Siang itu, tanpa dibekali makan siang dari rumah dan tanpa diawali dengan doa pembuka, saya dan teman saya (sebut saja Lingga) terlihat cukup sibuk di meja berukuran 3×1 meter, yang kalau juga boleh dibilang sebuah meja makan tetapi pada jam-jam tertentu. Tentu saja kami berdua bukan sedang berdoa, belajar apalagi bermain bola meski hanya berdua.
Meja berwarna coklat, berbahan dasar kayu, disusun rupa teralis yang tersusun rapi, terduduk main di area luas yang juga dihuni para mahasiswa yang lain. Area foodcourt itu memang tergolong mewah untuk ukuran universitas, meski kawasan kampus tergolong sempit. Hanya dua gedung, berbeda dengan UI, ITB atau UGM yang luasnya bukan main. Yang pasti, jumlah gedung, mahasiswa, meja, kursi, jendela maupun kaleng minuman kosong yang berserakan ketika itu, sama sekali tidak menganggu konsentrasi kami untuk berpikir. Layaknya pertandingan final kompetisi para grandmaster.
“Mate in five“, saya ucapkan seketika setelah langkah kesekian dilakukan untuk memastikan zugzwang yang tak terelakkan lagi, meski Lingga tidak menyadarinya. Lingga terheran-heran sambil berucap, “jangankan bertahan, mau diserang dari mana aja aku ga tau”. Tenang, saya juga tidak meminta anda untuk memikirkan bagaimana solusinya. Langkah berikutnya yang akan saya ambil, itu sangat nyata di mata saya. Akan tetapi, orang lain tidak jarang sulit untuk melihat, apalagi memahami. Tampaknya sudah terlalu sering saya mengalami hal ini, dan kali ini saya berharap tulisan saya bisa membuat pembaca mengerti, jika memang ucapan saya tidak lah lebih berarti.
*zugzwang: suatu kondisi dimana langkah apa saja yang dipilih tidak menguntungkan
Hidup itu ibarat kubus, memiliki enam sisi yang berukuran sama yakni persegi. Keenam persegi itu saling bertolak belakang, dan oleh karenanya, kita tidak bisa melihat kesemuanya sekaligus pada saat yang sama. Maksimal tiga sisi. Meski pada saat yang sama kita tidak bisa melihat tiga sisi yang lain, kita sangat yakin bahwa tiga sisi sisanya adalah persegi juga karena kita percaya dan yakin bahwa benda ini adalah kubus. Inilah prinsip dasar untuk memahami suatu konsep atau prinsip, bahwa dengan kita tahu fundamental atau kerangka dasar dari suatu benda, kita akan bisa melihat jauh bagaimana aplikasinya dalam hal-hal yang lebih kompleks. Bingung?
Andaikan keenam sisi kubus di bawah ini memiliki warna yang berbeda-beda. Merah, kuning, putih, hijau, biru dan hitam. Saat ini kita hanya bisa melihat warna hijau, biru dan merah.
“Melihat“
Meski sudah disebutkan keenam warnanya satu per satu, namun tetap saja sebagian orang tetap ingin melihat keenam sisinya satu per satu. Seakan-akan hendak memastikan keenam warnanya sesuai dengan yang disebutkan. Jika tidak, maka mereka akan keheranan dan sambil berkomentar kalau ini salah warna atau salah cetak.
“Memahami“
Bagi beberapa orang yang lain, mereka merasa tidak perlu lagi melihat ketiga warna yang lain, bahkan mungkin bukan hal aneh bila tidak melihat kubus itu sama sekali. Itu bukan semata-mata karena yakin 100% warna sisanya adalah kuning, putih dan hitam. Sekalipun sisanya bukan tiga warna itu, bukan masalah jika diganti warna yang lain. Kenapa? Karena intinya bukan pada warna apa saja, tapi pada variasi warna yang ada, di mana di setiap sisi terdapat satu jenis warna. Coba anda baca kalimat pertama tadi: “…keenam sisi memiliki warna yang berbeda-beda..”.
————————————————————————————————–
Ketika saya kuliah, banyak orang bertanya apa gunanya belajar ini dan itu. Semua ilmu yang dikomersilkan, paling tidak, pasti ada gunanya. Kalau tidak, mana mungkin bisa dijual. Tinggal pertanyaannya, apakah kita tahu cara menjual kembali ilmu-ilmu tersebut. Kali ini, saya mencoba menjelaskan dengan lebih baik menggunakan ilustrasi yang kedua. Saya namakan ini ilustrasi hati dan persegi.
Coba perhatikan gambar berikut ini.
Ada sebuah persegi besar berwarna putih. Ada sebuah persegi kecil berwarna hijau yang diisi dengan hati berwarna merah. Pertanyaannya: berapa jumlah persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan jika seluruh persegi besar tertutup rapat olehnya? Persegi kecil boleh digeser-geser sedemikian rupa, asalkan jumlah persegi hijau yang bisa didapat menjadi lebih banyak.
Saya beri anda waktu 10 detik untuk memikirkan jawabannya. Sekarang.
Kalau sudah, saya beri anda waktu 10 detik lagi untuk memikirkan ulang jawaban lain yang mungkin. Sekarang.
Mungkin ada yang menjawab “1″. Tapi saya rasa, banyak orang akan memilih angka “4″ sebagai jawaban akhir mereka. Untuk lebih jelas, coba lihat gambar ini.
Jawabannya: ada lima persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan. Keempat persegi pertama tentu sudah jelas didapatkan dari mana. Persegi kelima, didapatkan dari persegi besar yang telah berubah menjadi persegi besar nan hijau. Jangan terkecoh dengan benda-benda lain yang tidak perlu, dalam hal ini adalah gambar hati. Persegi besar tidak memiliki gambar hati secara khusus, namun yang ditanyakan adalah persegi hijau-nya, bukan yang lain. Terkadang, kita terlalu fokus pada detil, sehingga tidak menyadari hal yang lebih besar daripada itu. The bigger picture.
————————————————————————————————–
Saya yakin dari anda semua pasti sangat tahu dengan rumus ajaib ini:
1+1 = 2
Anda pasti setuju bukan? Tetapi, bagaimana dengan ini:
1+1 = 10
Anda tidak percaya?
Anda tidak ‘melihat’?
Anda butuh jawaban yang masuk akal dan logis?
Well….. , apakah anda pernah dengar bilangan biner?
“Blessed are those who have not seen and yet have believed”









