Archive for the Journal Category

Hati dan Persegi (to understand and to see)

Posted in Journal on January 5, 2010 by dplt

Siang itu, tanpa dibekali makan siang dari rumah dan tanpa diawali dengan doa pembuka, saya dan teman saya (sebut saja Lingga) terlihat cukup sibuk di meja berukuran 3×1 meter, yang kalau juga boleh dibilang sebuah meja makan tetapi pada jam-jam tertentu. Tentu saja kami berdua bukan sedang berdoa, belajar apalagi bermain bola meski hanya berdua.

Meja berwarna coklat, berbahan dasar kayu, disusun rupa teralis yang tersusun rapi, terduduk main di area luas yang juga dihuni para mahasiswa yang lain. Area foodcourt itu memang tergolong mewah untuk ukuran universitas, meski kawasan kampus tergolong sempit. Hanya dua gedung, berbeda dengan UI, ITB atau UGM yang luasnya bukan main. Yang pasti, jumlah gedung, mahasiswa, meja, kursi, jendela maupun kaleng minuman kosong yang berserakan ketika itu, sama sekali tidak menganggu konsentrasi kami untuk berpikir. Layaknya pertandingan final kompetisi para grandmaster.

Mate in five“, saya ucapkan seketika setelah langkah kesekian dilakukan untuk memastikan zugzwang yang tak terelakkan lagi, meski Lingga tidak menyadarinya. Lingga terheran-heran sambil berucap, “jangankan bertahan, mau diserang dari mana aja aku ga tau”. Tenang, saya juga tidak meminta anda untuk memikirkan bagaimana solusinya. Langkah berikutnya yang akan saya ambil, itu sangat nyata di mata saya. Akan tetapi, orang lain tidak jarang sulit untuk melihat, apalagi memahami. Tampaknya sudah terlalu sering saya mengalami hal ini, dan kali ini saya berharap tulisan saya bisa membuat pembaca mengerti, jika memang ucapan saya tidak lah lebih berarti.

*zugzwang: suatu kondisi dimana langkah apa saja yang dipilih tidak menguntungkan

Hidup itu ibarat kubus, memiliki enam sisi yang berukuran sama yakni persegi. Keenam persegi itu saling bertolak belakang, dan oleh karenanya, kita tidak bisa melihat kesemuanya sekaligus pada saat yang sama. Maksimal tiga sisi. Meski pada saat yang sama kita tidak bisa melihat tiga sisi yang lain, kita sangat yakin bahwa tiga sisi sisanya adalah persegi juga karena kita percaya dan yakin bahwa benda ini adalah kubus. Inilah prinsip dasar untuk memahami suatu konsep atau prinsip, bahwa dengan kita tahu fundamental atau kerangka dasar dari suatu benda, kita akan bisa melihat jauh bagaimana aplikasinya dalam hal-hal yang lebih kompleks. Bingung?

Andaikan keenam sisi kubus di bawah ini memiliki warna yang berbeda-beda. Merah, kuning, putih, hijau, biru dan hitam. Saat ini kita hanya bisa melihat warna hijau, biru dan merah.

Melihat

Meski sudah disebutkan keenam warnanya satu per satu, namun tetap saja sebagian orang tetap ingin melihat keenam sisinya satu per satu. Seakan-akan hendak memastikan keenam warnanya sesuai dengan yang disebutkan. Jika tidak, maka mereka akan keheranan dan sambil berkomentar kalau ini salah warna atau salah cetak.

Memahami

Bagi beberapa orang yang lain, mereka merasa tidak perlu lagi melihat ketiga warna yang lain, bahkan mungkin bukan hal aneh bila tidak melihat kubus itu sama sekali. Itu bukan semata-mata karena yakin 100% warna sisanya adalah kuning, putih dan hitam. Sekalipun sisanya bukan tiga warna itu, bukan masalah jika diganti warna yang lain. Kenapa? Karena intinya bukan pada warna apa saja, tapi pada variasi warna yang ada, di mana di setiap sisi terdapat satu jenis warna. Coba anda baca kalimat pertama tadi: “…keenam sisi memiliki warna yang berbeda-beda..”.

————————————————————————————————–

Ketika saya kuliah, banyak orang bertanya apa gunanya belajar ini dan itu. Semua ilmu yang dikomersilkan, paling tidak, pasti ada gunanya. Kalau tidak, mana mungkin bisa dijual. Tinggal pertanyaannya, apakah kita tahu cara menjual kembali ilmu-ilmu tersebut. Kali ini, saya mencoba menjelaskan dengan lebih baik menggunakan ilustrasi yang kedua. Saya namakan ini ilustrasi hati dan persegi.

Coba perhatikan gambar berikut ini.

Ada sebuah persegi besar berwarna putih. Ada sebuah persegi kecil berwarna hijau yang diisi dengan hati berwarna merah. Pertanyaannya: berapa jumlah persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan jika seluruh persegi besar tertutup rapat olehnya? Persegi kecil boleh digeser-geser sedemikian rupa, asalkan jumlah persegi hijau yang bisa didapat menjadi lebih banyak.

Saya beri anda waktu 10 detik untuk memikirkan jawabannya. Sekarang.

Kalau sudah, saya beri anda waktu 10 detik lagi untuk memikirkan ulang jawaban lain yang mungkin. Sekarang.

Mungkin ada yang menjawab “1″. Tapi saya rasa, banyak orang akan memilih angka “4″ sebagai jawaban akhir mereka. Untuk lebih jelas, coba lihat gambar ini.

Jawabannya: ada lima persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan. Keempat persegi pertama tentu sudah jelas didapatkan dari mana. Persegi kelima, didapatkan dari persegi besar yang telah berubah menjadi persegi besar nan hijau. Jangan terkecoh dengan benda-benda lain yang tidak perlu, dalam hal ini adalah gambar hati. Persegi besar tidak memiliki gambar hati secara khusus, namun yang ditanyakan adalah persegi hijau-nya, bukan yang lain. Terkadang, kita terlalu fokus pada detil, sehingga tidak menyadari hal yang lebih besar daripada itu. The bigger picture.

————————————————————————————————–

Saya yakin dari anda semua pasti sangat tahu dengan rumus ajaib ini:

1+1 = 2

Anda pasti setuju bukan? Tetapi, bagaimana dengan ini:

1+1 = 10

Anda tidak percaya?
Anda tidak ‘melihat’?
Anda butuh jawaban yang masuk akal dan logis?

Well….. , apakah anda pernah dengar bilangan biner? :P

“Blessed are those who have not seen and yet have believed”

Kaleidoskop 2009

Posted in Journal on January 1, 2010 by dplt

CLICK HERE TO READ IN ENGLISH

Sudah pukul lewat sebelas malam. Meski ini sudah masuk jamnya orang tidur, masih banyak orang berkeliaran di luar sana melakukan ritual tahunan dengan bersenjatakan terompet panjang berwarna-warni menyambut datangnya tahun baru. 2010. Ditemani biskuit Khong Guan dan segelas air putih, tulisan-tulisan ini pun dimulai perlahan-lahan.

Banyak peristiwa menarik terjadi sepanjang tahun 2009 ini. Peristiwa di luar negeri dimulai dari gejolak resesi ekonomi di Amerika Serikat (US), ketika presiden berkulit hitam pertama, Barack Hussein Obama, baru saja terpilih dan mulai menjalankan masa tugasnya hingga lima tahun ke depan. Belakangan ia baru saja memenangkan Nobel Perdamaian karena keberhasilannya mengantisipasi gejolak terorisme di negaranya. Peristiwa di dalam negeri pun juga tak kalah menarik, mulai dari kematian mahasiswa Indonesia di Nanyang Technological University hingga Pemilu 2009 yang dimenangkan SBY dan PD dengan presentase lebih dari enam puluh persen.

