<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>I am here</title>
	<atom:link href="http://dplt.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dplt.wordpress.com</link>
	<description>dplt</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Jan 2010 17:21:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dplt.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e42e37d0b24462c9b1610830d8a92db2?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>I am here</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dplt.wordpress.com/osd.xml" title="I am here" />
		<item>
		<title>Hati dan Persegi (to understand and to see)</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2010/01/05/persegi-dan-hati/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2010/01/05/persegi-dan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 16:06:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu, tanpa dibekali makan siang dari rumah dan tanpa diawali dengan doa pembuka, saya dan teman saya (sebut saja Lingga) terlihat cukup sibuk di meja berukuran 3&#215;1 meter, yang kalau juga boleh dibilang sebuah meja makan tetapi pada jam-jam tertentu. Tentu saja kami berdua bukan sedang berdoa, belajar apalagi bermain bola meski hanya berdua.
Meja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=432&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Siang itu, tanpa dibekali makan siang dari rumah dan tanpa diawali dengan doa pembuka, saya dan teman saya (sebut saja Lingga) terlihat cukup sibuk di meja berukuran 3&#215;1 meter, yang kalau juga boleh dibilang sebuah meja makan tetapi pada jam-jam tertentu. Tentu saja kami berdua bukan sedang berdoa, belajar apalagi bermain bola meski hanya berdua.</p>
<p>Meja berwarna coklat, berbahan dasar kayu, disusun rupa teralis yang tersusun rapi, terduduk main di area luas yang juga dihuni para mahasiswa yang lain. Area foodcourt itu memang tergolong mewah untuk ukuran universitas, meski kawasan kampus tergolong sempit. Hanya dua gedung, berbeda dengan UI, ITB atau UGM yang luasnya bukan main. Yang pasti, jumlah gedung, mahasiswa, meja, kursi, jendela maupun kaleng minuman kosong yang berserakan ketika itu, sama sekali tidak menganggu konsentrasi kami untuk berpikir. Layaknya pertandingan final kompetisi para grandmaster.</p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/problemsolving05.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-433" title="problemsolving05" src="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/problemsolving05.jpg?w=280&#038;h=280" alt="" width="280" height="280" /></a></p>
<p>&#8220;<em>Mate in five</em>&#8220;, saya ucapkan seketika setelah langkah kesekian dilakukan untuk memastikan <em>zugzwang</em> yang tak terelakkan lagi, meski Lingga tidak menyadarinya. Lingga terheran-heran sambil berucap, &#8220;jangankan bertahan, mau diserang dari mana aja aku ga tau&#8221;. Tenang, saya juga tidak meminta anda untuk memikirkan bagaimana solusinya. Langkah berikutnya yang akan saya ambil, itu sangat nyata di mata saya. Akan tetapi, orang lain tidak jarang sulit untuk <strong>melihat</strong>, apalagi <strong>memahami</strong>. Tampaknya sudah terlalu sering saya mengalami hal ini, dan kali ini saya berharap tulisan saya bisa membuat pembaca mengerti, jika memang ucapan saya tidak lah lebih berarti.</p>
<p>*<a title="Zugzwang" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Zugzwang" target="_blank">zugzwang</a>: suatu kondisi dimana langkah apa saja yang dipilih tidak menguntungkan</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/grayscale_rubik_s_cube.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-434" title="grayscale_rubik_s_cube" src="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/grayscale_rubik_s_cube.jpg?w=315&#038;h=315" alt="" width="315" height="315" /></a></p>
<p>Hidup itu ibarat <span style="text-decoration:underline;">kubus</span>, memiliki enam sisi yang berukuran sama yakni persegi. Keenam persegi itu saling bertolak belakang, dan oleh karenanya, kita tidak bisa melihat kesemuanya <strong>sekaligus</strong> pada saat yang sama. Maksimal tiga sisi. Meski pada saat yang sama kita tidak bisa melihat tiga sisi yang lain, kita sangat yakin bahwa tiga sisi sisanya adalah <span style="text-decoration:underline;">persegi</span> juga karena kita percaya dan yakin bahwa benda ini adalah kubus. Inilah prinsip dasar untuk memahami suatu konsep atau prinsip, bahwa dengan kita tahu fundamental atau kerangka dasar dari suatu benda, kita akan bisa melihat jauh bagaimana aplikasinya dalam hal-hal yang lebih kompleks. Bingung?</p>
<p>Andaikan keenam sisi kubus di bawah ini memiliki warna yang berbeda-beda. Merah, kuning, putih, hijau, biru dan hitam. Saat ini kita hanya bisa melihat warna hijau, biru dan merah.</p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/face_colored_cube.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-435" title="Face_colored_cube" src="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/face_colored_cube.png?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>&#8220;<strong>Melihat</strong>&#8220;</p>
<p>Meski sudah disebutkan keenam warnanya satu per satu, namun tetap saja sebagian orang tetap ingin melihat keenam sisinya satu per satu. Seakan-akan hendak memastikan keenam warnanya sesuai dengan yang disebutkan. Jika tidak, maka mereka akan keheranan dan sambil berkomentar kalau ini salah warna atau salah cetak.</p>
<p>&#8220;<strong>Memahami</strong>&#8220;</p>
<p>Bagi beberapa orang yang lain, mereka merasa tidak perlu lagi melihat ketiga warna yang lain, bahkan mungkin bukan hal aneh bila tidak melihat kubus itu <span style="text-decoration:underline;">sama sekali</span>. Itu bukan semata-mata karena yakin 100% warna sisanya adalah kuning, putih dan hitam. Sekalipun sisanya bukan tiga warna itu, bukan masalah jika diganti warna yang lain. Kenapa? Karena intinya bukan pada warna apa saja, tapi pada variasi warna yang ada, di mana di setiap sisi terdapat satu jenis warna. Coba anda baca kalimat pertama tadi: &#8220;&#8230;keenam sisi memiliki warna yang berbeda-beda..&#8221;.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Ketika saya kuliah, banyak orang bertanya apa gunanya belajar ini dan itu. Semua ilmu yang dikomersilkan, paling tidak, pasti ada gunanya. Kalau tidak, mana mungkin bisa dijual. Tinggal pertanyaannya, apakah kita tahu cara menjual kembali ilmu-ilmu tersebut. Kali ini, saya mencoba menjelaskan dengan lebih baik menggunakan ilustrasi yang kedua. Saya namakan ini <span style="text-decoration:underline;">ilustrasi hati dan persegi</span>.</p>
<p>Coba perhatikan gambar berikut ini.</p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-436" title="1" src="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Ada sebuah persegi besar berwarna putih. Ada sebuah persegi kecil berwarna hijau yang diisi dengan hati berwarna merah. Pertanyaannya: berapa jumlah persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan jika seluruh persegi besar tertutup rapat olehnya? Persegi kecil boleh digeser-geser sedemikian rupa, asalkan jumlah persegi hijau yang bisa didapat menjadi lebih banyak.</p>
<p>Saya beri anda waktu 10 detik untuk memikirkan jawabannya. Sekarang.</p>
<p>Kalau sudah, saya beri anda waktu 10 detik lagi untuk memikirkan ulang jawaban lain yang mungkin. Sekarang.</p>
<p>Mungkin ada yang menjawab &#8220;1&#8243;. Tapi saya rasa, banyak orang akan memilih angka &#8220;4&#8243; sebagai jawaban akhir mereka. Untuk lebih jelas, coba <a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/2-copy1.jpg" target="_blank">lihat gambar ini</a>.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Jawabannya</span>: ada lima persegi berwarna hijau yang bisa kita dapatkan. Keempat persegi pertama tentu sudah jelas didapatkan dari mana. Persegi kelima, didapatkan dari persegi besar yang telah berubah menjadi persegi besar nan hijau. Jangan terkecoh dengan benda-benda lain yang tidak perlu, dalam hal ini adalah gambar hati. Persegi besar tidak memiliki gambar hati secara khusus, namun yang ditanyakan adalah persegi hijau-nya, bukan yang lain. Terkadang, kita terlalu fokus pada detil, sehingga tidak menyadari hal yang lebih besar daripada itu. <em>The bigger picture.</em></p>
<p><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
</em></p>
<p>Saya yakin dari anda semua pasti sangat tahu dengan rumus ajaib ini:</p>
<p><strong>1+1 = 2</strong></p>
<p>Anda pasti setuju bukan? Tetapi, bagaimana dengan ini:</p>
<p><strong>1+1 = 10</strong></p>
<p>Anda tidak percaya?<br />
Anda tidak &#8216;melihat&#8217;?<br />
Anda butuh jawaban yang masuk akal dan logis?</p>
<p>Well&#8230;.. , apakah anda pernah dengar bilangan biner? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>&#8220;Blessed are those who have not seen and yet have believed&#8221;<br />
</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=432&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2010/01/05/persegi-dan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/problemsolving05.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">problemsolving05</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/grayscale_rubik_s_cube.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">grayscale_rubik_s_cube</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/face_colored_cube.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Face_colored_cube</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaleidoskop 2009</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2010/01/01/kaleidoskop-2009/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2010/01/01/kaleidoskop-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 18:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[CLICK HERE TO READ IN ENGLISH
Sudah pukul lewat sebelas malam. Meski ini sudah masuk jamnya orang tidur, masih banyak orang berkeliaran di luar sana melakukan ritual tahunan dengan bersenjatakan terompet panjang berwarna-warni menyambut datangnya tahun baru. 2010. Ditemani biskuit Khong Guan dan segelas air putih, tulisan-tulisan ini pun dimulai perlahan-lahan.
