Days of Misery
Days of Misery, artinya hari-hari penuh penderitaan. Dua minggu terakhir ini, saya berkutat dengan masalah kesehatan, masalah yang hampir selalu menghantui saya. Dimulai dari demam tinggi, sakit perut, batuk, pilek, maag, hingga munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Kesemuanya menjadi satu paket yang benar-benar membuat saya tidak berdaya selama berhari-hari. Alhasil, saya pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter, dan sampai pada diagnosis bahwa saya harus dirawat inap selama beberapa hari. Dan ‘petualangan’ ini pun dimulai, tepatnya sudah dimulai namun belum disadari.
Day 1: Overture
Tepat setelah selesai mandi dan hendak bergegas ke kantor, mulailah perlahan disadari bahwa kondisi suhu badan tidak seperti biasanya. Awalnya masih tetap mau ngotot berangkat ke kantor, akan tetapi setelah dipertimbangkan lagi, lebih baik istirahat satu hari daripada berhari-hari karena terlambatnya pencegahan. Ide yang baik, pikir saya.
Day 2: Tamu tak diundang
Sekitar 7200 detik setelah lewat tengah malam, mendadak saya terbangun dari tidur. Dan pada saat yang sama, perut rasanya sakit bukan main. Rasanya seperti kelaparan tingkat kronis karena belum makan selama dua hari. Akhirnya saya memutuskan untuk turun ke bawah (kamar ada di lantai dua) dan mencari sesuap nasi yang tersisa.
Saya masih ingat dengan jelas kalau perut terisi penuh ketika makan subuh tadi. Anehnya, jam 8 paginya, perut lagi-lagi terasa keroncongan minta ampun. Dari situlah saya tahu, dewa angin telah merasuki saya. Dan lagi, saya memutuskan untuk mengistirahatkan diri untuk kedua kalinya.
Day 3: Luapan ganas
Sepuluh ribu delapan ratus detik setelah lewat tengah malam, saya kembali terbangun dari tidur. Mirip seperti kejadian sehari sebelumnya (perut serasa laparnya bukan main), tapi kali ini rasanya lebih parah. Mualnya sampai ke dada, seperti ada yang mau keluar begitu. Merasa tidak nyaman, kamar mandi pun jadi pemberhentian berikutnya. Dan benar saja, isi perut yang berbentuk bubur dan cairan serta hasil cernaan makanan lainnya spontan keluar tanpa kendali layaknya gunung meletus menyemburkan lava. Sepuluh menit lamanya durasi kejadian itu. Dan setelah itu, badan benar-benar lemas tidak berdaya. It’s not getting better for sure.
Day 4: Si Merah
Untuk sementara waktu, diprediksikan bahwa saya terserang demam dan masuk angin. Jadi obat yang dikonsumsi juga seputar dua hal itu. Beberapa hari ini saya mengenakan baju lengan dan celana panjang, supaya tidak masuk angin kalau keluar kamar. Betapa terkejutnya saya ketika hendak berganti baju, sekujur tubuh dipenuhi dengan bintik-bintik merah seperti bekas digigit nyamuk. Panik, dan langsung memberitahu orang serumah. Jangan-jangan DBD pula. Bisa berabe kalau iya. Langsung bikin janji dan besoknya mau konsultasi lebih lanjut ke dokter.
Day 5: Kejutan
Dari pagi sampai siang, perut ini rasanya mual minta ampun. Sudah empat kali terhitung mulut ini ‘menyembur’. Setelah buat janji dengan sang dokter pukul sebelas siang, akhirnya saya pun berangkat ke rumah sakit untuk meminta pertolongan lebih lanjut.
Semua prediksi sebelumnya ternyata salah (demam dan masuk angin biasa). Menurut sang dokter, saya terkena Cacar Jerman atau dalam bahasa medis sering disebut Rubella. Tidak berbahaya, akan tetapi mengundang demam selama berhari-hari, persis seperti yang saya alami selama beberapa hari sebelumnya. Tapi tidak hanya itu, masih ada satu hal lagi yang tidak terduga. Diare. Untuk yang kedua ini, saya sempat menyanggah bahwa ini adalah murni penyakit maag. Saya sudah cukup pengalaman dengan penyakit yang satu ini, dan bukan pertama kali saya mengalaminya. Itu kenapa saya begitu yakin kalau itu adalah maag biasa.
Sang dokter juga meminta untuk test darah, memastikan kalau itu benar Rubella, bukan yang lain.
Day 6: Diam tanpa kata
Hasil lab keluar, 99% dipastikan saya terkena Rubella. Dokter juga menyarankan kalau sebaiknya saya dirawat inap di rumah sakit, akan tetapi saya menolak, berasumsi bahwa campak hanya masalah waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Keadaan masih belum membaik, dan saya hanya bisa terdiam sambil merenungi nasib hingga keesokan harinya.