Jebolnya tanggul Situ Gintung benar-benar di luar dugaan. Dan sebagai gantinya, jumlah orang yang tidak sedikit pun yang menjadi korban. Peristiwa penembakan diam-diam pun turut menhiasi tahun ini dengan ditembaknya direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen dari jarak yang cukup jauh ketika sedang berada di dalam mobil. Kasus ini menjadi rentetan kejadian berantai dengan munculnya dugaan Antasari Azhar sebagai dalang pembunuhan ini.

Pergolakan pemberantasan korupsi di Indonesia juga berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Mulai dari ditahannya Antasari Azhar sebagai ketua KPK, karena diduga terlibat dalam kasus penembakan Nasrudin Zulkarnaen karena keterlibatannya dengan seorang pihak ketiga yang bernama Rhani Juliani mengangkat tema cinta segitiga dengan berasumsi bahwa Antasari menginginkan Rhani lebih lanjut.

Gejolak di KPK sendiri belum berakhir karena dua pemimpin sementara mereka, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, ditahan karena dugaan ancaman pemerasan terhadap munculnya pemain baru, Anggodo Wijaya (yang kakaknya sendiri pun sebenarnya merupakan ‘pemain lama’ yaitu Anggoro Wijaya, direktur utama PT. Masaro, yang terlibat dalam kasus suap anggota DPR dalam proses pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu – SKRT di Departemen Kehutanan). Berbagai aksi protes dan demonstrasi dengan slogan “Cicak melawan Buaya” pun menjadi topik panas dengan diangkatnya berita mengenai perseturuan antara KPK dan Polri yang dianggap menghalang-halangi KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia.

Pelbagai kejadian di atas baru terlihat lebih jelas setelah ditarik garis merah bagaimana Antasari Azhar hendak memulai pengusutannya akan pengaliran dana Bank Century. Aliran dana sekian miliar yang diduga menjadi dana kampanye SBY memberikan kejutan yang luar biasa kepada publik. Spekulasi demi spekulasi hingga berbagai pihak yang turut menerima dana tersebut menjadi sorotan semua pihak. Partai Demokrat yang menjadi ‘kendaraan’ SBY ketika memenangkan Pemilu pun juga menjadi pertanyaan besar, mengingat kemenangan mereka sungguh di luar dugaan dengan angka mutlak enam puluh persen yang mereka dapatkan.

Aliran miliar rupiah yang keluar dari Bank Century juga bukannya tanpa pertanyaan. Ironisnya, pengaliran dana tersebut terjadi setelah Bank Century mendapatkan bail out dari pemerintah Indonesia. Lalu, apakah dana bail out itu semata-mata hanya untuk mendanai kampanye SBY? Boediono dan Sri Mulyani tentu saja menjadi sasaran tembak selanjutnya karena dua figur itu lah yang menjadi pemeran penting disetujuinya bail out Bank Century.

bail out : peminjaman dana kepada suatu lembaga yang dinilai pailit untuk memperbaiki kondisi ekonomi

Belakangan, George Junus Aditjondro menulis sebuah buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century”. Buku yang baru saya dapatkan dua hari yang lalu ini, sudah saya habiskan hari ini. Satu hal yang pasti, kita harus berhati-hati ketika membaca yang menyajikan data dalam jumlah sangat besar dan kritis seperti yang ada di dalam buku itu. Jika tidak, maka itu sangat berpotensi akan penyesatan publik karena data yang tidak benar. Anda tahu buku “Da Vinci Code” karangan Dan Brown?

Kematian David Hartanto Widjaja patut kita cermati lebih lanjut. Integritas pemerintah kita dalam membela hak rakyatnya yang berada di negeri orang patut diberikan tanda tanya besar. Tidak sedikit TKI yang mengalami berbagai perlakukan kekerasan di negara tetangga. Sebaliknya, koruptor yang ‘lari’ ke negara tetangga pun seperti tak tersentuh, seakan hukum ekstradisi sudah tidak berlaku lagi di kawasan ASEAN ini. David, yang kebetulan namanya sama dengan saya, diduga melakukan aksi bunuh dengan melompat dari lantai 4 di salah satu gedung kampus NTU setelah diketahui gagal menghabisi dosennya, Chan Kap Luk, yang dinilai mempersulit skripsinya di tahun terakhir. Peristiwa kematian mahasiswa NTU lainnya sempat mengikuti peristiwa ini, meski pada akhirnya kasus ini selesai dengan keputusan bahwa David memang bunuh diri. Sebuah fakta menyesakkan memang, meski memang pernah ada kasus serupa tapi tak sama yang dilakukan oleh Seung-Hui Cho di Virginia Tech. Ironisnya, berita David ini tidak lagi terdengar gaungnya setelah dimulainya berita pemilu hingga pertengahan tahun.

Rumah Sakit Omni Tangerang menjadi bulan-bulanan media massa setelah salah satu pasiennya, Prita Mulyasari, menulis keluhannya melalui email kepada beberapa temannya. Masalah kecil ini kemudian menjadi luar biasa besar setelah ia disidangkan secara perdata mengenai pencemaran nama baik hingga ia terancam untuk mendekam di penjara. Malpraktik sebenarnya bukan lagi hal yang aneh di masyarakat kita. Hanya saja, sedikit dari kejadian tersebut yang terlihat ke permukaan.

Sinetron berjudul “Manohara” menjadi perbincangan orang banyak setelah popularitasnya melonjak tajam setelah masalah pribadi Manohara Odelia Pinot dengan Pangeran Kelantan Malaysia, Tengku Muh. Fakhry, menjadi hot topic semua siaran infotainment dalam seketika. Hebatnya, popularitasnya bahkan melebihi kasus kematian David sebelumnya.

Kasus terorisme di Indonesia sepertinya juga tidak ketinggalan ambil bagian. Kemunculan kembali ledakan bom di JW Merriott sepertinya mengenang peristiwa ledakan bom di Bali beberapa tahun silam. Kali ini, dengan rencana yang tidak kalah rapi, Noordin M. Top berhasil membuat aparat pemerintah kebakaran jenggot dengan keberhasilannya dalam merancang aksi terorisme maupun meloloskan diri dalam sekejap. Belakangan, diyakini Noordin sudah berhasil dinetralisir bersama dengan mertuanya, Baridin alias Bahrudin Latif, juga tertangkap setelah bersembunyi di daerah Garut.

Dan pada akhirnya, berita duka cita menjadi penutup tahun 2009 ini setelah dikabarkan meninggalnya Gus Dur dan Frans Seda. Gus Dur menjadi figur sentral budaya yang patut diperhitungkan dalam satu dekade terakhir ini setelah keberhasilannya membawa negeri ini keluar dari masa orde baru yang identik dengan keluarga Cendana selama lebih dari tiga dekade. Frans Seda, yang juga merupakan salah satu tokoh di masa orde baru menjabat beberapa posisi menteri pada tahun 60-an, juga patut kita ingat sebagai salah satu tokoh ekonomi yang membangun negeri ini. Selamat jalan Pak!

Akhir kata, semoga tahun 2010 ini membawa negeri kita menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga di tahun ini, impian dan keinginan kita tercapai, dan semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Happy New Year 2010!