Banyak peristiwa menarik terjadi sepanjang tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=395&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="Kaleidoskop 2009 (English)" href="http://dplt.wordpress.com/kaleidoskop-2009-eng/" target="_blank">CLICK HERE TO READ IN ENGLISH</a></p>
<p>Sudah pukul lewat sebelas malam. Meski ini sudah masuk jamnya orang tidur, masih banyak orang berkeliaran di luar sana melakukan ritual tahunan dengan bersenjatakan terompet panjang berwarna-warni menyambut datangnya tahun baru. 2010. Ditemani biskuit Khong Guan dan segelas air putih, tulisan-tulisan ini pun dimulai perlahan-lahan.</p>
<p>Banyak peristiwa menarik terjadi sepanjang tahun 2009 ini. Peristiwa di luar negeri dimulai dari gejolak resesi ekonomi di Amerika Serikat (US), ketika presiden berkulit hitam pertama, <a title="Barack Obama" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Barack_Obama" target="_blank">Barack Hussein Obama</a>, baru saja terpilih dan mulai menjalankan masa tugasnya hingga lima tahun ke depan. Belakangan ia baru saja memenangkan <a title="Nobel Peace Prize" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nobel_Peace_Prize" target="_blank">Nobel Perdamaian</a> karena keberhasilannya mengantisipasi gejolak terorisme di negaranya. Peristiwa di dalam negeri pun juga tak kalah menarik, mulai dari kematian mahasiswa Indonesia di <a title="Nanyang Technological University" href="http://www.ntu.edu.sg" target="_blank">Nanyang Technological University</a> hingga Pemilu 2009 yang dimenangkan <a title="Susiko Bambang Yudhoyono" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Susilo_Bambang_Yudhoyono" target="_blank">SBY</a> dan <a title="Democratic Party (Partai Demokrat)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Democratic_Party_(Indonesia)" target="_blank">PD</a> dengan presentase lebih dari enam puluh persen.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Situ_Gintung#2009_flood" target="_blank">Jebolnya tanggul Situ Gintung</a> benar-benar di luar dugaan. Dan sebagai gantinya, jumlah orang yang tidak sedikit pun yang menjadi korban. Peristiwa penembakan diam-diam pun turut menhiasi tahun ini dengan ditembaknya direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen dari jarak yang cukup jauh ketika sedang berada di dalam mobil. Kasus ini menjadi rentetan kejadian berantai dengan munculnya dugaan <a title="Antasari Azhar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antasari_Azhar" target="_blank">Antasari Azhar</a> sebagai dalang pembunuhan ini.</p>
<p>Pergolakan pemberantasan korupsi di Indonesia juga berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Mulai dari ditahannya Antasari Azhar sebagai ketua <a title="Komisi Pemberantasan Korupsi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Corruption_Eradication_Commission" target="_blank">KPK</a>, karena diduga terlibat dalam kasus penembakan Nasrudin Zulkarnaen karena keterlibatannya dengan seorang pihak ketiga yang bernama Rhani Juliani mengangkat tema cinta segitiga dengan berasumsi bahwa Antasari menginginkan Rhani lebih lanjut.</p>
<p>Gejolak di KPK sendiri belum berakhir karena dua pemimpin sementara mereka, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, ditahan karena dugaan ancaman pemerasan terhadap munculnya pemain baru, Anggodo Wijaya (yang kakaknya sendiri pun sebenarnya merupakan &#8216;pemain lama&#8217; yaitu Anggoro Wijaya, direktur utama PT. Masaro, yang terlibat dalam kasus suap anggota DPR dalam proses pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu &#8211; SKRT di Departemen Kehutanan). Berbagai aksi protes dan demonstrasi dengan slogan &#8220;Cicak melawan Buaya&#8221; pun menjadi topik panas dengan diangkatnya berita mengenai perseturuan antara KPK dan Polri yang dianggap menghalang-halangi KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia.</p>
<p>Pelbagai kejadian di atas baru terlihat lebih jelas setelah ditarik garis merah bagaimana Antasari Azhar hendak memulai pengusutannya akan pengaliran dana Bank Century. Aliran dana sekian miliar yang diduga menjadi dana kampanye SBY memberikan kejutan yang luar biasa kepada publik. Spekulasi demi spekulasi hingga berbagai pihak yang turut menerima dana tersebut menjadi sorotan semua pihak. Partai Demokrat yang menjadi &#8216;kendaraan&#8217; SBY ketika memenangkan Pemilu pun juga menjadi pertanyaan besar, mengingat kemenangan mereka sungguh di luar dugaan dengan angka mutlak enam puluh persen yang mereka dapatkan.</p>
<p>Aliran miliar rupiah yang keluar dari Bank Century juga bukannya tanpa pertanyaan. Ironisnya, pengaliran dana tersebut terjadi setelah Bank Century mendapatkan <em>bail out</em> dari pemerintah Indonesia. Lalu, apakah dana <em>bail out</em> itu semata-mata hanya untuk mendanai kampanye SBY? <a title="Boediono" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Boediono" target="_blank">Boediono</a> dan <a title="Sri Mulyani Indrawati" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sri_Mulyani_Indrawati" target="_blank">Sri Mulyani</a> tentu saja menjadi sasaran tembak selanjutnya karena dua figur itu lah yang menjadi pemeran penting disetujuinya <em>bail out</em> Bank Century.</p>
<p><em>bail out : peminjaman dana kepada suatu lembaga yang dinilai pailit untuk memperbaiki kondisi ekonomi<br />
</em></p>
<p>Belakangan, <a title="George Junus Aditjondro" href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Junus_Aditjondro" target="_blank">George Junus Aditjondro</a> menulis sebuah buku berjudul <a title="Download here" href="http://www.4shared.com/file/185116280/5a497bee/Membongkar_Gurita_Cikeas__Full.html" target="_blank">&#8220;Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century&#8221;</a>. Buku yang baru saya dapatkan dua hari yang lalu ini, sudah saya habiskan hari ini. Satu hal yang pasti, kita harus berhati-hati ketika membaca yang menyajikan data dalam jumlah sangat besar dan kritis seperti yang ada di dalam buku itu. Jika tidak, maka itu sangat berpotensi akan penyesatan publik karena data yang tidak benar. Anda tahu buku <a title="The Da Vinci Code" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Da_Vinci_Code" target="_blank">&#8220;Da Vinci Code&#8221;</a> karangan <a title="Dan Brown" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dan_Brown" target="_blank">Dan Brown</a>?</p>
<p>Kematian David Hartanto Widjaja patut kita cermati lebih lanjut. Integritas pemerintah kita dalam membela hak rakyatnya yang berada di negeri orang patut diberikan tanda tanya besar. Tidak sedikit TKI yang mengalami berbagai perlakukan kekerasan di negara tetangga. Sebaliknya, koruptor yang &#8216;lari&#8217; ke negara tetangga pun seperti tak tersentuh, seakan hukum ekstradisi sudah tidak berlaku lagi di kawasan ASEAN ini. David, yang kebetulan namanya sama dengan saya, diduga melakukan aksi bunuh dengan melompat dari lantai 4 di salah satu gedung kampus NTU setelah diketahui gagal menghabisi dosennya, <a title="Chan Kap Luk's NTU profile page" href="http://www3.ntu.edu.sg/eee/EEE3/cv/eklchan.htm" target="_blank">Chan Kap Luk</a>, yang dinilai mempersulit skripsinya di tahun terakhir. Peristiwa kematian mahasiswa NTU lainnya sempat mengikuti peristiwa ini, meski pada akhirnya kasus ini selesai dengan keputusan bahwa David memang bunuh diri. Sebuah fakta menyesakkan memang, meski memang pernah ada <a title="Pembantaian Virginia Tech" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Virginia_Tech_massacre" target="_blank">kasus serupa</a> tapi tak sama yang dilakukan oleh <a title="Seung-Hui Cho" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Seung-Hui_Cho" target="_blank">Seung-Hui Cho</a> di <a title="Virginia Tech Home Page" href="http://www.vt.edu/" target="_blank">Virginia Tech</a>. Ironisnya, berita David ini tidak lagi terdengar gaungnya setelah dimulainya berita pemilu hingga pertengahan tahun.</p>
<p><a title="RS Omni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Sakit_Omni_Internasional" target="_blank">Rumah Sakit Omni Tangerang</a> menjadi bulan-bulanan media massa setelah salah satu pasiennya, <a title="Prita Mulyasari" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prita_Mulyasari" target="_blank">Prita Mulyasari</a>, menulis keluhannya melalui email kepada beberapa temannya. Masalah kecil ini kemudian menjadi luar biasa besar setelah ia disidangkan secara perdata mengenai pencemaran nama baik hingga ia terancam untuk mendekam di penjara. Malpraktik sebenarnya bukan lagi hal yang aneh di masyarakat kita. Hanya saja, sedikit dari kejadian tersebut yang terlihat ke permukaan.</p>
