Song of the Month: Fearless

Posted in Lyrics on November 23, 2009 by dplt

This is my song of the month. This last days, I am listening to Taylor Swift’s new hit song entitled Fearless. I just enjoy the song very much and I think you should give it a click.

—————————————————————————————————————————

there’s something ’bout the way
the street looks when it’s just rained
there’s a glow off the pavement
you walk me to the car
and you know i wanna ask you to dance right there
in the middle of the parking lot, yeah

we’re driving down the road
i wonder if you know
i’m trying so hard not to get caught up now
but you’re just so cool
run your hands through your hair
absent-mindedly making me want you

and i dunno how it gets better than this
you take my hand and drag me headfirst, fearless
and i dunno why but with you i dance
in the storm in my best dress, fearless

so baby drive slow
till we run out of road
in this one horse town
i wanna stay right here
and in this passenger seat
you put your eyes on me
in this moment, now capture it, remember it

well, you stood there with me in the door way
my hands shake, i’m not usually this way
but you pull me in and i’m a little more brave
it’s the first kiss
it’s flawless
it’s really something

it’s fearless

Days of Misery II: Inserting more coins

Posted in Journal on November 23, 2009 by dplt

I’m writing this fast, so forgive me if any typos exist.

It’s been a week since I finally went out from the hospital. Yeah, it was horrible days for me. Not long after went out from the first time, I decided to ‘extend’ my presence in such a house for another week. The measles have gone, but my stomach were still in a big problem. It’s like getting worse day by day. I really really couldn’t stand it. I thought it was just a normal heartburn like I had before, but this one got much longer than ever. Really really having a big problem here.

In the second day, the doctor asked me to take a further medical diagnosis to check more detail about what the real problem is. She used a gastroscope, pushing it into my mouth, and she watched it through several screens viewing my internal organ. But I skipped that part. I slept. She said that she has cleaned my stomach as well as my duodenum. But again, thank God I was slept. Otherwise, I must be cried out loud for sure.

One thing for sure. I was injected much more chemical things. Nexium, Calcium container, Aminofluid, and others which I don’t remember. Some of them were painful when injected, some of them were not. And of course, I didn’t like it very much.

The result showed up that I had a duodenal problem. That’s why I had always felt pain on my belly. I just needed more time to recover I thought, and on the fifth day I decided not to ‘insert anymore coins’. There were two things on my mind that time. First, I’d been absent for about three weeks from office. That’s horrible. And second, it’s too pricy staying there.

This year, I spent my birthday in the hospital. I take it as a gift. Maybe its time for me to spend more time to rest than to work. Surprisingly, there were two ladies paid me a visit on the third day. And they even gave me a birthday cake!

The two sweet ladies were Feby and Eve. Thank you very much ladies! That’s very kind of you. One more thing, they were the only visitors while I was in hospital. So of course, their presence were special for me. I couldn’t deny that.

It had been three weeks and I finally worked as usual on the next Monday. Everything was fine, except me. They said I looked very much skinny than before. Well, that’s a pity. Actually, there’s more. From now on: no more soda, no more grilled food, no more fast food, no more junk food, no more instant food. God bless me.

Days of Misery

Posted in Journal on November 8, 2009 by dplt

Days of Misery, artinya hari-hari penuh penderitaan. Dua minggu terakhir ini, saya berkutat dengan masalah kesehatan, masalah yang hampir selalu menghantui saya. Dimulai dari demam tinggi, sakit perut, batuk, pilek, maag, hingga munculnya bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Kesemuanya menjadi satu paket yang benar-benar membuat saya tidak berdaya selama berhari-hari. Alhasil, saya pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter, dan sampai pada diagnosis bahwa saya harus dirawat inap selama beberapa hari. Dan ‘petualangan’ ini pun dimulai, tepatnya sudah dimulai namun belum disadari.

 

Day 1: Overture

Tepat setelah selesai mandi dan hendak bergegas ke kantor, mulailah perlahan disadari bahwa kondisi suhu badan tidak seperti biasanya. Awalnya masih tetap mau ngotot berangkat ke kantor, akan tetapi setelah dipertimbangkan lagi, lebih baik istirahat satu hari daripada berhari-hari karena terlambatnya pencegahan. Ide yang baik, pikir saya.

 

Day 2: Tamu tak diundang

Sekitar 7200 detik setelah lewat tengah malam, mendadak saya terbangun dari tidur. Dan pada saat yang sama, perut rasanya sakit bukan main. Rasanya seperti kelaparan tingkat kronis karena belum makan selama dua hari. Akhirnya saya memutuskan untuk turun ke bawah (kamar ada di lantai dua) dan mencari sesuap nasi yang tersisa.

Saya masih ingat dengan jelas kalau perut terisi penuh ketika makan subuh tadi. Anehnya, jam 8 paginya, perut lagi-lagi terasa keroncongan minta ampun. Dari situlah saya tahu, dewa angin telah merasuki saya. Dan lagi, saya memutuskan untuk mengistirahatkan diri untuk kedua kalinya.