Christmas 2009: Home Alone

Posted in Journal on December 27, 2009 by dplt

Sebelum saya mulai tulisan panjang ini, pertama-tama perkenankan saya untuk mengucapkan Selamat Natal bagi anda bila merayakannya. Semoga Natal kali ini memberikan rahmat dan berkah bagi kita semua. Amen.

Waktu menunjukkan 19.30 malam, detik-detik menjelang datangnya asupan gizi terakhir untuk hari ini. Beberapa hari ini saya selalu terbangun di siang hari, dan tentu saja itu selalu menjadi hambatan untuk ritual harian semenjak ditinggal sekeluarga balik kampung yang antara lain menggunakan media air berbusa (baca: mencuci) hingga sesajen untuk dewa matahari (baca: menjemur pakaian).

Tidak ada orang lain sama sekali, kecuali tetangga itupun kalau mereka ada, semuanya saya kerjakan sendirian. Dan memasak pun tanpa kecuali. Untuk makan pagi dan siang, biasanya buat sendiri. Sementara untuk malam, saatnya kita ber-free-style ria. Begitu juga untuk hari ini. Sudah kali keenam saya melakukan ini dalam hitungan hari. Dan malam ini, saya merasa begitu bosan karena akan melakukannya lagi dan lagi tanpa ada variasi.

Saya harus melakukannya dengan cara yang berbeda untuk malam ini, setidaknya supaya saya tidak mati kebosanan di rumah, di depan laptop setiap hari, berchat ria, buka FB, ataupun kelayapan buka forum sana sini, baca situs berita ini dan itu, tanpa bermain game sedikit pun. Kenapa tidak main game? Karena saya sedang malas main game. Rasanya ingin melakukan hal lain yang lebih berguna secara riil, dan itu lah yang saya pikirkan sekarang. We need more actions here.

Alhasil, situs cineplex yang jadi sasaran berikutnya. Dengan rencana yang cukup matang, alhasil direncanakanlah untuk nonton Sang Pemimpi di Pluit Junction pukul 21:25. Sekarang sudah pukul 20:30, dan saya harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jatah kursi di parlemen (baca: bioskop) nanti.

Di samping acara makan malam singkat sebelum mencari jatah kursi nantinya, sempat terpikir untuk mencari teman untuk menonton bareng. Maklum, nonton sendiri kurang seru sebenarnya walaupun ketika mulai menonton, rasanya tidak banyak berbeda. Tapi mengingat waktunya yang miris dan lokasi rumah dari beberapa teman yang cukup jauh, disimpulkan bahwa ini akan saya lalui sendirian. A.G.A.I.N. Enough talk, let’s move out.

Pukul 20:50, tepat sampai di lokasi dinner. Pesan nasi goreng telur siap saji, satu piring sudah cukup untuk membuat perut keroncongan ini menjadi bertenaga seketika. Tidak banyak yang diceritakan, selain langit mulai meneteskan air mata. Oh tidak. I have to move faster.

Pukul 21:10, tepat berada di depan counter pembelian tiket di Pluit Junction. AntriĀ  antri antri. Sampai depan mbaknya, mendadak gw jadi tulalit sendiri. Walah, ada apa? Apa mbaknya cakep? Manis? Imut? Menggemaskan? Mungkin iya, tapi sayangnya bukan itu. Film yang mau saya tonton, Sang pemimpi, tidak ada di list schedulenya! Beuh, kenapa bisa begini? Inget inget inget, tadi tulisannya di parlemen (baca lagi: bioskop) mana. Memang tadi saya buka beberapa tab di firefox untuk beberapa parlemen yang berbeda yang kesemuanya berdekatan dengan lokasi tempat tinggal. Oh! Mungkin di parlemen satunya lagi. No more time, langsung aja saya ngesot ke tempat parkir untuk bermutasi dengan cepat. Keraguan sempat menyelimuti beberapa saat, apakah benar itu parlemen yang dimaksud. Sempat dicoba untuk nelpon Agnes dan Avandhy untuk minta tolong lihat di cineplex, sapa tau mereka lagi depan kompie. Tapi sayangnya, ring out. I’m on my own, baby.

Segalanya terasa begitu cepat dalam hitungan menit. Dan dalam tujuh menit, saya sudah berada di gedung parlemen yang berbeda. Sempat nyasar pula nyari tempat parkirnya. Sayang ga ada extra time kayak pas main bola. Langsung aja menuju ke XXI dan mata langsung tertuju ke layar tancap yang tertulis studio dan film yang akan diputar. Hasilnya? A.G.A.I.N. Film yang mau saya tonton tidak terdaftar. Alamak! Jangan-jangan cineplexnya boong nih. Tulisnya apa, yang diputar apa. Keringetan, cape lari sana lari sini, untuk menghibur sedikit lara maka saya memutuskan untuk menonton film apa aja yang masih mungkin, selama masih masuk genre. Dan pilihan pun jatuh pada: Bodyguards and Assassins. Kalau dilihat sepintas, rasa-rasanya film tentang jaman perjuangan revolusi Cina nih. Tapi ya lihat aja nanti, pikir saya.

Total dua jam penuh, film itu diputar. Cukup banyak adegan kekerasan di film ini, dimulai dari kepala dipelintir, aksi benda-benda tajam, hingga cipratan darah sampai ke mana-mana. Tapi satu yang pasti, film ini bisa membangkitkan semangat seseorang untuk berjuang lebih baik lagi. Film yang bagus untuk menanamkan nasionalisme akan revolusi. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Saatnya kita pulang ke rumah masing-masing.

Ketika melewati lorong pas mau keluar, sepintas tertarik dengan salah satu poster yang dipajang di situ. Filmnya kelihatannya menarik, namanya cukup populer di telinga saya, dan kalau tidak salah nama pernah disebut di salah satu game hidden object yang pernah saya mainkan. “Sherlock Holmes, detektif brilian yang dengan kemampuannya mengingat berbagai macam detil dengan menggunakan kelima panca inderanya, mampu membuat konklusi tepat yang tidak jarang memecahkan kasus yang sulit sekalipun“, begitu kurang lebih pesan sponsor yang tertulis di situ. Wow, menarik! Apalagi saya adalah tipe orang yang sangat menyukai tipikal film yang menuntut kemampuan untuk berpikir seperti ketika hendak memecahkan puzzle. Okay, what’s the plan now? Take the midnight show, baby! Bagus nak, biasakan diri kamu untuk pulang pagi setiap hari.

Durasinya tidak jauh berbeda dengan yang pertama, tapi yang jelas film yang ini lebih kena di jiwa dan raga saya ketimbang yang pertama. Menarik untuk ditonton, terutama bagi orang-orang yang menyukai plot-plot tak terduga yang ketika di akhir, segalanya menjadi jelas layaknya skenario terselubung yang sempurna. Well, saya tidak akan memberikan spoiler sendiri. Tapi yang pasti, kalau anda tertarik untuk menonton, berarti anda normal. :D

[untuk bacaan seterusnya mungkin akan memusingkan. semoga anda mengerti]

Karakter seorang Sherlock Holmes sangat jelas. Sangat brilian mengingat setiap detil kejadian, dan dapat membuat susunan skenario sempurna dari rangkaian kejadian berkaitan. He’s a perfect ISTJ. Ada beberapa ISTJ yang populer di dunia film, salah satunya adalah Spock (Star Trek) dan Hermione (Harry Potter). Hermione adalah contoh role model yang sempurna untuk seorang ISTJ, karenanya tidak heran hampir semua ISTJ adalah seorang teacher’s pet, atau anak kesayangan guru karena kehebatannya mengingat semua hal yang diajarkan. ISFJ juga sebenarnya mirip dengan ISTJ. Hanya saja, outcome dari ISFJ lebih ke living creatures sedangkan ISTJ lebih ke object or structures.

Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan saya? Yang pasti, saya tidak sehebat Sherlock Holmes dalam mengingat berbagai hal detil dalam jumlah besar. Tapi kita berdua sama dalam satu hal, punya kemampuan untuk membuat keterkaitan atau hubungan dari satu hal ke hal lainnya dengan cepat meski tidak jarang sulit dipahami oleh orang lain.

[bagian tidak dipahami sudah berakhir]

Hari ini saya bertekad untuk menonton Sang Pemimpi, setelah siang tadi baru menyadari kebodohan saya mengingat lokasi gedung parlemen yang seharusnya saya datangi. Semoga kali ini saya berhasil. I’ll let you know later about the movie.

Nantikan juga tulisan saya tentang kaleidoskop 2009 beberapa hari ke depan. I promise you it will be nice to read. :D

Kontes Benc*ng Thailand

Posted in Journal on December 16, 2009 by dplt

hari ini, saya dikejutkan oleh email seorang teman yang berisi foto-foto kontes kecantikan di thailand, dimana kesemua kontestan mengenakan pakaian bikini berwarna pink dengan tatanan rambut yang demikian indahnya. namun yang membuat saya lebih terkejut lagi ialah kontes ini dikhususkan utk war*a.

Klik gambar untuk melihat dalam ukuran penuh.

Waw, benar-benar hot. Bagi pria-pria jomblo yang sudah kehabisan akal untuk berpasangan, opsi seperti ini mungkin bisa jadi jalan keluar yang lebih baik. Mungkin suatu hari nanti, saya juga akan mencobanya bila putus asa.

Dari dulu diyakini kalau populasi wanita itu mendekati dua kali populasi pria. Hal itu dapat dimaklumi mengingat pria-pria pada jaman dulu banyak yang berguguran karena berjuang di medan perang, sementara wanita tetap mengurus anak di rumah (budaya single parent klasik).

Menjelang awal tahun 2000, perbandingan jumlah populasi antara pria dan wanita dikabarkan semakin seimbang 1:1. Hal ini diyakini wajar, mengingat dari segi biologis terbentuknya gen XX maupun XY itu sama besar yaitu 50:50.

Jika pada masa yang akan datang dikabarkan populasi pria kembali menurun, saya kira saya sudah mengerti apa penyebabnya.

Keributan yang tidak perlu

Posted in Journal on December 12, 2009 by dplt

Relokasi.

Pintu terbuka dan saya pun menginjakkan kaki langkah pertama keluar dari bus transjakarta di halte Kota. Ketika itu sudah sore menjelang malam dan seperti hari-hari biasa sudah menjadi tradisi hampir bagi semua orang untuk berlalu-lalang di area-area publik seperti itu.

Jam-jam segitu memang sudah menjadi bulan-bulanan setiap orang yang ingin segera pulang ke rumah masing-masing ataupun menuju tempat lainnya. Perhatian: semua angkutan umum penuh sesak! Tidak terkecuali bus bernomor 02 yang akan saya naiki sampai ke Muara Karang. Syukurlah saya masih mendapat tempat duduk yang layak, meski tidak sedikit yang berdiri sambil kepanasan tidak lupa berdesak-desakan untuk menemukan spacenya masing-masing. Ngetem 15 menit. Cukup lama, dan perjalanan pulang rute ini pun dimulai.

Reaksi.

Tidak jelas dimulai dengan kejadian apa. Yang jelas, teriakan cukup keras terdengar dari arah belakang. Posisi duduk saya sekitar baris ketiga dari depan, jadi cukup jauh dari bangku yang paling belakang. Saya memang tidak mendengarkan percakapan mereka dari awal, tapi rasa-rasanya saya cukup bisa menyimpulkan apa yang terjadi sebelum keributan yang tidak perlu itu dimulai.

Si kenek menegur seorang bapak-bapak, sebut saja Gino, karena dua hal. Pertama, ngotot gelantungan di pinggir pintu belakang sementara masih ada space untuk berdiri di dalam. Kedua, karena menabok kepala si kenek. Kejadian pertama mungkin masih dapat dimaklumi jika Gino memang akan turun tidak lama lagi. Tapi aksinya yang kedua, benar-benar membuat si kenek naik pitam. “Bapak saya aja ga pernah ngegituin saya”, berkali-kali diucapkan olehnya. Dia pun tidak kalah garang, sambil berkata “Gw tunggu loe di lampu merah. Ga usah pake omong loe”. Si kenek membalas, “ngomong baik-baik apa susahnya sih”. Rupa-rupanya, si Gino itu temannya si supir. Hal itu diketahui dari ucapan berikutnya, “Din, lain kali ga usah pake ini kenek. Bikin susah aja. Lain kali pake yang lain. Tau gak loe!”. Dan si supir tampak mengalah sambil memintanya memaafkan si kenek. Si kenek ngga lama ikutan minta maaf, tapi orangnya tambah sensi minta ampun.

Revisi.

Okay, titik klimaks sudah dilalui. Cukup sekian tontonan publik selama kurang lebih berdurasi 10 menit tersebut. Semua orang tampak kembali rileks, sambil menanti gilirannya untuk turun dari mobil besar berwarna biru tersebut. Entah kenapa, saya merasa ada yang janggal dari keributan tadi. Dan tidak lama, keributan yang tidak perlu (plus tidak penting) lainnya kembali terjadi. Kali ini benar-benar dimulai dari gejolak emosi yang dialami si kenek.

Si supir sudah meminta maaf, dan si kenek juga tidak lama turut demikian. Gino pun tampak mulai melembut sambil berdiam diri meski tetap dalam posisi gelantungan di pintu belakang. Entah si kenek kesambet apa, tiba-tiba dia mendatangi Gino dan bilang, “Loe pikir lo siapa sih? Main nabok kepala gw. Heran gw”. Tiga kalimat maut itu sudah lebih dari cukup memancing amarah Gino. Baku hantam nyaris terjadi jika para penumpang yang duduk di deretan belakang tidak berusaha memisahkan keduanya. Gino tetap mengucapkan kalimat-kalimat seperti sebelumnya, “gw tunggu lo di lampu merah”. Sepertinya dia sendiri mulai kehabisan kata-kata.

Remisi.

Suasana mulai mereda beberapa saat kemudian setelah para penumpang tampak awas akan kedua orang tersebut. Semua tentu mengira masalah sudah selesai karena kedua pihak (sepertinya) setuju berdamai setelah ada yang berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah kenek kembali memulai permasalahan yang seharusnya tidak perlu. Di sini saya melihat kedewasaan sang kenek benar-benar di bawah standar. Sudah tidak seharusnya dia berkata demikian, apalagi dia sendiri yang mengucapkan secara sadar kalau dia meminta maaf sebelumnya.

Penumpang demi penumpang mulai turun, dan jumlah penumpang tampak tinggal sepertiga dari awal berangkat dari Kota. Jauh lebih lega dari sebelumnya, dan tidak terlihat satu orang pun yang berdiri. Semua mendapat tempat duduknya masing-masing. Begitu juga Gino, yang duduk di deretan paling belakang bus itu.