<p>Sinetron berjudul &#8220;Manohara&#8221; menjadi perbincangan orang banyak setelah popularitasnya melonjak tajam setelah masalah pribadi <a title="Manohara" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Manohara_Odelia_Pinot" target="_blank">Manohara Odelia Pinot</a> dengan <a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Tengku_Muhammad_Fakhry_Petra_lbni_Sultan_lsmail_Petra" target="_blank">Pangeran Kelantan Malaysia, Tengku Muh. Fakhry</a>, menjadi <em>hot topic</em> semua siaran infotainment dalam seketika. Hebatnya, popularitasnya bahkan melebihi kasus kematian David sebelumnya.</p>
<p>Kasus terorisme di Indonesia sepertinya juga tidak ketinggalan ambil bagian. Kemunculan kembali ledakan bom di JW Merriott sepertinya mengenang peristiwa ledakan bom di Bali beberapa tahun silam. Kali ini, dengan rencana yang tidak kalah rapi, <a title="Noordin M. Top" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Noordin_Mohammad_Top" target="_blank">Noordin M. Top</a> berhasil membuat aparat pemerintah kebakaran jenggot dengan keberhasilannya dalam merancang aksi terorisme maupun meloloskan diri dalam sekejap. Belakangan, diyakini Noordin sudah berhasil dinetralisir bersama dengan mertuanya, Baridin alias Bahrudin Latif, juga tertangkap setelah bersembunyi di daerah Garut.</p>
<p>Dan pada akhirnya, berita duka cita menjadi penutup tahun 2009 ini setelah dikabarkan meninggalnya <a title="Abdurrachman Wahid" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Wahid" target="_blank">Gus Dur</a> dan <a title="Frans Seda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Seda" target="_blank">Frans Seda</a>. Gus Dur menjadi figur sentral budaya yang patut diperhitungkan dalam satu dekade terakhir ini setelah keberhasilannya membawa negeri ini keluar dari masa orde baru yang identik dengan keluarga Cendana selama lebih dari tiga dekade. Frans Seda, yang juga merupakan salah satu tokoh di masa orde baru menjabat beberapa posisi menteri pada tahun 60-an, juga patut kita ingat sebagai salah satu tokoh ekonomi yang membangun negeri ini. Selamat jalan Pak!</p>
<p>Akhir kata, semoga tahun 2010 ini membawa negeri kita menjadi lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga di tahun ini, impian dan keinginan kita tercapai, dan semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Happy New Year 2010!</p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/happynewyear.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-396" title="HappyNewYear" src="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/happynewyear.jpg?w=450&#038;h=345" alt="" width="450" height="345" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=395&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2010/01/01/kaleidoskop-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2010/01/happynewyear.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">HappyNewYear</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Christmas 2009: Home Alone</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/12/27/christmas-2009-home-alone/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/12/27/christmas-2009-home-alone/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 09:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum saya mulai tulisan panjang ini, pertama-tama perkenankan saya untuk mengucapkan Selamat Natal bagi anda bila merayakannya. Semoga Natal kali ini memberikan rahmat dan berkah bagi kita semua. Amen.
Waktu menunjukkan 19.30 malam, detik-detik menjelang datangnya asupan gizi terakhir untuk hari ini. Beberapa hari ini saya selalu terbangun di siang hari, dan tentu saja itu selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=384&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebelum saya mulai tulisan panjang ini, pertama-tama perkenankan saya untuk mengucapkan Selamat Natal bagi anda bila merayakannya. Semoga Natal kali ini memberikan rahmat dan berkah bagi kita semua. Amen.</p>
<p>Waktu menunjukkan 19.30 malam, detik-detik menjelang datangnya asupan gizi terakhir untuk hari ini. Beberapa hari ini saya selalu terbangun di siang hari, dan tentu saja itu selalu menjadi hambatan untuk ritual harian semenjak ditinggal sekeluarga balik kampung yang antara lain menggunakan media air berbusa (baca: mencuci) hingga sesajen untuk dewa matahari (baca: menjemur pakaian).</p>
<p>Tidak ada orang lain sama sekali, kecuali tetangga itupun kalau mereka ada, semuanya saya kerjakan sendirian. Dan memasak pun tanpa kecuali. Untuk makan pagi dan siang, biasanya buat sendiri. Sementara untuk malam, saatnya kita ber-<em>free-style</em> ria. Begitu juga untuk hari ini. Sudah kali keenam saya melakukan ini dalam hitungan hari. Dan malam ini, saya merasa begitu bosan karena akan melakukannya lagi dan lagi tanpa ada variasi.</p>
<p>Saya harus melakukannya dengan cara yang berbeda untuk malam ini, setidaknya supaya saya tidak mati kebosanan di rumah, di depan laptop setiap hari, berchat ria, buka FB, ataupun kelayapan buka forum sana sini, baca situs berita ini dan itu, tanpa bermain game sedikit pun. Kenapa tidak main game? Karena saya sedang malas main game. Rasanya ingin melakukan hal lain yang lebih berguna secara riil, dan itu lah yang saya pikirkan sekarang. <em>We need more actions here.</em></p>
<p>Alhasil, situs <a title="Cineplex Home Page" href="http://21cineplex.com" target="_blank">cineplex</a> yang jadi sasaran berikutnya. Dengan rencana yang cukup matang, alhasil direncanakanlah untuk nonton <a title="Sang Pemimpi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Pemimpi" target="_blank">Sang Pemimpi</a> di Pluit Junction pukul 21:25. Sekarang sudah pukul 20:30, dan saya harus bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan jatah kursi di parlemen (baca: bioskop) nanti.</p>
<p>Di samping acara makan malam singkat sebelum mencari jatah kursi nantinya, sempat terpikir untuk mencari teman untuk menonton bareng. Maklum, nonton sendiri kurang seru sebenarnya walaupun ketika mulai menonton, rasanya tidak banyak berbeda. Tapi mengingat waktunya yang miris dan lokasi rumah dari beberapa teman yang cukup jauh, disimpulkan bahwa ini akan saya lalui sendirian. A.G.A.I.N. <em>Enough talk, let&#8217;s move out.</em></p>
<p>Pukul 20:50, tepat sampai di lokasi dinner. Pesan nasi goreng telur siap saji, satu piring sudah cukup untuk membuat perut keroncongan ini menjadi bertenaga seketika. Tidak banyak yang diceritakan, selain langit mulai meneteskan air mata. Oh tidak. <em>I have to move faster.</em></p>
<p>Pukul 21:10, tepat berada di depan counter pembelian tiket di Pluit Junction. Antri  antri antri. Sampai depan mbaknya, mendadak gw jadi tulalit sendiri. Walah, ada apa? Apa mbaknya cakep? Manis? Imut? Menggemaskan? Mungkin iya, tapi sayangnya bukan itu. Film yang mau saya tonton, <strong>Sang pemimpi</strong>, tidak ada di list schedulenya! Beuh, kenapa bisa begini? Inget inget inget, tadi tulisannya di parlemen (baca lagi: bioskop) mana. Memang tadi saya buka beberapa tab di firefox untuk beberapa parlemen yang berbeda yang kesemuanya berdekatan dengan lokasi tempat tinggal. Oh! Mungkin di parlemen satunya lagi. No more time, langsung aja saya ngesot ke tempat parkir untuk bermutasi dengan cepat. Keraguan sempat menyelimuti beberapa saat, apakah benar itu parlemen yang dimaksud. Sempat dicoba untuk nelpon <a title="Agnes' Facebook Page" href="http://www.facebook.com/agnestasia" target="_blank">Agnes</a> dan <a title="Avandhy Wibowo" href="http://coolhyde.blogspot.com" target="_blank">Avandhy</a> untuk minta tolong lihat di cineplex, sapa tau mereka lagi depan kompie. Tapi sayangnya, ring out. <em>I&#8217;m on my own, baby.</em></p>
<p>Segalanya terasa begitu cepat dalam hitungan menit. Dan dalam tujuh menit, saya sudah berada di gedung parlemen yang berbeda. Sempat nyasar pula nyari tempat parkirnya. Sayang ga ada extra time kayak pas main bola. Langsung aja menuju ke XXI dan mata langsung tertuju ke layar tancap yang tertulis studio dan film yang akan diputar. Hasilnya? A.G.A.I.N. Film yang mau saya tonton tidak terdaftar. Alamak! Jangan-jangan cineplexnya boong nih. Tulisnya apa, yang diputar apa. Keringetan, cape lari sana lari sini, untuk menghibur sedikit lara maka saya memutuskan untuk menonton film apa aja yang masih mungkin, selama masih masuk genre. Dan pilihan pun jatuh pada: <a title="Bodyguards and Assassins" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bodyguards_and_Assassins" target="_blank">Bodyguards and Assassins</a>. Kalau dilihat sepintas, rasa-rasanya film tentang jaman perjuangan revolusi Cina nih. Tapi ya lihat aja nanti, pikir saya.</p>