 

Day 3: Luapan ganas

Sepuluh ribu delapan ratus detik setelah lewat tengah malam, saya kembali terbangun dari tidur. Mirip seperti kejadian sehari sebelumnya (perut serasa laparnya bukan main), tapi kali ini rasanya lebih parah. Mualnya sampai ke dada, seperti ada yang mau keluar begitu. Merasa tidak nyaman, kamar mandi pun jadi pemberhentian berikutnya. Dan benar saja, isi perut yang berbentuk bubur dan cairan serta hasil cernaan makanan lainnya spontan keluar tanpa kendali layaknya gunung meletus menyemburkan lava. Sepuluh menit lamanya durasi kejadian itu. Dan setelah itu, badan benar-benar lemas tidak berdaya. It’s not getting better for sure.

 

Day 4: Si Merah

Untuk sementara waktu, diprediksikan bahwa saya terserang demam dan masuk angin. Jadi obat yang dikonsumsi juga seputar dua hal itu. Beberapa hari ini saya mengenakan baju lengan dan celana panjang, supaya tidak masuk angin kalau keluar kamar. Betapa terkejutnya saya ketika hendak berganti baju, sekujur tubuh dipenuhi dengan bintik-bintik merah seperti bekas digigit nyamuk. Panik, dan langsung memberitahu orang serumah. Jangan-jangan DBD pula. Bisa berabe kalau iya. Langsung bikin janji dan besoknya mau konsultasi lebih lanjut ke dokter.

 

Day 5: Kejutan

Dari pagi sampai siang, perut ini rasanya mual minta ampun. Sudah empat kali terhitung mulut ini ‘menyembur’. Setelah buat janji dengan sang dokter pukul sebelas siang, akhirnya saya pun berangkat ke rumah sakit untuk meminta pertolongan lebih lanjut.

Semua prediksi sebelumnya ternyata salah (demam dan masuk angin biasa). Menurut sang dokter, saya terkena Cacar Jerman atau dalam bahasa medis sering disebut Rubella. Tidak berbahaya, akan tetapi mengundang demam selama berhari-hari, persis seperti yang saya alami selama beberapa hari sebelumnya. Tapi tidak hanya itu, masih ada satu hal lagi yang tidak terduga. Diare. Untuk yang kedua ini, saya sempat menyanggah bahwa ini adalah murni penyakit maag. Saya sudah cukup pengalaman dengan penyakit yang satu ini, dan bukan pertama kali saya mengalaminya. Itu kenapa saya begitu yakin kalau itu adalah maag biasa.

Sang dokter juga meminta untuk test darah, memastikan kalau itu benar Rubella, bukan yang lain.

 

Day 6: Diam tanpa kata

Hasil lab keluar, 99% dipastikan saya terkena Rubella. Dokter juga menyarankan kalau sebaiknya saya dirawat inap di rumah sakit, akan tetapi saya menolak, berasumsi bahwa campak hanya masalah waktu dan akan hilang dengan sendirinya. Keadaan masih belum membaik, dan saya hanya bisa terdiam sambil merenungi nasib hingga keesokan harinya.

 

Day 8: Klimaks

Pada hari ini, saya resmi menginap di kamar 5206 Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk. Yang paling saya ingat dari hari ini ialah begitu banyaknya obat yang harus saya minum yakni berjumlah 5 buah. Total sehari 15 buah. Badan terbaring, infus terpasang. Baru hari pertama tapi sudah mulai terasa bosan. Di hari pertama ini, saya masih benar-benar tidak nafsu dan tidak enak makan. Hari ini ditutup dengan munculnya seorang suster cakep berinisial E yang setidaknya membuat hidup saya kembali bersinar meski hanya untuk beberapa saat.

 

Day 9: Apatis

Tepat seminggu sudah saya tidak masuk kantor dan sudah cukup lama untuk membuat teman-teman sekantor menjadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan saya. Tidak banyak hal yang terjadi pada hari ini, kecuali suara teriakan maupun pompa oxygen dari kamar sebelah. Selebihnya? Membosankan.

 

Day 10: Tsunami

Demam sudah mulai reda ditandai dengan suhu badan yang stabil di angka 36.3 derajat Celsius. Tekanan darah juga normal, berkisar di 100-120 di batas atas dan 60-80 di batas bawah. Tapi ada satu yang benar-benar abnormal. Pada hari ini, saya buang air besar encer alias mencret sebanyak 15 kali! Ternyata benar kata sang dokter semenjak awal, bahwa saya terkena diare. Alhasil, bertambahlah jumlah obat yang harus saya minum menjadi 8 buah disamping Nexium buat lambung. Total sehari 24 buah. Wow!