Baik Gino maupun si kenek, tampak tidak lagi berinteraksi. Apalagi tentu Gino sudah illfeel dengan ucapan si kenek yang tidak lihat kanan kiri. Mungkin karena itu juga, ia menjadi lebih waspada dengan apa yang akan terjadi kemudian. Terlihat ia mulai berdiri dari tempat duduknya, tampaknya ia akan turun tidak lama lagi. Dan si kenek tampak mengawas-awasi gerak-geriknya sedari tadi.

Refleksi.

Bus sudah mendekati lokasi tujuan saya, dan saya pun berdiri. Berancang-ancang hendak turun, bus mulai menurunkan kecepatannya perlahan-lahan. Masih ada dua rute angkutan lagi yang harus dilalui, semoga ini tidak menjadi malam yang panjang. Cukup pelik sudah setelah kejadian sarat urat syaraf tadi menjadi santapan selama di perjalanan. Saya hanya tidak habis pikir kenapa si kenek yang sudah (terlihat) sangat tulus meminta maaf, dalam sekejap bisa mengubah argumennya seratus delapan puluh derajat tanpa lihat kiri-kanan sedikit pun. Saya jadi meragukan ketulusannya untuk meminta maaf. Salah tidaknya Gino pun, tetap saja kata-kata seperti itu akan memancing emosi orang lain. Untung saja dia (si kenek) bukan adik atau teman saya. Jika iya, maka ia sudah saya iris-iris dengan kata-kata saya yang lembut tapi membunuh.

Okay lah, mungkin si kenek dan Gino sedang dalam kondisi emosional dan keduanya hanya butuh waktu untuk berdiam diri. Jadi setelah keributan kedua tadi, harusnya masing-masing udah sama-sama introspeksi kali ya. Kalau ampe terulang ketiga kali, ya itu namanya udah terlalu amat sangat keterlaluan namanya. Yeah, manusia kadang butuh proses yang menyakitkan untuk belajar, apalagi kalau sampai harus diulang-ulangi. Dua kali sudah lebih cukup seharusnya. Bukankah begitu teman-teman? :)

Repetisi.

Tepat sesaat Gino hendak turun, si kenek mendatanginya utk kesekian kalinya, dan berkata “mau loe apa sih sebenernya? ayo jawab!!”.

Behind The Blog

Posted in Journal on December 4, 2009 by dplt

Ratusan bahkan ribuan kata sudah saya torehkan di blog ini. Dan kali ini, saya terpikir untuk menulis sesuatu yang berbeda dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Ini mengenai apa dan bagaimana proses yang saya alami dalam merangkai kata demi kata, huruf demi huruf hingga memajang sebuah hot new post yang siap anda baca setiap anda mengunjungi blog ini.

Ada beberapa fakta menarik yang bisa saya angkat untuk menjadi topik tulisan selama saya blogging. Salah satunya ialah waktu. Fakta pertama ialah: satu blog post tidak pernah memakan kurang dari 1.5 jam setiap kali saya menulis. Usai menulis kerangka dasar, kalimat-kalimat utama dilengkapi, referensi link-link dimasukkan hingga yang paling terakhir, pengecekan struktur kata dan kalimat atau istilahnya grammar kalau dalam bahasa Inggris. Bagian yang paling terakhir ini bisa dibilang memakan waktu paling lama, karena umumnya saya harus membaca secara keseluruhan berulang-ulang hingga benar-benar yakin tidak ada lagi kesalahan verbal maupun pengetikan. Tapi itu pun masih ada yang lolos kadang. Semoga ke depannya saya lebih peka dalam mencari kesalahan.

Fakta kedua: menulis dengan bahasa Indonesia tetaplah masih lebih nyaman ketimbang bahasa lain. Mungkin ini dikarenakan faktor penguasaan bahasa asing saya yang kurang baik sehingga terkadang kesulitan dalam menginterpretasikan makna yang sebenarnya dari sesuatu yang ingin dituangkan ke dalam tulisan. Terutama kalimat-kalimat tertentu yang implisit (makna terselubung) maupun peribahasa-peribahasa yang tidak bisa langsung dikonversi begitu saja kata demi kata ke bahasa lain. Menggunakan bahasa Inggris ketika menulis ternyata capek juga. Sekali lagi karena ga biasa mungkin, jadinya suka lemot mau nulis kalimat demi kalimat.

Fakta ketiga: ide yang saya dapatkan untuk menulis itu banyak sekali, namun sebaliknya sedikit yang saya salurkan ke blog. Ide itu umumnya datang kapan saja dan di mana saja, tidak terduga. Akan tetapi ketika berhadapan langsung dengan laptop, rasa-rasanya kok agak malas untuk membuka kalimat. Ketika saya menulis, hal pertama yang saya pikirkan tentu saja kerangka karangannya. Di kepala saya umumnya sudah tergambar mau berapa paragraf, dan setiap paragraf membahas tentang apa. Buku kecil yang saya bawa setiap hari menjadi tumpahan sementara ketika ide tersebut datang, namun lagi-lagi ketika ‘kembali ke laptop’, semuanya begitu sulit untuk dimulai.

Fakta keempat: sadar atau sadar, sebagian besar tulisan yang saya muat di sini adalah pengalaman pribadi namun obyektif. Obyektivitasnya dapat ditakar dari pelbagai referensi valid yang saya sajikan melalui referensi khusus untuk memastikan bahwa informasi yang saya bagikan itu aktual. Mengapa saya lebih memilih demikian sebagai dasar penulisan blogging? Karena pengalaman pribadi itu tidak bisa dibantah oleh orang lain. Model penulisan blog semacam ini adalah jurnalistik publik, yang kapan saja di mana saja bisa diakses oleh setiap orang. Oleh karena itu, sangat penting faktor independensi dan orisinalitas tulisan kita disamping pertanggungjawaban mengenai kebenaran informasi di dalamnya. Saya kira kita semua sudah tahu banyak mengenal pelbagai kasus yang diangkat karena menguaknya berita yang bersumber dari sebuah blog. Ini era teknologi informasi, dan kebebasan berpendapat sudah barang menjadi konsekuensi pasti.

Fakta kelima: topik pembahasan yang luas. Saya sadar kalau blog ini topiknya terlalu luas yang ingin dibahas, yang kita bisa liat dari kategori yang tersedia. Ini mungkin bisa dibilang salah satu kelemahan dari sebuah situs sarat informasi seperti ini (blog, bukan situs berita). Ke depannya, saya berencana untuk memecah menjadi beberapa blog berbeda agar informasi lebih terpusat dan fokus dalam menggali konklusi yang lebih relevan tentunya.

Fakta keenam: sedikit sekali yang komen, tapi banyak yang baca. Ini fenomena yang menandakan bahwa orang-orang itu cenderung pasif ketika menanggapi sesuatu hal. Bukan hal basi kalau orang-orang kita itu kurang proaktif. Akan tetapi, setidaknya saya merasa yakin bahwa tulisan saya layak untuk dibaca. Paling tidak, ada sesuatu yang bisa didapat dari pengalaman yang saya bagikan. Jika tidak, berikan saya masukan demi perbaikan ke depannya.

Fakta ketujuh: terbatasnya fitur di wordpress. Salah satu yang saya sayangkan ialah tidak adanya chat box. If only it has.

Fakta kedelapan: hampir semua tulisan saya panjang-panjang :P . Orang jadi males baca, katanya. Forgive me buddy. Saya sering khawatir kalau tulisan saya terlalu dangkal maknanya. Itu kenapa saya terkadang butuh waktu lebih mempertimbangkan apakah tulisan itu layak pajang atau tidak.

