Archive for the Uncategorized Category

Ditolak!

Posted in Uncategorized on October 3, 2009 by dplt

Masih pada tempat yang sama seperti cerita sebelumnya, kali ini kejadian yang tidak kalah membuat kecewa baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Dengan menyisakan sedikit rasa kekesalan memaksakan kedua mata untuk tetap terbuka yang nyata-nyata udah di luar jam operasional, dibuatlah tulisan ini sebagai curahan hati sesaat.

Inti ceritanya sih masih sama, I need a ride in this late midnight. It was 11pm, dan ga banyak pilihan mobil sewaaan (baca: taksi) berkeliaran seperti pada jam-jam biologis penduduk sekitar. Hati sudah mantap utk memutuskan taksi mana pun ngga masalah, asalkan tetap sampai di tujuan dengan selamat. Waktu terus bergerak cepat, dan tak terasa sudah hampir 20 menit berlalu tanpa satu mobil sewaan pun lewat di depan mata. Kaki sudah karatan, mata mulai kunang-kunang, punggung mulai bergeliat ga keruan.

Dari kejauhan terlihat mobil berwarna putih, dan rasa-rasanya ada cahaya kecil berwarna putih di atasnya. Mulai siap-siap ni, palak langsung aja. Udah jarang yang lewat masalahnya. Satu ga dapet, bisa makin lama tar nunggunya. Pas udah deket, sekilas sih belum pernah tau itu nama taksinya apa. Bodo amat lah. Yg penting ada yang bisa dipalak. Pintu dibuka, penumpang pun mulai bercengkerama. “Rumah Sakit PIK, pak”, kata gw. Terus dia bilang, “Ga pake argo ya Pak” dan gw bales langsung (udah antisipasi), “15 pak”. FYI, itu tarif yang normally gw keluarkan tiap kali naik taksi dari situ. Udah deket sebenernya, cuma karena masuk kompleksnya itu jauhnya minta ampun dan angkot yg lewat cuma ampe jam 8, jadilah gw terpaksa naik mobil sewaan kalo nyasar di situ di atas jam setengah 8. Dia berpikir sekitar 10 detik, lalu dia bilang, “ga bisa pak. 20″. Kondisi fisik gw sedang down, mana besok gw harus siap-siap buat ikutan HILET ke puncak. Pada saat yang sama, gw melihat ada taksi BB (baca: Blue Bird) di belakang persis. Dan tanpa pikir panjang, gw pun bilang, “ga mau saya kalo 20. 15 pak”. Dia jawab lagi, “20 pak. ga bisa nih”. Okay okay. Lalu apa respon gw? Langsung buka pintu dan keluar. Dalam hati gw bilang, “I’m really really sorry, sir. It’s already 11.30pm and I don’t seem to have more time to discuss any further if I have another option for sure”. Dan langsung aja, gw cegat itu BB yg di belakang dan naik.

Baru aja duduk dan langsung kebayang di benak gw, “kira-kira gimana ya reaksi si sopir tadi. pasti exhausted banget. ga nyangka kalo gw langsung out tanpa lampu kuning”. Apakah gw jahat? Mungkin, tapi itu karena dia nya yang ga kira-kira main hantem 20. Gw ga sejahat tante gw yang bisa nembak 10 doang buat taksi non-argo kl jd gw. Jadi, apakah gw jahat? No comment aja d. Okay, back to the topic. Gw bilang ama si sopir BB, “Rumah Sakit PIK, pak”. Gw kira dia bakal langsung bilang selamat malam, sambil mencet argo. Eh, malah taunya dia bilang gini, “Wah pak, maaf sekali. Saya lagi buru-buru ke bekasi nih. Mohon maaf pak, tapi saya benar-benar ngga bisa”. Weks, pertama kali gw ditolak begini. Sama sopir mobil sewaan lagi. :( . Ampun, ampun. Masa gw harus nunggu setengah jam lagi buat malak yang lain. Tapi ya sudahlah gw pikir, memang dia mungkin lagi ada panggilan. Gw turun, dan berpikir utk bergerak mendekati hot-spot yg lebih ideal bagi mobil sewaan utk lewat biasanya. Adil juga gw pikir, abis nolak, langsung ditolak. Boy boy.

Mobil sewaan berwarna putih melaju kencang, dan gw pun sudah siap ancang-ancang. Sekitar 200 meter di depannya, ada mobil yang mau puter balik dari arah berlawanan dan otomatis dia berhenti sebentar utk ngasih itu mobil puter balik. But do you what happen then? Si mobil-yg-baru-puter-balik-ini entah knp speed nya itu pas banget buat nutupin si mobil sewaan at-all sampai-sampai gw ga bisa menjangkaunya dengan baik. OMG. Tuhan sedang menguji kesabaran gw nih, gw pikir. Tepat di depan mata gw, dan gw ga bisa berbuat apa-apa. Dan tepat setelah kejadian itu, otak gw rupanya mendadak tidak bisa bekerja dengan baik seperti biasa. Sepertinya terkontaminasi dengan frekuensi perasaan gw yang sedang kacau.