<p>Total dua jam penuh, film itu diputar. Cukup banyak adegan kekerasan di film ini, dimulai dari kepala dipelintir, aksi benda-benda tajam, hingga cipratan darah sampai ke mana-mana. Tapi satu yang pasti, film ini bisa membangkitkan semangat seseorang untuk berjuang lebih baik lagi. Film yang bagus untuk menanamkan nasionalisme akan revolusi. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Saatnya kita pulang ke rumah masing-masing.</p>
<p>Ketika melewati lorong pas mau keluar, sepintas tertarik dengan salah satu poster yang dipajang di situ. Filmnya kelihatannya menarik, namanya cukup populer di telinga saya, dan kalau tidak salah nama pernah disebut di salah satu game hidden object yang pernah saya mainkan. &#8220;<a title="Sherlock Holmes The Movie" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sherlock_Holmes_(2009_film)" target="_blank">Sherlock Holmes, detektif brilian yang dengan kemampuannya mengingat berbagai macam detil dengan menggunakan kelima panca inderanya, mampu membuat konklusi tepat yang tidak jarang memecahkan kasus yang sulit sekalipun</a>&#8220;, begitu kurang lebih pesan sponsor yang tertulis di situ. Wow, menarik! Apalagi saya adalah tipe orang yang sangat menyukai tipikal film yang menuntut kemampuan untuk berpikir seperti ketika hendak memecahkan puzzle. <em>Okay, what&#8217;s the plan now? Take the midnight show, baby!</em> Bagus nak, biasakan diri kamu untuk pulang pagi setiap hari.</p>
<p>Durasinya tidak jauh berbeda dengan yang pertama, tapi yang jelas film yang ini lebih kena di jiwa dan raga saya ketimbang yang pertama. Menarik untuk ditonton, terutama bagi orang-orang yang menyukai plot-plot tak terduga yang ketika di akhir, segalanya menjadi jelas layaknya skenario terselubung yang sempurna. Well, saya tidak akan memberikan spoiler sendiri. Tapi yang pasti, kalau anda tertarik untuk menonton, berarti anda normal. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong><em>[untuk bacaan seterusnya mungkin akan memusingkan. semoga anda mengerti]</em></strong></p>
<p>Karakter seorang <a title="Sherlock Holmes" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sherlock_Holmes" target="_blank">Sherlock Holmes</a> sangat jelas. Sangat brilian mengingat setiap detil kejadian, dan dapat membuat susunan skenario sempurna dari rangkaian kejadian berkaitan. <em>He&#8217;s a perfect ISTJ</em>. Ada beberapa ISTJ yang populer di dunia film, salah satunya adalah <a title="Spock" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spock" target="_blank">Spock (Star Trek)</a> dan <a title="Hermione Granger" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hermione_granger" target="_blank">Hermione (Harry Potter)</a>. Hermione adalah contoh role model yang sempurna untuk seorang ISTJ, karenanya tidak heran hampir semua ISTJ adalah seorang <em>teacher&#8217;s pet</em>, atau anak kesayangan guru karena kehebatannya mengingat semua hal yang diajarkan. ISFJ juga sebenarnya mirip dengan ISTJ. Hanya saja, <em>outcome</em> dari ISFJ lebih ke <em>living creatures</em> sedangkan ISTJ lebih ke <em>object or structures</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan anda? Bagaimana dengan saya? Yang pasti, saya tidak sehebat Sherlock Holmes dalam mengingat berbagai hal detil dalam jumlah besar. Tapi kita berdua sama dalam satu hal, punya kemampuan untuk membuat keterkaitan atau hubungan dari satu hal ke hal lainnya dengan cepat meski tidak jarang sulit dipahami oleh orang lain.</p>
<p><em><strong>[bagian tidak dipahami sudah berakhir]</strong></em></p>
<p>Hari ini saya bertekad untuk menonton Sang Pemimpi, setelah siang tadi baru menyadari kebodohan saya mengingat lokasi gedung parlemen yang seharusnya saya datangi. Semoga kali ini saya berhasil. <em>I&#8217;ll let you know later about the movie.</em></p>
<p>Nantikan juga tulisan saya tentang kaleidoskop 2009 beberapa hari ke depan. <em>I promise you it will be nice to read</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=384&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/12/27/christmas-2009-home-alone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kontes Benc*ng Thailand</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/12/16/kontes-bencng-thailand/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/12/16/kontes-bencng-thailand/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 17:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[hari ini, saya dikejutkan oleh email seorang teman yang berisi foto-foto kontes kecantikan di thailand, dimana kesemua kontestan mengenakan pakaian bikini berwarna pink dengan tatanan rambut yang demikian indahnya. namun yang membuat saya lebih terkejut lagi ialah kontes ini dikhususkan utk war*a.
Klik gambar untuk melihat dalam ukuran penuh.



Waw, benar-benar hot. Bagi pria-pria jomblo yang sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=331&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>hari ini, saya dikejutkan oleh email seorang teman yang berisi foto-foto kontes kecantikan di thailand, dimana kesemua kontestan mengenakan pakaian bikini berwarna pink dengan tatanan rambut yang demikian indahnya. namun yang membuat saya lebih terkejut lagi ialah kontes ini dikhususkan utk war*a.</p>
<p>Klik gambar untuk melihat dalam ukuran penuh.</p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00024.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-332" title="ATT00024" src="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00024.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00027.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-333" title="ATT00027" src="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00027.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00030.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-334" title="ATT00030" src="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00030.jpg?w=450&#038;h=300" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Waw, benar-benar hot. Bagi pria-pria jomblo yang sudah kehabisan akal untuk berpasangan, opsi seperti ini mungkin bisa jadi jalan keluar yang lebih baik. Mungkin suatu hari nanti, saya juga akan mencobanya bila putus asa.</p>
<p>Dari dulu diyakini kalau populasi wanita itu mendekati dua kali populasi pria. Hal itu dapat dimaklumi mengingat pria-pria pada jaman dulu banyak yang berguguran karena berjuang di medan perang, sementara wanita tetap mengurus anak di rumah (budaya single parent klasik).</p>
<p>Menjelang awal tahun 2000, perbandingan jumlah populasi antara pria dan wanita dikabarkan semakin seimbang 1:1. Hal ini diyakini wajar, mengingat dari segi biologis terbentuknya gen XX maupun XY itu sama besar yaitu 50:50.</p>
<p><em>Jika pada masa yang akan datang dikabarkan populasi pria kembali menurun, saya kira saya sudah mengerti apa penyebabnya.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/331/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/331/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/331/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=331&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/12/16/kontes-bencng-thailand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00024.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ATT00024</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00027.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ATT00027</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dplt.files.wordpress.com/2009/12/att00030.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ATT00030</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keributan yang tidak perlu</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/12/12/keributan-yang-tidak-perlu/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/12/12/keributan-yang-tidak-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 18:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Relokasi.
Pintu terbuka dan saya pun menginjakkan kaki langkah pertama keluar dari bus transjakarta di halte Kota. Ketika itu sudah sore menjelang malam dan seperti hari-hari biasa sudah menjadi tradisi hampir bagi semua orang untuk berlalu-lalang di area-area publik seperti itu.