Pada intinya, saya suka menulis via blog semacam ini. Banyak hal yang saya pikirkan, namun jarang saya ungkapkan secara verbal. Dan blog ini sangat membantu dalam mengekspresikan hal tersebut. Last but not least, keep happy reading :-)

Pemandangan tak terduga

Posted in Journal on November 23, 2009 by dplt

Tepat pukul setengah lima sore, sesaat lagi waktunya pulang jam kerja. Tak terasa hari pertama kerja setelah tiga minggu ‘berlibur’ ternyata cukup melelahkan juga. Banyak hal yang harus diselesaikan, begitu juga dengan masalah baru yang datang. Semuanya saling melengkapi, setidaknya selama satu hari penuh itu.

Telpon berdering, dan seperti biasa, muncul suatu nomor tak dikenal yang berusaha untuk memanggil. Tanpa basa-basi, panggilan langsung dijawab. Mengingat profesi saya menuntut interaksi dengan banyak orang, rasa-rasanya tidak heran jika banyak nomor tak dikenal yang menyerang.

Me : Hallo
Dia : hayyy. lo ada di mana? gw langsung ke situ yahh.
Me : (langsung berasa aneh. client yang aneh mungkin). Biasa, lagi di kantor.
Dia : lah. knp ga langsung ke sini aja? kumpul sama kita-kita. hihihi.
Me : (mencoba bersabar) kumpul? kok mendadak amat baru sekarang ngasih taunya.
Dia : idih, lah orang lu tadi yang ngajakin. aih, jangan ngeles deh. gw udah cape2 ni ngesot ampe ke sini. buruan deh. GPL!
Me : (waktunya habis) Sorri, ini dengan siapa ya?
Dia : haiyah, pake nanya lagi. Ya <sebut saja Ranti> Ranti lah. nona manis lu. hihihi.
Me : Ranti? Ranti yang mana ya?
Dia : bentar. ini siapa ya?
Me : Saya David. lah, kok bisa dapet nomor saya?

Dia kebingungan utk menjawab, tapi pikiran saya secepat kilat langsung mendeteksi bahwa ini pastilah teman orang lain yang nyasar nelpon ke sini. Tapi kenapa harus ke nomor telpon ini? Oh alah, rupa-rupanya ini nona manisnya seorang teman yang baru saja minta minjem telpon buat sms. Ga modal amat, mau manggil cewe pake sms. Hari gini masih sms? Tapi buset juga dia, minjem telpon buat beginian. Tau begini, ga usah dikasih pinjam.

Itulah panggilan pertama sore itu, salah sambung. Saat ini memang ada seseorang yang ditunggu untuk menelpon, tantenya. Bukan ‘tante’ yang sering disebut di koran berwarna, melainkan personel serumah yang rencananya besok pagi akan tiba di Jakarta menggunakan kereta api. Katanya sih subuh, sekitar jam 4. Jadi, berangkat dari rumah mungkin sekitar jam 3an. Cukup lah kalo dibalap dari rumah. 30 menit-an udah sampai di Gambir harusnya. Semoga. Tak lama kemudian, ia pun menelepon dan mengkonfirmasikan kalau akan sampai di sini sekitar jam 4. Baiklah, kita akan bertemu nanti.

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Pikiran kemana-mana. Setelah akhirnya selesai memasang kabel-kabel twisted pair tipis, akhirnya televisi yang jadi sasaran. Sejak kemarin memang sedang giat-giatnya berurusan dengan kabel dikarenakan rusaknya headset Sennheiser seri HD 202 akibat putus sebuah kabel di ujung panel bagian sebelah kiri. Sudah disambung tapi tetep ngga bunyi. Rupa-rupanya, ada kabel tipis lagi yang ngga keliatan. Yah, tape deh. Buka lagi, potong lagi, bakar lagi. Terus disambung lagi. Setelah itu baru diplester. Kalau di film Dora the Explorer, biasanya dia akan bilang, “Berhasil berhasil berhasil!”. Saya juga ingin berbicara demikian, tapi rasanya tidak lucu jika diucapkan sambil jumpalitan. Acara ‘Take Him Out’ jadi santapan penutup sebelum tidur. Pertama kali nonton, lucu juga acaranya. Maybe next time I’ll watch it, but you know normally I don’t have time for that :p

Tepat jam tiga pagi, saya dibangunkan oleh oom untuk pergi menjemput tante. Ga pake cuci muka, langsung aja cabut pake celana pendek. Takut telat maksudnya. Maklum lah, ini kan masih subuh. Kasihan kalau nunggu di stasiun kelamaan, suasana belum terlihat aman kalau masih jam segitu soalnya. Kita berdua pun berangkat naik mobil, langsung menuju stasiun Gambir melewati Hayam Wuruk dan Gajahmada.

Biasanya saya melewati daerah kota itu ketika pagi dan sore hari. Berangkat dan pulang kantor. Naik busway dari halte Kota dan turun di halte Karet. Begitu juga sebaliknya ketika pulang. Sudah mendarah daging menjadi rutinitas tersendiri. Awalnya sempat heran, melihat satu dua orang wanita mengenakan pakaian minim berdiri berjejeran di sepanjang semacam lapangan parkir motor. Lihat jam, masih pukul setengah empat pagi. Sepertinya lagi ada acara midnight or sejenisnya. Ketika itu ramai juga ternyata, malahan sampai macet pas lewat situ (Hayam Wuruk dan Gajahmada). Makin lama kok makin banyak yang ‘begituan’. Wah wah wah, jangan jangan lagi pada ‘jualan’ nih. Dan benar saja, tepat di depan mobil kami ada satu mobil yang berhenti di pinggir, dan dari sisi penumpang ada yang bercengkerama dengan salah satu yang sedang ‘jualan’ di situ. Tidak lama, sang wanita membuka pintu belakang, dan masuk. Tidak hanya satu, tapi dua orang sekaligus. Sepertinya ada dua orang pria juga di mobil itu. Tapi ga tau juga kalau mereka berencana lain. :)

Melihat pemandangan tak terduga seperti itu, saya menjadi tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh. Dunia malam yang tidak biasa saya kunjungi, sepertinya menjadi menarik karena saya tidak tahu sama sekali. Belum pernah coba, kalau tahu pun dari tipi atau omongan orang-orang. Observasi sepanjang jalan kenangan itu, ada beberapa hal yang bisa disimak.

Yang pertama adalah, setiap ‘penjual’ setidaknya pasti ditemani oleh seorang pria. Entah itu berdiri atau duduk di motor. Kalau berdiri mungkin germo sepertinya, kalau duduk di motor bisa jadi tukang ojek. Pakaian mereka memang minim abis, sampai tali bra saja bisa terlihat dengan sangat jelas dari jarak lima meter. Wajar, walaupun mereka berprofesi demikian, mereka juga butuh perlindungan lebih. Salah-salah malah nanti dicelakain orang.

Kedua, tersebar. Sepertinya ada pengaturan area tertentu atau pembagian daerah yang membuat mereka tersebar secara merata. Tapi itu buat yang nongkrong di jalan. Ada juga yang stay di suatu tempat atau rumah, tanpa saya belum tahu pasti dalamnya seperti apa. Katanya sih, setiap orang dibatasi oleh kaca dan terpasang nomor-nomor di atasnya. Kayak jualan ikan hias gitu. :p. Oh ya, uniknya lagi, yang tersebar di jalanan itu juga ada semacam tim marketingnya. Jadi ada beberapa pria, yang menawarkan beberapa ‘barang jualan’ sesuai dengan harganya masing-masing. Negotiable tentunya.