Day 8: Klimaks
Pada hari ini, saya resmi menginap di kamar 5206 Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk. Yang paling saya ingat dari hari ini ialah begitu banyaknya obat yang harus saya minum yakni berjumlah 5 buah. Total sehari 15 buah. Badan terbaring, infus terpasang. Baru hari pertama tapi sudah mulai terasa bosan. Di hari pertama ini, saya masih benar-benar tidak nafsu dan tidak enak makan. Hari ini ditutup dengan munculnya seorang suster cakep berinisial E yang setidaknya membuat hidup saya kembali bersinar meski hanya untuk beberapa saat.
Day 9: Apatis
Tepat seminggu sudah saya tidak masuk kantor dan sudah cukup lama untuk membuat teman-teman sekantor menjadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan saya. Tidak banyak hal yang terjadi pada hari ini, kecuali suara teriakan maupun pompa oxygen dari kamar sebelah. Selebihnya? Membosankan.
Day 10: Tsunami
Demam sudah mulai reda ditandai dengan suhu badan yang stabil di angka 36.3 derajat Celsius. Tekanan darah juga normal, berkisar di 100-120 di batas atas dan 60-80 di batas bawah. Tapi ada satu yang benar-benar abnormal. Pada hari ini, saya buang air besar encer alias mencret sebanyak 15 kali! Ternyata benar kata sang dokter semenjak awal, bahwa saya terkena diare. Alhasil, bertambahlah jumlah obat yang harus saya minum menjadi 8 buah disamping Nexium buat lambung. Total sehari 24 buah. Wow!
Day 11: Depresi
Tidak banyak berbeda dengan hari kemarin, masih mencret-mencret total 8 kali dan perut masih terasa mual seperti biasa. Nafsu makan masih belum lancar tapi untungnya badan sudah tidak berbintik-bintik merah seperti sebelumnya.
Hari ini kebosanan saya sudah mencapai titik jenuh, apalagi dengan sebagian besar waktu saya di rumah sakit dihabiskan sendirian, tanpa orang lain. Keluarga pun juga tidak sempat menjenguk. Uniknya, tidak ada satu teman pun juga yang menjenguk. Untungnya masih ada dua nona yang mau menemani saya via text-messaging selama beberapa waktu. Saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya cukup kecewa dengan kejadian ini, sambil berusaha menghibur diri dengan mencari-cari alasan bagus kenapa mereka berhalangan datang.
Belakangan setelah saya cek di salah-satu-situs-jejaring-terkenal, mereka mengirimkan berbagai komentar di profil saya, padahal jelas-jelas sudah saya tulis sebelumnya, “leave a message (not a comment)”. Lagian gimana cara bisa ngebales komentarnya, kalau orangnya aja ada di rumah sakit. So hard just only to leave a short message.
Day 12: Rekonstruksi
Tepat pukul 10 pagi, sang dokter datang untuk melihat kondisi saya seperti hari-hari biasa. Sang dokter akhirnya memberikan lampu hijau untuk kepastian kepulangan saya hari ini, dan saya langsung menghubungi pihak keluarga untuk menjemput. Sekitar seribu dua ratus detik kemudian mereka datang, dan segala keperluan administasi diselesaikan. Phew, akhirnya bisa pulang. Lima hari di rumah sakit serasa lima minggu di rumah sendiri. Entah sudah berapa obat yang saya minum selama di sana, mencapai seratus buah mungkin. Tapi yang jelas, kepulangan saya bukan berarti bebas merdeka. Masih ada segunung warisan obat yang harus dihabiskan plus larangan untuk keluar rumah setidaknya sampai seminggu ke depan (masa inkubasi). Dan itu berarti, akan genap tiga minggu saya tidak masuk kantor. Luar biasa!
Kepulangan hari ini juga disambut dengan kejadian yang kurang mengenakkan yaitu mati listrik. Huh, benar-benar membuat hidup tersiksa. Total hampir 5 jam listrik dipadamkan. Begitu listrik nyala, langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sudah tidak tahan sama keringat yang mengucur deras semenjak siang tadi.
Epilog
Boleh dibilang, ini adalah salah satu kejadian permasalahan kesehatan yang tak terlupakan buat saya. Dengan sejumlah penyakit berkumpul, dengan beragam obat menggunung, pantas rasanya kalau kejadian ini diabadikan dalam bentuk blog post imut ini. Semoga selama seminggu sisa ini, saya tidak mati kebosanan seperti hari-hari sebelumnya. Semoga teman-teman saya di divisi SSS (kantor) mau memaafkan kepergian saya selama tiga minggu. Dan yang terpenting, semoga kejadian ini memberikan pelajaran kepada saya untuk selalu mengutamakan kesehatan di atas hal apapun. Semoga anda juga demikian.
November 10, 2009 at 9:26 pm
and now you’re back in the hospital! *sigh* get well soon (menunggu traktiran ultah).
November 23, 2009 at 10:39 pm
[...] Life, My Innovation, My Experience My Life, My Innovation, My Experience « Days of Misery Days of Misery II: Inserting more coins November 23, 2009 I’m writing this fast, so [...]