Jam-jam segitu memang sudah menjadi bulan-bulanan setiap orang yang ingin segera pulang ke rumah masing-masing ataupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=324&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Relokasi.</p>
<p>Pintu terbuka dan saya pun menginjakkan kaki langkah pertama keluar dari bus transjakarta di halte Kota. Ketika itu sudah sore menjelang malam dan seperti hari-hari biasa sudah menjadi tradisi hampir bagi semua orang untuk berlalu-lalang di area-area publik seperti itu.</p>
<p>Jam-jam segitu memang sudah menjadi bulan-bulanan setiap orang yang ingin segera pulang ke rumah masing-masing ataupun menuju tempat lainnya. <strong>Perhatian: semua angkutan umum penuh sesak!</strong> Tidak terkecuali bus bernomor 02 yang akan saya naiki sampai ke Muara Karang. Syukurlah saya masih mendapat tempat duduk yang layak, meski tidak sedikit yang berdiri sambil kepanasan tidak lupa berdesak-desakan untuk menemukan spacenya masing-masing. Ngetem 15 menit. Cukup lama, dan perjalanan pulang rute ini pun dimulai.</p>
<p>Reaksi.</p>
<p>Tidak jelas dimulai dengan kejadian apa. Yang jelas, teriakan cukup keras terdengar dari arah belakang. Posisi duduk saya sekitar baris ketiga dari depan, jadi cukup jauh dari bangku yang paling belakang. Saya memang tidak mendengarkan percakapan mereka dari awal, tapi rasa-rasanya saya cukup bisa menyimpulkan apa yang terjadi sebelum keributan yang tidak perlu itu dimulai.</p>
<p>Si kenek menegur seorang bapak-bapak, sebut saja Gino, karena dua hal. Pertama, ngotot gelantungan di pinggir pintu belakang sementara masih ada space untuk berdiri di dalam. Kedua, karena menabok kepala si kenek. Kejadian pertama mungkin masih dapat dimaklumi jika Gino memang akan turun tidak lama lagi. Tapi aksinya yang kedua, benar-benar membuat si kenek naik pitam. &#8220;Bapak saya aja ga pernah ngegituin saya&#8221;, berkali-kali diucapkan olehnya. Dia pun tidak kalah garang, sambil berkata &#8220;Gw tunggu loe di lampu merah. Ga usah pake omong loe&#8221;. Si kenek membalas, &#8220;ngomong baik-baik apa susahnya sih&#8221;. Rupa-rupanya, si Gino itu temannya si supir. Hal itu diketahui dari ucapan berikutnya, &#8220;Din, lain kali ga usah pake ini kenek. Bikin susah aja. Lain kali pake yang lain. Tau gak loe!&#8221;. Dan si supir tampak mengalah sambil memintanya memaafkan si kenek. Si kenek ngga lama ikutan minta maaf, tapi orangnya tambah sensi minta ampun.</p>
<p>Revisi.</p>
<p>Okay, titik klimaks sudah dilalui. Cukup sekian tontonan publik selama kurang lebih berdurasi 10 menit tersebut. Semua orang tampak kembali rileks, sambil menanti gilirannya untuk turun dari mobil besar berwarna biru tersebut. Entah kenapa, saya merasa ada yang janggal dari keributan tadi. Dan tidak lama, keributan yang tidak perlu (plus tidak penting) lainnya kembali terjadi. Kali ini benar-benar dimulai dari gejolak emosi yang dialami si kenek.</p>
<p>Si supir sudah meminta maaf, dan si kenek juga tidak lama turut demikian. Gino pun tampak mulai melembut sambil berdiam diri meski tetap dalam posisi gelantungan di pintu belakang. Entah si kenek kesambet apa, tiba-tiba dia mendatangi Gino dan bilang, &#8220;Loe pikir lo siapa sih? Main nabok kepala gw. Heran gw&#8221;. Tiga kalimat maut itu sudah lebih dari cukup memancing amarah Gino. Baku hantam nyaris terjadi jika para penumpang yang duduk di deretan belakang tidak berusaha memisahkan keduanya. Gino tetap mengucapkan kalimat-kalimat seperti sebelumnya, &#8220;gw tunggu lo di lampu merah&#8221;. Sepertinya dia sendiri mulai kehabisan kata-kata.</p>
<p>Remisi.</p>
<p>Suasana mulai mereda beberapa saat kemudian setelah para penumpang tampak awas akan kedua orang tersebut. Semua tentu mengira masalah sudah selesai karena kedua pihak (sepertinya) setuju berdamai setelah ada yang berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Bukannya menyelesaikan masalah, malah kenek kembali memulai permasalahan yang seharusnya tidak perlu. Di sini saya melihat kedewasaan sang kenek benar-benar di bawah standar. Sudah tidak seharusnya dia berkata demikian, apalagi dia sendiri yang mengucapkan secara sadar kalau dia meminta maaf sebelumnya.</p>
<p>Penumpang demi penumpang mulai turun, dan jumlah penumpang tampak tinggal sepertiga dari awal berangkat dari Kota. Jauh lebih lega dari sebelumnya, dan tidak terlihat satu orang pun yang berdiri. Semua mendapat tempat duduknya masing-masing. Begitu juga Gino, yang duduk di deretan paling belakang bus itu.</p>
<p>Baik Gino maupun si kenek, tampak tidak lagi berinteraksi. Apalagi tentu Gino sudah illfeel dengan ucapan si kenek yang tidak lihat kanan kiri. Mungkin karena itu juga, ia menjadi lebih waspada dengan apa yang akan terjadi kemudian. Terlihat ia mulai berdiri dari tempat duduknya, tampaknya ia akan turun tidak lama lagi. Dan si kenek tampak mengawas-awasi gerak-geriknya sedari tadi.</p>
<p>Refleksi.</p>
<p>Bus sudah mendekati lokasi tujuan saya, dan saya pun berdiri. Berancang-ancang hendak turun, bus mulai menurunkan kecepatannya perlahan-lahan. Masih ada dua rute angkutan lagi yang harus dilalui, semoga ini tidak menjadi malam yang panjang. Cukup pelik sudah setelah kejadian sarat urat syaraf tadi menjadi santapan selama di perjalanan. Saya hanya tidak habis pikir kenapa si kenek yang sudah (terlihat) sangat tulus meminta maaf, dalam sekejap bisa mengubah argumennya seratus delapan puluh derajat tanpa lihat kiri-kanan sedikit pun. Saya jadi meragukan ketulusannya untuk meminta maaf. Salah tidaknya Gino pun, tetap saja kata-kata seperti itu akan memancing emosi orang lain. Untung saja dia (si kenek) bukan adik atau teman saya. Jika iya, maka ia sudah saya iris-iris dengan kata-kata saya yang lembut tapi membunuh.</p>
<p>Okay lah, mungkin si kenek dan Gino sedang dalam kondisi emosional dan keduanya hanya butuh waktu untuk berdiam diri. Jadi setelah keributan kedua tadi, harusnya masing-masing udah sama-sama introspeksi kali ya. Kalau ampe terulang ketiga kali, ya itu namanya udah terlalu amat sangat keterlaluan namanya. Yeah, manusia kadang butuh proses yang menyakitkan untuk belajar, apalagi kalau sampai harus diulang-ulangi. Dua kali sudah lebih cukup seharusnya. Bukankah begitu teman-teman? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Repetisi.</p>
<p>Tepat sesaat Gino hendak turun, si kenek mendatanginya utk kesekian kalinya, dan berkata &#8220;mau loe apa sih sebenernya? ayo jawab!!&#8221;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=324&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/12/12/keributan-yang-tidak-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Liszt Hungarian Rhapsody No. 2</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/12/06/liszt-hungarian-rhapsody-no-2/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/12/06/liszt-hungarian-rhapsody-no-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 18:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s been a while I didn&#8217;t make a post about classical music. Having amazed by Arcadi Volodos&#8216; version on Liszt Hungarian Rhapsody No. 2 (S.244), I searched youtube and found Marc-André Hamelin&#8217;s version. I can&#8217;t say more. This is what I called perfect.