Ketiga, bayar di muka. Sudah bukan rahasia lagi kalau ini sudah menjadi peraturan umum ketika berbisnis seperti ini. Begitu juga dengan mobil yang berada di depan kami tadi, sempat menyodorkan sejumlah uang kepada sang mandor (atau apapun itu namanya) baru kemudian sang wanita masuk ke mobil. Praktis sekali sistem jual belinya. Bener-bener GPL, kayak yang dibilang sama si penelepon tadi.

Tadi sebelum pulang, saya sempat mampir ke Gramedia untuk membeli beberapa novel buat jadi bacaan beberapa hari ke depan. Sesaat hendak membayar di kasir, saya menemukan buku tipis unik yang membahas mengenai kehidupan malam. Sepintas terpikir untuk membeli, untuk lebih tahu lebih jauh seperti apa kehidupan para kupu-kupu itu. Tapi sepertinya untuk saat ini saya belum berminat untuk membaca. Mungkin nanti jika sempat, saya akan mencari karya Moammar Emka yang sempat mengguncang Jakarta dengan Jakarta Undercover-nya.

Days of Misery II: Inserting more coins

Posted in Journal on November 23, 2009 by dplt

I’m writing this fast, so forgive me if any typos exist.

It’s been a week since I finally went out from the hospital. Yeah, it was horrible days for me. Not long after went out from the first time, I decided to ‘extend’ my presence in such a house for another week. The measles have gone, but my stomach were still in a big problem. It’s like getting worse day by day. I really really couldn’t stand it. I thought it was just a normal heartburn like I had before, but this one got much longer than ever. Really really having a big problem here.

In the second day, the doctor asked me to take a further medical diagnosis to check more detail about what the real problem is. She used a gastroscope, pushing it into my mouth, and she watched it through several screens viewing my internal organ. But I skipped that part. I slept. She said that she has cleaned my stomach as well as my duodenum. But again, thank God I was slept. Otherwise, I must be cried out loud for sure.

One thing for sure. I was injected much more chemical things. Nexium, Calcium container, Aminofluid, and others which I don’t remember. Some of them were painful when injected, some of them were not. And of course, I didn’t like it very much.

The result showed up that I had a duodenal problem. That’s why I had always felt pain on my belly. I just needed more time to recover I thought, and on the fifth day I decided not to ‘insert anymore coins’. There were two things on my mind that time. First, I’d been absent for about three weeks from office. That’s horrible. And second, it’s too pricy staying there.

This year, I spent my birthday in the hospital. I take it as a gift. Maybe its time for me to spend more time to rest than to work. Surprisingly, there were two ladies paid me a visit on the third day. And they even gave me a birthday cake!

The two sweet ladies were Feby and Eve. Thank you very much ladies! That’s very kind of you. One more thing, they were the only visitors while I was in hospital. So of course, their presence were special for me. I couldn’t deny that.

It had been three weeks and I finally worked as usual on the next Monday. Everything was fine, except me. They said I looked very much skinny than before. Well, that’s a pity. Actually, there’s more. From now on: no more soda, no more grilled food, no more fast food, no more junk food, no more instant food. God bless me.

Days of Misery

Posted in Journal on November 8, 2009 by dplt

Days of Misery, artinya hari-hari penuh penderitaan. Dua minggu terakhir ini, saya berkutat dengan masalah kesehatan, masalah yang hampir selalu menghantui saya. Dimulai dari demam tinggi, sakit perut, batuk, pilek, maag, hingga munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Kesemuanya menjadi satu paket yang benar-benar membuat saya tidak berdaya selama berhari-hari. Alhasil, saya pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter, dan sampai pada diagnosis bahwa saya harus dirawat inap selama beberapa hari. Dan ‘petualangan’ ini pun dimulai, tepatnya sudah dimulai namun belum disadari.

 

Day 1: Overture

Tepat setelah selesai mandi dan hendak bergegas ke kantor, mulailah perlahan disadari bahwa kondisi suhu badan tidak seperti biasanya. Awalnya masih tetap mau ngotot berangkat ke kantor, akan tetapi setelah dipertimbangkan lagi, lebih baik istirahat satu hari daripada berhari-hari karena terlambatnya pencegahan. Ide yang baik, pikir saya.

 

Day 2: Tamu tak diundang

Sekitar 7200 detik setelah lewat tengah malam, mendadak saya terbangun dari tidur. Dan pada saat yang sama, perut rasanya sakit bukan main. Rasanya seperti kelaparan tingkat kronis karena belum makan selama dua hari. Akhirnya saya memutuskan untuk turun ke bawah (kamar ada di lantai dua) dan mencari sesuap nasi yang tersisa.

Saya masih ingat dengan jelas kalau perut terisi penuh ketika makan subuh tadi. Anehnya, jam 8 paginya, perut lagi-lagi terasa keroncongan minta ampun. Dari situlah saya tahu, dewa angin telah merasuki saya. Dan lagi, saya memutuskan untuk mengistirahatkan diri untuk kedua kalinya.

 

Day 3: Luapan ganas

Sepuluh ribu delapan ratus detik setelah lewat tengah malam, saya kembali terbangun dari tidur. Mirip seperti kejadian sehari sebelumnya (perut serasa laparnya bukan main), tapi kali ini rasanya lebih parah. Mualnya sampai ke dada, seperti ada yang mau keluar begitu. Merasa tidak nyaman, kamar mandi pun jadi pemberhentian berikutnya. Dan benar saja, isi perut yang berbentuk bubur dan cairan serta hasil cernaan makanan lainnya spontan keluar tanpa kendali layaknya gunung meletus menyemburkan lava. Sepuluh menit lamanya durasi kejadian itu. Dan setelah itu, badan benar-benar lemas tidak berdaya. It’s not getting better for sure.

 

Day 4: Si Merah

Untuk sementara waktu, diprediksikan bahwa saya terserang demam dan masuk angin. Jadi obat yang dikonsumsi juga seputar dua hal itu. Beberapa hari ini saya mengenakan baju lengan dan celana panjang, supaya tidak masuk angin kalau keluar kamar. Betapa terkejutnya saya ketika hendak berganti baju, sekujur tubuh dipenuhi dengan bintik-bintik merah seperti bekas digigit nyamuk. Panik, dan langsung memberitahu orang serumah. Jangan-jangan DBD pula. Bisa berabe kalau iya. Langsung bikin janji dan besoknya mau konsultasi lebih lanjut ke dokter.

 

Day 5: Kejutan

Dari pagi sampai siang, perut ini rasanya mual minta ampun. Sudah empat kali terhitung mulut ini ‘menyembur’. Setelah buat janji dengan sang dokter pukul sebelas siang, akhirnya saya pun berangkat ke rumah sakit untuk meminta pertolongan lebih lanjut.

Semua prediksi sebelumnya ternyata salah (demam dan masuk angin biasa). Menurut sang dokter, saya terkena Cacar Jerman atau dalam bahasa medis sering disebut Rubella. Tidak berbahaya, akan tetapi mengundang demam selama berhari-hari, persis seperti yang saya alami selama beberapa hari sebelumnya. Tapi tidak hanya itu, masih ada satu hal lagi yang tidak terduga. Diare. Untuk yang kedua ini, saya sempat menyanggah bahwa ini adalah murni penyakit maag. Saya sudah cukup pengalaman dengan penyakit yang satu ini, dan bukan pertama kali saya mengalaminya. Itu kenapa saya begitu yakin kalau itu adalah maag biasa.

