat si Popular masuk, sambil bawa tas ransel dia yang berwarna biru muda itu. Tapi ada yang ga biasa hari ini, dia ditemenin sama bokapnya. Well well well. Pikiran gw langsung tertuju apakah Giant juga ditemani bokapnya. Dan tebakan gw benar. Keduanya orang tua tersebut duduk di ruang tunggu depan ruang guru, tapi terlihat seperti bersiap-siap menaiki ring tinju kalo menurut gw :P . Tapi untuk sementara waktu gw tinggal, karena jam pelajaran akan mulai sebentar lagi. Well, I skip this section for a while.

Baru 10 menit pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, gw udah ngerasa bosen banget karena pikiran gw berada di apa yang terjadi di ruang guru antara kedua cowo tadi (para bapak). Mikir bentar, lalu gw berjalan mendekati Pak guru sambil berkata, “Pak, ijin ke belakang. Perut saya mendadak sakit sekali. Maap sekali pak”. Pak Guru tampak menganggukan kepala, dan gw langsung melaju kencang ke ruang guru yang berada tepat satu lantai di bawah kelas gw.

Nguping. Itu lah yang gw lakukan. Dan alangkah terkejutnya gw, beragam kata-kata maksiat terdengar dari sana. Hwarakadah, anak sama bapak ternyata sama aja. Kirain udah bisa kelar, taunya malah makin kebakar. Tapi tar juga bakal reda dengan sendirinya. Kembali ke statement yang tadi, “masa ribut cuma gara-gara drawing set yang isinya bolpen dan pensil?”. Sebenernya, bukan bolpen, pensil atau drawing set yang mereka pertaruhkan. Apa itu? Singkat saja. Harga diri. Masing-masing merasa harga dirinya terlalu tinggi. Itu yang jadi masalah utama sebenernya.

Boleh percaya boleh ngga, plot dari awal sampai akhir itu udah ada di benak gw. Cuma gw kadang butuh waktu berpikir karena mesti generate semua possibility yang ada. Gw sendiri udah hampir lupa ama cerita ini, kl aja ga berusaha mengingat-ingat lagi karena chat ama temen gw tadi. Kalo diinget-inget lagi, sbenernya gw bukan bermaksud jahat. Tapi karena itu orang udah keterlaluan, gw juga ga tahan. Meski apa yang gw lakukan juga sebenernya ga benar. Hal yang salah, diselesaikan dengan cara yang salah. Sehingga semuanya menjadi salah. Gw akui gw salah, dan akan lebih berhati-hati lagi dalam bersikap di lain waktu. Jadi inget dengan kata-kata Dalai Lama yang bunyinya demikian,

“Kita memang diharuskan untuk berbuat baik kepada orang lain. Tapi ketika kita justru ditodong dengan sebilah pisau, maka ceritanya bisa menjadi lain”

Kalimat di atas bukan ditujukan sebagai pembenaran atas cerita tadi, melainkan sebagai refleksi bahwa hendaklah kita menjadi orang yang baik dan kritis. Kita bermaksud baik, tapi bisa saja orang lain tidak demikian. Dan bahkan tidak sedikit yang tidak berusaha utk mengerti. Suasana dilematis seperti inilah yang menjengkelkan memang. Gw selalu memilih untuk menjauh dari orang-orang yang demikian, orang2 yang suka memaksakan kehendak yang kebenaran maupun nilai gunanya dipertanyakan (alias kepentingan pribadi). That’s why I hate politics very much. Why? Read this. Because politics is all about saying what others want to hear. For that reason, we can never know what their real intention is. And that is definitely a problem. One simple rule of politics: It’s not ally or enemy but rather personal concern which remains absolute (Tidak ada kawan atau lawan, melainkan perbedaan kepentingan lah yang abadi). Gw memang ga suka politik , tapi one day kalo memang panggilan gw ke situ, ya gw ga bisa apa-apa. Seperti Zhuge Liang. Yang penting gw jalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Karena kalo terlalu banyak dosa, bisa repot tar akhirnya.

—–

Dulu gw pernah cerita kejadian ini sama temen gw pas SMP dan dia bilang (in English): “If only you have joined an evil empire, then I am sure that you would become one of the greatest evil strategist of all time”. Keren juga ya, of all time. Tapi kalo dipikir, jadi orang jahat itu juga ga gampang lho. Kalo orang baik, musuhnya kan orang jahat. Kalo jadi orang jahat, musuhnya orang baik PLUS orang-orang jahat (selain dia). Jadi jumlah lawannya lebih banyak. Hahaha. :P