Phew, it seems that I&#8217;ll have quite a long way to master this [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=318&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>It&#8217;s been a while I didn&#8217;t make a post about classical music. Having amazed by <a title="Arcadi Volodos" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arcadi_Volodos" target="_blank">Arcadi Volodos</a>&#8216; version on <a title="Liszt Hungarian Rhapsody" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hungarian_Rhapsody_No._2" target="_blank">Liszt Hungarian Rhapsody No. 2 (S.244)</a>, I searched youtube and found <a title="Marc-André Hamelin" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marc-Andr%C3%A9_Hamelin" target="_blank">Marc-André Hamelin</a>&#8217;s version. I can&#8217;t say more. This is what I called <span style="text-decoration:underline;">perfect</span>.</p>
<p>Phew, it seems that I&#8217;ll have quite a long way to master this artwork.</p>
<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://dplt.wordpress.com/2009/12/06/liszt-hungarian-rhapsody-no-2/"><img src="http://img.youtube.com/vi/P6BMMTHeMRM/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=318&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/12/06/liszt-hungarian-rhapsody-no-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/P6BMMTHeMRM/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Behind The Blog</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/12/04/behind-the-blog/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/12/04/behind-the-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 15:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan bahkan ribuan kata sudah saya torehkan di blog ini. Dan kali ini, saya terpikir untuk menulis sesuatu yang berbeda dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Ini mengenai apa dan bagaimana proses yang saya alami dalam merangkai kata demi kata, huruf demi huruf hingga memajang sebuah hot new post yang siap anda baca setiap anda mengunjungi blog [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=310&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ratusan bahkan ribuan kata sudah saya torehkan di blog ini. Dan kali ini, saya terpikir untuk menulis sesuatu yang berbeda dari tulisan-tulisan saya sebelumnya. Ini mengenai apa dan bagaimana proses yang saya alami dalam merangkai kata demi kata, huruf demi huruf hingga memajang sebuah hot new post yang siap anda baca setiap anda mengunjungi blog ini.</p>
<p>Ada beberapa fakta menarik yang bisa saya angkat untuk menjadi topik tulisan selama saya blogging. Salah satunya ialah waktu. Fakta pertama ialah: satu blog post tidak pernah memakan kurang dari 1.5 jam setiap kali saya menulis. Usai menulis kerangka dasar, kalimat-kalimat utama dilengkapi, referensi link-link dimasukkan hingga yang paling terakhir, pengecekan struktur kata dan kalimat atau istilahnya grammar kalau dalam bahasa Inggris. Bagian yang paling terakhir ini bisa dibilang memakan waktu paling lama, karena umumnya saya harus membaca secara keseluruhan berulang-ulang hingga benar-benar yakin tidak ada lagi kesalahan verbal maupun pengetikan. Tapi itu pun masih ada yang lolos kadang. Semoga ke depannya saya lebih peka dalam mencari kesalahan.</p>
<p>Fakta kedua: menulis dengan bahasa Indonesia tetaplah masih lebih nyaman ketimbang bahasa lain. Mungkin ini dikarenakan faktor penguasaan bahasa asing saya yang kurang baik sehingga terkadang kesulitan dalam menginterpretasikan makna yang sebenarnya dari sesuatu yang ingin dituangkan ke dalam tulisan. Terutama kalimat-kalimat tertentu yang implisit (makna terselubung) maupun peribahasa-peribahasa yang tidak bisa langsung dikonversi begitu saja kata demi kata ke bahasa lain. Menggunakan bahasa Inggris ketika menulis ternyata capek juga. Sekali lagi karena ga biasa mungkin, jadinya suka lemot mau nulis kalimat demi kalimat.</p>
<p>Fakta ketiga: ide yang saya dapatkan untuk menulis itu banyak sekali, namun sebaliknya sedikit yang saya salurkan ke blog. Ide itu umumnya datang kapan saja dan di mana saja, tidak terduga. Akan tetapi ketika berhadapan langsung dengan laptop, rasa-rasanya kok agak malas untuk membuka kalimat. Ketika saya menulis, hal pertama yang saya pikirkan tentu saja kerangka karangannya. Di kepala saya umumnya sudah tergambar mau berapa paragraf, dan setiap paragraf membahas tentang apa. Buku kecil yang saya bawa setiap hari menjadi tumpahan sementara ketika ide tersebut datang, namun lagi-lagi ketika &#8216;kembali ke laptop&#8217;, semuanya begitu sulit untuk dimulai.</p>
<p>Fakta keempat: sadar atau sadar, sebagian besar tulisan yang saya muat di sini adalah pengalaman pribadi namun obyektif. Obyektivitasnya dapat ditakar dari pelbagai referensi valid yang saya sajikan melalui referensi khusus untuk memastikan bahwa informasi yang saya bagikan itu aktual. Mengapa saya lebih memilih demikian sebagai dasar penulisan blogging? Karena pengalaman pribadi itu tidak bisa dibantah oleh orang lain. Model penulisan blog semacam ini adalah jurnalistik publik, yang kapan saja di mana saja bisa diakses oleh setiap orang. Oleh karena itu, sangat penting faktor independensi dan orisinalitas tulisan kita disamping pertanggungjawaban mengenai kebenaran informasi di dalamnya. Saya kira kita semua sudah tahu banyak mengenal pelbagai kasus yang diangkat karena menguaknya berita yang bersumber dari sebuah blog. Ini era teknologi informasi, dan kebebasan berpendapat sudah barang menjadi konsekuensi pasti.</p>
<p>Fakta kelima: topik pembahasan yang luas. Saya sadar kalau blog ini topiknya terlalu luas yang ingin dibahas, yang kita bisa liat dari kategori yang tersedia. Ini mungkin bisa dibilang salah satu kelemahan dari sebuah situs sarat informasi seperti ini (blog, bukan situs berita). Ke depannya, saya berencana untuk memecah menjadi beberapa blog berbeda agar informasi lebih terpusat dan fokus dalam menggali konklusi yang lebih relevan tentunya.</p>
<p>Fakta keenam: sedikit sekali yang komen, tapi banyak yang baca. Ini fenomena yang menandakan bahwa orang-orang itu cenderung pasif ketika menanggapi sesuatu hal. Bukan hal basi kalau orang-orang kita itu kurang proaktif. Akan tetapi, setidaknya saya merasa yakin bahwa tulisan saya layak untuk dibaca. Paling tidak, ada sesuatu yang bisa didapat dari pengalaman yang saya bagikan. Jika tidak, berikan saya masukan demi perbaikan ke depannya.</p>
<p>Fakta ketujuh: terbatasnya fitur di wordpress. Salah satu yang saya sayangkan ialah tidak adanya chat box. If only it has.</p>
<p>Fakta kedelapan: hampir semua tulisan saya panjang-panjang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Orang jadi males baca, katanya. Forgive me buddy. Saya sering khawatir kalau tulisan saya terlalu dangkal maknanya. Itu kenapa saya terkadang butuh waktu lebih mempertimbangkan apakah tulisan itu layak pajang atau tidak.</p>
<p>Pada intinya, saya suka menulis via blog semacam ini. Banyak hal yang saya pikirkan, namun jarang saya ungkapkan secara verbal. Dan blog ini sangat membantu dalam mengekspresikan hal tersebut. Last but not least, keep happy reading <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=310&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/12/04/behind-the-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indie Poris</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/11/30/indie-poris/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/11/30/indie-poris/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lyrics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[pas kemarin lagi jalan pulang ke Jakarta, tanpa sengaja terdengar lagu unik, lucu dan gajebo yang sukses membuat semobil tertawa tanpa henti selama 10 menit.