Sang dokter juga meminta untuk test darah, memastikan kalau itu benar Rubella, bukan yang lain.

 

Day 6: Diam tanpa kata

Hasil lab keluar, 99% dipastikan saya terkena Rubella. Dokter juga menyarankan kalau sebaiknya saya dirawat inap di rumah sakit, akan tetapi saya menolak, berasumsi bahwa campak hanya masalah waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Keadaan masih belum membaik, dan saya hanya bisa terdiam sambil merenungi nasib hingga keesokan harinya.

 

Day 8: Klimaks

Pada hari ini, saya resmi menginap di kamar 5206 Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk. Yang paling saya ingat dari hari ini ialah begitu banyaknya obat yang harus saya minum yakni berjumlah 5 buah. Total sehari 15 buah. Badan terbaring, infus terpasang. Baru hari pertama tapi sudah mulai terasa bosan. Di hari pertama ini, saya masih benar-benar tidak nafsu dan tidak enak makan. Hari ini ditutup dengan munculnya seorang suster cakep berinisial E yang setidaknya membuat hidup saya kembali bersinar meski hanya untuk beberapa saat.

 

Day 9: Apatis

Tepat seminggu sudah saya tidak masuk kantor dan sudah cukup lama untuk membuat teman-teman sekantor menjadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan saya. Tidak banyak hal yang terjadi pada hari ini, kecuali suara teriakan maupun pompa oxygen dari kamar sebelah. Selebihnya? Membosankan.

 

Day 10: Tsunami

Demam sudah mulai reda ditandai dengan suhu badan yang stabil di angka 36.3 derajat Celsius. Tekanan darah juga normal, berkisar di 100-120 di batas atas dan 60-80 di batas bawah. Tapi ada satu yang benar-benar abnormal. Pada hari ini, saya buang air besar encer alias mencret sebanyak 15 kali! Ternyata benar kata sang dokter semenjak awal, bahwa saya terkena diare. Alhasil, bertambahlah jumlah obat yang harus saya minum menjadi 8 buah disamping Nexium buat lambung. Total sehari 24 buah. Wow!

 

Day 11: Depresi

Tidak banyak berbeda dengan hari kemarin, masih mencret-mencret total 8 kali dan perut masih terasa mual seperti biasa. Nafsu makan masih belum lancar tapi untungnya badan sudah tidak berbintik-bintik merah seperti sebelumnya.

Hari ini kebosanan saya sudah mencapai titik jenuh, apalagi dengan sebagian besar waktu saya di rumah sakit dihabiskan sendirian, tanpa orang lain. Keluarga pun juga tidak sempat menjenguk. Uniknya, tidak ada satu teman pun juga yang menjenguk. Untungnya masih ada dua nona yang mau menemani saya via text-messaging selama beberapa waktu. Saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya cukup kecewa dengan kejadian ini, sambil berusaha menghibur diri dengan mencari-cari alasan bagus kenapa mereka berhalangan datang.

Belakangan setelah saya cek di salah-satu-situs-jejaring-terkenal, mereka mengirimkan berbagai komentar di profil saya, padahal jelas-jelas sudah saya tulis sebelumnya, “leave a message (not a comment)”. Lagian gimana cara bisa ngebales komentarnya, kalau orangnya aja ada di rumah sakit. So hard just only to leave a short message.

 

Day 12: Rekonstruksi

Tepat pukul 10 pagi, sang dokter datang untuk melihat kondisi saya seperti hari-hari biasa. Sang dokter akhirnya memberikan lampu hijau untuk kepastian kepulangan saya hari ini, dan saya langsung menghubungi pihak keluarga untuk menjemput. Sekitar seribu dua ratus detik kemudian mereka datang, dan segala keperluan administasi diselesaikan. Phew, akhirnya bisa pulang. Lima hari di rumah sakit serasa lima minggu di rumah sendiri. Entah sudah berapa obat yang saya minum selama di sana, mencapai seratus buah mungkin. Tapi yang jelas, kepulangan saya bukan berarti bebas merdeka. Masih ada segunung warisan obat yang harus dihabiskan plus larangan untuk keluar rumah setidaknya sampai seminggu ke depan (masa inkubasi). Dan itu berarti, akan genap tiga minggu saya tidak masuk kantor. Luar biasa!

Kepulangan hari ini juga disambut dengan kejadian yang kurang mengenakkan yaitu mati listrik. Huh, benar-benar membuat hidup tersiksa. Total hampir 5 jam listrik dipadamkan. Begitu listrik nyala, langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sudah tidak tahan sama keringat yang mengucur deras semenjak siang tadi.

 

Epilog

Boleh dibilang, ini adalah salah satu kejadian permasalahan kesehatan yang tak terlupakan buat saya. Dengan sejumlah penyakit berkumpul, dengan beragam obat menggunung, pantas rasanya kalau kejadian ini diabadikan dalam bentuk blog post imut ini. Semoga selama seminggu sisa ini, saya tidak mati kebosanan seperti hari-hari sebelumnya. Semoga teman-teman saya di divisi SSS (kantor) mau memaafkan kepergian saya selama tiga minggu. Dan yang terpenting, semoga kejadian ini memberikan pelajaran kepada saya untuk selalu mengutamakan kesehatan di atas hal apapun. Semoga anda juga demikian.

FB, Face-Broke?

Posted in Journal on October 18, 2009 by dplt

By this informal acknowledgment, I want to announce anyone that I am no longer using FB since it has discontinued its services (on me).

This last 5 days, I was having problems logging into FB. I don’t know what happened for sure but it always gives me the same error message:

“Your account is currently unavailable due to a site issue. We expect this to be resolved shortly. Please try again in a few minutes.

fb-error2


However, few days ago Finne tested and founded that it is still possible to log in by keep refreshing the page until it shows the contents. Well, I found it so annoying (because waiting and waiting are the most boring things to do, agree?). And later on, I used the same method like she did and I could log in. Maybe it’s just a few minutes maintenance on their databases before recovering the systems, I thought. But wait, I still found it just-like-another-unusual-page to see. What happened here actually?

What I mean here is that I got no wall posts, and the most strange one is that I got 0 friend(s). That was really strange ‘coz it had been about a thousand of friends I had if I remembered it correctly. Bastari said that it was possible that a user (who-should-be-better-not-exist) clicked “report/block this user” on the bottom of the profile page. Theoretically that’s possible, but how come that there’s any user did that on me. That’s just too outrageous. I think Reachy was right, that there’s too much activity on my account last days so that they probably decided to block my account. The last time I uploaded some photos about HILET, it came out about 70-100 notifications every single day for certain, nearly all are about those pictures’ comments or like-this-picture note. I am still find it hard to take, especially after seeing her playing several games in FB so smooth without any problem like I had while I was nearly a whole day in her room yesterday.

So on behalf of my self, I would like gently to say to everyone that I will be lowering my activity on FB due to this accident occured. Currently, I don’t have any other social networking community web account beside FB, and am not really interested to find another one. I hope FB could fix this problem soon, or otherwise I’ll be no longer using it.

But don’t worry, I’ll keep updating my blog for any certain news, events or other activities. You can make a post on this blog or email me for sure. Got no prob with this, right? Good day everyone :)