Masih tergiang dengan jelas bagaimana  2 buah penolakan yang baru saja terjadi berlangsung dengan sangat cepat. Aduh, sedih banget rasanya. Udah mid night gini, pengennya cepet tidur. Tapi kok malah kesasar ke sana ke sini. Itung-itung menghibur diri, gw mendekati pasar swalayan terdekat (911), mengambil sebotol coca cola dari kulkasnya, bayar di kasir, keluar, minum, dan menunggu mobil sewaan lain lewat untuk kembali dipalak. Big thank went to the drink. Berkat itu setidaknya gw ga bete-bete amat sepertinya sebelumnya. Setidaknya cukup lah untuk menambal meteran kesabaran gw sampai 20 menit ke depan.

Sekitar 500 meter dari posisi di mana gw berdiri, tampak dari kejauhan sebuah mobil dengan lampu kecil di atasnya bergerak mendekat. Tapi tunggu, dari bempernya kok kayak mercy gitu. Apa gw salah liat ya, gw pikir. Ngapain pusing-pusing ya, kalo emang mobil sewaan, ya babat aja. Ga usah pake mikir kelamaan. Tp feeling gw bilang ada yg ga beres dengan itu mobil, dan bener aja. Coba tebak itu apaan. Silver Bird! Mau? Tanpa pikir panjang, no thanks! :D

Kurang lebih 30 kilometer jauhnya dari tempat di mana gw berdiri, seorang wanita paruh baya dengan wajah yang agak kusam, bergerak mendekati meja riasnya sambil mencari-cari di mana alat komunikasi kesayangannya berada. Perlahan ia buka dengan hati-hati ponsel lipatnya, sambil menekan tombol-tombol ajaib yang bisa mengeluarkan suara berulang-ulang. Sepertinya ia sedang mencari nomor kontak seseorang, dan tidak lama ia berhasil menemukannya. “calling…”, begitu tulisan yang tertera di layar si ponsel dan tidak lama kemudian, sebuah diskusi singkat terjadi, yang memecah kesunyian tengah malam itu.

Si wanita (A): “Udah dimana wil?”
Wil (W): “lagi nunggu taksi nih. dari tadi ga dapet2. edan tenan”
A: “ya wes. jangan malem2. tar kepalamu kambuh lagi kayak kemarin”
W: “iya. aku tinggal ngesot doang ini”

Ponsel ditutup, dan si wanita pun melanjutkan tidur pulasnya yang sempat terputus karena adanya peringatan dari sang anak mengenai saudaranya yang belum juga kunjung pulang. Sebenernya sih kejadian pulang malam begini bukanlah hal yang patut dibesar-besarkan. Tapi mengingat saudaranya sempat tidak masuk kerja karena sakit dan bukan sakit biasa, itu lah yang menjadi masalah. Saudaranya itu punya bakat darah rendah sedari kecil, which means dia bukanlah orang yang punya daya tahan tubuh yang baik. Mudah cape, gampang sakit, meski memang ia tergolong anak yang cerdas. Dan kalo kumat, pasti kepalanya ikutan main. Vertigo, itu kata orang-orang tentang gejala sakit kepala yang membuat hilangnya keseimbangan badan karena kepala serasa pusing tujuh keliling. Wajarlah kalau ia khawatir bukan main, takut ada apa-apa aja sama saudaranya.

Kembali ke drama di mana seorang pangeran sedang menanti datangnya “kuda putih” agar bisa keluar dari hutan belantara di tengah kegelapan malam. Minum minum minum. Sedikit lebih rileks. Minum lagi, kali ini sampai habis. Well, that’s enough for today. Perut gw sudah cukup kembung dengan makanan dan minuman yang gw santap sepanjang hari ini. Ngga lama setelah itu, another white rental-car came, and this is my chance. I got it this time, and everything went fine so far. Melaju dengan kecepatan 60 km/jam, sampailah di depan rumah dalam waktu kurang lebih 10 menit. Phew, thanks God for this. What a moment. I think I’ll just go to sleep this time, because I am very very tired right now. Bonne nuit, chacun!

PS: sorry kalo tulisan gw rada berantakan kali ini. bener2 lagi ga konsen buat nulis, tapi pengen nulis. T.T

Hello world!

Posted in Uncategorized on February 26, 2008 by dplt

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!