kalau didengerin bener2, ada beberapa bagian yang dipotong. seperti disensor gitu. setelah dikaji lebih lanjut, ternyata benar ini mp3 hasil editan di mana bagian yang dipotong itu adalah kata-kata kunci dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=297&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>pas kemarin lagi jalan pulang ke Jakarta, tanpa sengaja terdengar lagu unik, lucu dan gajebo yang sukses membuat semobil tertawa tanpa henti selama 10 menit.</p>
<p>kalau didengerin bener2, ada beberapa bagian yang dipotong. seperti disensor gitu. setelah dikaji lebih lanjut, ternyata benar ini mp3 hasil editan di mana bagian yang dipotong itu adalah kata-kata kunci dalam lagu ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . ni lagu bener2 gila, tapi kepikiran kapan2 mau nyanyi ini lagu di depan umum. paling2 ditangkep polisi kayak <a title="Harry Roesli" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Harry_Roesli" target="_blank">bang harry</a>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Hidup Reformasi!</p>
<p>Untuk lagu, bisa download di <a title="Download" href="http://www.4shared.com/get/131464945/6b0292e1/Indie_Poris_-_Indie_Poris.html" target="_blank">sini</a>.</p>
<p>Lirik ada di bawah untuk tahu lebih lanjut lagu yang sebenernya tanpa disensor. Buat yg ga ngerti bahasa Sunda, mohon maap.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>bukan lautan hanya kolam susu<br />
edi tansil kabur belum ketemu<br />
bapa jaksa bilang tidak tau<br />
pak polisi juga bilang tidak tau</p>
<p>negeri ini katanya negeri hukum<br />
tapi kok rakyat kecil yang selalu di hukum<br />
ini salah siapa? ini dosa siapa?<br />
tanyakan pada pa domo&#8230;. euh…<br />
pa domo. pasukan doger monyet<br />
teh botol makin goblok dan tolol</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>bukan lautan hanya kolam susu<br />
susu tutut kini sudah ga laku<br />
reformasi hanya setengah hati<br />
bagaimana bapa tutut di adili</p>
<p>orang bilang tanah kita. tanah surga<br />
tapai hasil buminya entah kemana<br />
orang bilang negeri ini. negeri subur<br />
insinyur pertanian kok jual bubur<br />
hancurrrrrr&#8230;&#8230;..</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>bukan lautan hanya kolam susu<br />
susulumputan dina kutang ibu<br />
bayi sehat karna minum susu ibu<br />
bapa sehat juga minum susu ibu</p>
<p>orang bilang susu ibu punya bayi<br />
ibu bilang susu ibu punya bapa<br />
bapa bilang susu ibu punya bayi<br />
bapa dan bayi rebutan susu ibu</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>pok ame-ame belalang kupu-kupu<br />
keprok biar rame. pagi-pagi minum susu<br />
susu kaleng buat bayi. susu ibu buat bapa<br />
susu bondon buat akbar tanjung saja</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>oh ibu dan ayah selamat malam<br />
ku pergi begadang sampai taun depan<br />
selamat begadang nak penuh semangat<br />
rajinlah begadang agar kau jadi bangsat<br />
bohongi gurumu. gampari teman<br />
itulah tandanya kau murid bajingan</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>aku anak indonesia sehat dan kuat<br />
karna mama memberi batu batere ABC<br />
sehat kuat rajin begadang setiap malam mencuri ayam<br />
ayam jago pak RT…………….</p>
<p>aduh-aduh pak RT jangan salahin aye<br />
karna pak RT pahe merege hese<br />
aduh-aduh bu RT jangan marahin aye<br />
karna aye hidupnye dari batere<br />
batu batere ABC</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>aku anak setan tubuhku bau menyan<br />
karena ibuku ratu siluman<br />
sarapan batu menyan<br />
mandiku pake kembang<br />
temanku wimprit simatupang</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>aku anak sakit. hidupku pabeulit<br />
karena sisanya mencari duit<br />
bagaikan sandal jepit<br />
ingin terbang ke langit<br />
sebelum kelangit disamber manuk piit</p>
<p>berat badanku turun tiap hari<br />
karena gizi. gizi melambung tinggi<br />
dari jamu intisari sampai ke susu murni<br />
ya sekarang susah aku beli</p>
<p>bajuku beli dari yang kalah judi<br />
karena di toko tidak boleh mencuri<br />
daripada mencuri lebih baik korupsi<br />
siapa tau masuk RCTI</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>adu-aduh malu melihat negeri sendiri<br />
sebab negeri ini gudangnya raja-raja korupsi<br />
aduh tambah malu tak punya muka lagi<br />
secara tiba-tiba ada bom di bali</p>
<p>orang bilang MPRnya tulalit<br />
(tulalit&#8230;&#8230;&#8230; tulalit&#8230;&#8230;&#8230;)<br />
orang bilang DPRnya tulalit<br />
(tulalit&#8230;&#8230;&#8230; tulalit&#8230;&#8230;&#8230;)<br />
orang bilang menterinya juga tulalit<br />
(tulalit&#8230;&#8230;&#8230; tulalit&#8230;&#8230;&#8230;)<br />
orang bilang (bilang orang)<br />
akbar tanjung juga tulalit</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>indonesia tanah airku<br />
tanah beli air juga beli<br />
indonesia terbagi-bagi<br />
ada indomie<br />
ada indomilk<br />
ada indosemen<br />
ada indomobil&#8230;.</p>
<p>nesianya dimana?<br />
di buang ke kali…….<br />
nyangkutnya dimana?<br />
nyangkut di cendana&#8230;.</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>aya listrik di masigit<br />
caangna kamana-mana<br />
aya istri jangkung alit<br />
hanjakal jebrag sukuna&#8230;&#8230;..</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>cikaracak ninggang batu<br />
laun-laun jadi legok<br />
tai cak-cak kana huntu<br />
laun-laun nya di lebok</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>cikaracak ninggang batu</p>
<p>laun-laun jadi legok<br />
anu pecak nyeuri huntu<br />
di alun-alun aya nu nyabok</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>hanyang nyatu euweuh kejo<br />
beasna di panggilingan<br />
boga minantu rada gelo<br />
mitoha di tampilingan</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>meuli daging ka ci awi<br />
jalanna ka singaparna<br />
judang-jeding asa laki<br />
teu di bere eusi calana</p>
<p>tokecang2x aya toke dahar kacang<br />
tokecang2x aya toke dahar kacang</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
<p>cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;.. wer ke wer (3x)<br />
cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;. cio&#8230;.. wer&#8230;..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=297&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/11/30/indie-poris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vincent</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/11/28/vincent/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/11/28/vincent/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 08:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lyrics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[I found out this one is a bit difficult to interpret. Normally, a (song) lyric only mentions about one main topic which often becomes the song&#8217;s title. I felt this one is a combination of several topics into one lyric (that successfully confusing me at first). I split it into several parts to make us [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=277&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>I found out this one is a bit difficult to interpret. Normally, a (song) lyric only mentions about one main topic which often becomes the song&#8217;s title. I felt this one is a combination of several topics into one lyric (that successfully confusing me at first). I split it into several parts to make us easier to understand. Each part is independent, but amazingly the songwriter was able to make the same chorus without reducing the meanings.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>[part 1]</strong><br />
starry starry night<br />
paint your palette blue and grey<br />
look out on a summer&#8217;s day<br />
with eyes that know the darkness in my soul</p>
<p>shadows on the hills<br />
sketch the trees and the daffodils<br />
catch the breeze and the winter chills<br />
in colors on the snowy linen land</p>
<p>now I understand what you tried to say to me<br />
and how you suffered for your sanity<br />
and how you tried to set them free</p>
<p>they would not listen<br />
they did not know how<br />
perhaps they&#8217;ll listen now</p>
<p><strong>[part 2]</strong><br />
starry starry night<br />
flaming flowers that brightly blaze<br />
swirling clouds in violet haze<br />
reflect in Vincent&#8217;s eyes of China blue</p>
<p>colors changing hue<br />
morning fields of amber grain<br />
weathered faces lined in pain<br />
are soothed beneath the artist&#8217;s loving hand</p>
<p>now I understand what you tried to say to me<br />
and how you suffered for your sanity<br />
and how you tried to set them free</p>
<p>then would not listen<br />
they did not know how<br />
perhaps they&#8217;ll listen now</p>
<p><strong>[part 3]</strong><br />
for they could not love you but still your love was true<br />
and when no hope was left in sight<br />
on that starry starry night<br />
you took your life as lovers often do</p>
<p>but I could have told you, Vincent<br />
this world was never meant<br />
for one as beautiful as you</p>
<p><strong>[part 4]</strong><br />
like the stranger that you&#8217;ve met<br />
the ragged men in ragged clothes<br />
the silver thorn of bloody rose<br />
lie crushed and broken on the virgin snow</p>
<p>and now I think I know what you tried to say to me<br />
and how you suffered for your sanity<br />
and how you tried to set them free</p>
<p>they would not listen<br />
they&#8217;re not listening still<br />
perhaps they <span style="text-decoration:underline;">never</span> will</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>So, what is this song all about? Who is Vincent anyway? The title is &#8216;Vincent&#8217; and it&#8217;s perfect for that. Find out why.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/277/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=277&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/11/28/vincent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemandangan tak terduga</title>
		<link>http://dplt.wordpress.com/2009/11/23/pemandangan-tak-terdug/</link>
		<comments>http://dplt.wordpress.com/2009/11/23/pemandangan-tak-terdug/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 16:45:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dplt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dplt.wordpress.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Tepat pukul setengah lima sore, sesaat lagi waktunya pulang jam kerja. Tak terasa hari pertama kerja setelah tiga minggu &#8216;berlibur&#8217; ternyata cukup melelahkan juga. Banyak hal yang harus diselesaikan, begitu juga dengan masalah baru yang datang. Semuanya saling melengkapi, setidaknya selama satu hari penuh itu.
Telpon berdering, dan seperti biasa, muncul suatu nomor tak dikenal yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=267&subd=dplt&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tepat pukul setengah lima sore, sesaat lagi waktunya pulang jam kerja. Tak terasa hari pertama kerja setelah <a title="Hospitalized" href="http://dplt.wordpress.com/2009/11/23/day-of-misery-ii-inserting-more-coins/" target="_blank">tiga minggu &#8216;berlibur&#8217;</a> ternyata cukup melelahkan juga. Banyak hal yang harus diselesaikan, begitu juga dengan masalah baru yang datang. Semuanya saling melengkapi, setidaknya selama satu hari penuh itu.</p>
<p>Telpon berdering, dan seperti biasa, muncul suatu nomor tak dikenal yang berusaha untuk memanggil. Tanpa basa-basi, panggilan langsung dijawab. Mengingat profesi saya menuntut interaksi dengan banyak orang, rasa-rasanya tidak heran jika banyak nomor tak dikenal yang menyerang.</p>
<p><strong>Me</strong> : Hallo<br />
<strong>Dia</strong> : hayyy. lo ada di mana? gw langsung ke situ yahh.<br />
<strong>Me</strong> : (langsung berasa aneh. client yang aneh mungkin). Biasa, lagi di kantor.<br />
<strong>Dia</strong> : lah. knp ga langsung ke sini aja? kumpul sama kita-kita. hihihi.<br />
<strong>Me</strong> : (mencoba bersabar) kumpul? kok mendadak amat baru sekarang ngasih taunya.<br />
<strong>Dia</strong> : idih, lah orang lu tadi yang ngajakin. aih, jangan ngeles deh. gw udah cape2 ni ngesot ampe ke sini. buruan deh. GPL!<br />
<strong>Me</strong> : (waktunya habis) Sorri, ini dengan siapa ya?<br />
<strong>Dia</strong> : haiyah, pake nanya lagi. Ya &lt;sebut saja Ranti&gt; Ranti lah. nona manis lu. hihihi.<br />
<strong>Me</strong> : Ranti? Ranti yang mana ya?<br />
<strong>Dia</strong> : bentar. ini siapa ya?<br />
<strong>Me</strong> : Saya David. lah, kok bisa dapet nomor saya?</p>
<p>Dia kebingungan utk menjawab, tapi pikiran saya secepat kilat langsung mendeteksi bahwa ini pastilah teman orang lain yang nyasar nelpon ke sini. Tapi kenapa harus ke nomor telpon ini? Oh alah, rupa-rupanya ini nona manisnya seorang teman yang baru saja minta minjem telpon buat sms. Ga modal amat, mau manggil cewe pake sms. Hari gini masih sms? Tapi buset juga dia, minjem telpon buat beginian. Tau begini, ga usah dikasih pinjam.</p>
<p>Itulah panggilan pertama sore itu, salah sambung. Saat ini memang ada seseorang yang ditunggu untuk menelpon, tantenya. Bukan &#8216;tante&#8217; yang sering disebut di koran berwarna, melainkan personel serumah yang rencananya besok pagi akan tiba di Jakarta menggunakan kereta api. Katanya sih subuh, sekitar jam 4. Jadi, berangkat dari rumah mungkin sekitar jam 3an. Cukup lah kalo dibalap dari rumah. 30 menit-an udah sampai di Gambir harusnya. Semoga. Tak lama kemudian, ia pun menelepon dan mengkonfirmasikan kalau akan sampai di sini sekitar jam 4. Baiklah, kita akan bertemu nanti.</p>
<p>Malamnya, saya tidak bisa tidur. Pikiran kemana-mana. Setelah akhirnya selesai memasang kabel-kabel twisted pair tipis, akhirnya televisi yang jadi sasaran. Sejak kemarin memang sedang giat-giatnya berurusan dengan kabel dikarenakan rusaknya headset <a title="Sennheiser HD 202" href="http://www.sennheiser.com/sennheiser/products.nsf/resources/C11429A31597D426C1257432007FD214/$File/HD202_IntroImage_2.png" target="_blank">Sennheiser seri HD 202</a> akibat putus sebuah kabel di ujung panel bagian sebelah kiri. Sudah disambung tapi tetep ngga bunyi. Rupa-rupanya, ada kabel tipis lagi yang ngga keliatan. Yah, tape deh. Buka lagi, potong lagi, bakar lagi. Terus disambung lagi. Setelah itu baru diplester. Kalau di film Dora the Explorer, biasanya dia akan bilang, &#8220;Berhasil berhasil berhasil!&#8221;. Saya juga ingin berbicara demikian, tapi rasanya tidak lucu jika diucapkan sambil jumpalitan. Acara &#8216;Take Him Out&#8217; jadi santapan penutup sebelum tidur. Pertama kali nonton, lucu juga acaranya. Maybe next time I&#8217;ll watch it, but you know normally I don&#8217;t have time for that :p</p>
<p>Tepat jam tiga pagi, saya dibangunkan oleh oom untuk pergi menjemput tante. Ga pake cuci muka, langsung aja cabut pake celana pendek. Takut telat maksudnya. Maklum lah, ini kan masih subuh. Kasihan kalau nunggu di stasiun kelamaan, suasana belum terlihat aman kalau masih jam segitu soalnya. Kita berdua pun berangkat naik mobil, langsung menuju stasiun Gambir melewati Hayam Wuruk dan Gajahmada.</p>
<p>Biasanya saya melewati daerah kota itu ketika pagi dan sore hari. Berangkat dan pulang kantor. Naik busway dari halte Kota dan turun di halte Karet. Begitu juga sebaliknya ketika pulang. Sudah mendarah daging menjadi rutinitas tersendiri. Awalnya sempat heran, melihat satu dua orang wanita mengenakan pakaian minim berdiri berjejeran di sepanjang semacam lapangan parkir motor. Lihat jam, masih pukul setengah empat pagi. Sepertinya lagi ada acara midnight or sejenisnya. Ketika itu ramai juga ternyata, malahan sampai macet pas lewat situ (Hayam Wuruk dan Gajahmada). Makin lama kok makin banyak yang &#8216;begituan&#8217;. Wah wah wah, jangan jangan lagi pada &#8216;jualan&#8217; nih. Dan benar saja, tepat di depan mobil kami ada satu mobil yang berhenti di pinggir, dan dari sisi penumpang ada yang bercengkerama dengan salah satu yang sedang &#8216;jualan&#8217; di situ. Tidak lama, sang wanita membuka pintu belakang, dan masuk. Tidak hanya satu, tapi dua orang sekaligus. Sepertinya ada dua orang pria juga di mobil itu. Tapi ga tau juga kalau mereka berencana lain. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Melihat pemandangan tak terduga seperti itu, saya menjadi tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh. Dunia malam yang tidak biasa saya kunjungi, sepertinya menjadi menarik karena saya tidak tahu sama sekali. Belum pernah coba, kalau tahu pun dari tipi atau omongan orang-orang. Observasi sepanjang jalan kenangan itu, ada beberapa hal yang bisa disimak.</p>
<p>Yang pertama adalah, setiap &#8216;penjual&#8217; setidaknya pasti ditemani oleh seorang pria. Entah itu berdiri atau duduk di motor. Kalau berdiri mungkin germo sepertinya, kalau duduk di motor bisa jadi tukang ojek. Pakaian mereka memang minim abis, sampai tali bra saja bisa terlihat dengan sangat jelas dari jarak lima meter. Wajar, walaupun mereka berprofesi demikian, mereka juga butuh perlindungan lebih. Salah-salah malah nanti dicelakain orang.</p>
<p>Kedua, tersebar. Sepertinya ada pengaturan area tertentu atau pembagian daerah yang membuat mereka tersebar secara merata. Tapi itu buat yang nongkrong di jalan. Ada juga yang stay di suatu tempat atau rumah, tanpa saya belum tahu pasti dalamnya seperti apa. Katanya sih, setiap orang dibatasi oleh kaca dan terpasang nomor-nomor di atasnya. Kayak jualan ikan hias gitu. :p. Oh ya, uniknya lagi, yang tersebar di jalanan itu juga ada semacam tim marketingnya. Jadi ada beberapa pria, yang menawarkan beberapa &#8216;barang jualan&#8217; sesuai dengan harganya masing-masing. Negotiable tentunya.</p>
<p>Ketiga, bayar di muka. Sudah bukan rahasia lagi kalau ini sudah menjadi peraturan umum ketika berbisnis seperti ini. Begitu juga dengan mobil yang berada di depan kami tadi, sempat menyodorkan sejumlah uang kepada sang mandor (atau apapun itu namanya) baru kemudian sang wanita masuk ke mobil. Praktis sekali sistem jual belinya. Bener-bener GPL, kayak yang dibilang sama si penelepon tadi.</p>
<p>Tadi sebelum pulang, saya sempat mampir ke Gramedia untuk membeli beberapa novel buat jadi bacaan beberapa hari ke depan. Sesaat hendak membayar di kasir, saya menemukan buku tipis unik yang membahas mengenai kehidupan malam. Sepintas terpikir untuk membeli, untuk lebih tahu lebih jauh seperti apa kehidupan para kupu-kupu itu. Tapi sepertinya untuk saat ini saya belum berminat untuk membaca. Mungkin nanti jika sempat, saya akan mencari karya Moammar Emka yang sempat mengguncang Jakarta dengan Jakarta Undercover-nya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dplt.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dplt.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dplt.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dplt.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dplt.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dplt.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dplt.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dplt.wordpress.com/267/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dplt.wordpress.com/267/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dplt.wordpress.com/267/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dplt.wordpress.com&blog=2983385&post=267&subd=dplt&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dplt.wordpress.com/2009/11/23/pemandangan-tak-terdug/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dplt</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>