 

Day 11: Depresi

Tidak banyak berbeda dengan hari kemarin, masih mencret-mencret total 8 kali dan perut masih terasa mual seperti biasa. Nafsu makan masih belum lancar tapi untungnya badan sudah tidak berbintik-bintik merah seperti sebelumnya.

Hari ini kebosanan saya sudah mencapai titik jenuh, apalagi dengan sebagian besar waktu saya di rumah sakit dihabiskan sendirian, tanpa orang lain. Keluarga pun juga tidak sempat menjenguk. Uniknya, tidak ada satu teman pun juga yang menjenguk. Untungnya masih ada dua nona yang mau menemani saya via text-messaging selama beberapa waktu. Saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya cukup kecewa dengan kejadian ini, sambil berusaha menghibur diri dengan mencari-cari alasan bagus kenapa mereka berhalangan datang.

Belakangan setelah saya cek di salah-satu-situs-jejaring-terkenal, mereka mengirimkan berbagai komentar di profil saya, padahal jelas-jelas sudah saya tulis sebelumnya, “leave a message (not a comment)”. Lagian gimana cara bisa ngebales komentarnya, kalau orangnya aja ada di rumah sakit. So hard just only to leave a short message.

 

Day 12: Rekonstruksi

Tepat pukul 10 pagi, sang dokter datang untuk melihat kondisi saya seperti hari-hari biasa. Sang dokter akhirnya memberikan lampu hijau untuk kepastian kepulangan saya hari ini, dan saya langsung menghubungi pihak keluarga untuk menjemput. Sekitar seribu dua ratus detik kemudian mereka datang, dan segala keperluan administasi diselesaikan. Phew, akhirnya bisa pulang. Lima hari di rumah sakit serasa lima minggu di rumah sendiri. Entah sudah berapa obat yang saya minum selama di sana, mencapai seratus buah mungkin. Tapi yang jelas, kepulangan saya bukan berarti bebas merdeka. Masih ada segunung warisan obat yang harus dihabiskan plus larangan untuk keluar rumah setidaknya sampai seminggu ke depan (masa inkubasi). Dan itu berarti, akan genap tiga minggu saya tidak masuk kantor. Luar biasa!

Kepulangan hari ini juga disambut dengan kejadian yang kurang mengenakkan yaitu mati listrik. Huh, benar-benar membuat hidup tersiksa. Total hampir 5 jam listrik dipadamkan. Begitu listrik nyala, langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sudah tidak tahan sama keringat yang mengucur deras semenjak siang tadi.

 

Epilog

Boleh dibilang, ini adalah salah satu kejadian permasalahan kesehatan yang tak terlupakan buat saya. Dengan sejumlah penyakit berkumpul, dengan beragam obat menggunung, pantas rasanya kalau kejadian ini diabadikan dalam bentuk blog post imut ini. Semoga selama seminggu sisa ini, saya tidak mati kebosanan seperti hari-hari sebelumnya. Semoga teman-teman saya di divisi SSS (kantor) mau memaafkan kepergian saya selama tiga minggu. Dan yang terpenting, semoga kejadian ini memberikan pelajaran kepada saya untuk selalu mengutamakan kesehatan di atas hal apapun. Semoga anda juga demikian.

NT: The Rationalists

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Rationalists, antara lain: INTJ, ENTJ, INTP dan ENTP, memiliki ciri khas yang sama yaitu mencari kebenaran/pengetahuan (knowledge seeking). Faktor N (Intuitive) dan T (Thinking) yang mereka miliki, menjadikan mereka dapat menarik kesimpulan berdasarkan pendekatan ilmiah dari pelbagai hal-hal abstrak maupun imaginatif yang dialami. Gampangnya, membuat khayalan menjadi nyata melalui serangkaian proses logis yang harus dilalui. Mereka berada di perbatasan antara realist dan imaginatif. Dan umumnya mereka memiliki tingkat intelegensia di atas rata-rata.

INTJ, Introverted-Intuition with Extroverted-Thinking
Sang Ahli Strategi
Dari kesemua tipe NT, tipe ini lah yang paling ahli dalam membuat strategi baik bisnis, militer, dll dalam skala jangka panjang. Kapasitas berpikir mereka dari konteks abstrak hingga detil (Introverted-Intuition), sering menjadikan mereka seorang tulang punggung sebuah sistem agar bisa berjalan (Extraverted-Thinking). Mereka sangat mudah terinspirasi (Introverted-Intuition), dari hal yang abstrak, diimplementasikan dalam hal-hal yang nyata dalam kehidupan (Extraverted-Thinking). Boleh jadi, mereka lah para genius dari semua tipe karena kehebatannya membuat strategi yang realistis. Sama dengan INFJ, mereka tidak terlalu pandai dalam mengungkapkan abstraksi yang mereka bayangkan dan cenderung untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang levelnya sejenis (karena tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan mereka). Mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam karir maupun akademis, namun segalanya menjadi berbeda ketika berbicara mengenai hal percintaan (kelemahan terbesar INTJ).

ENTJ, Extroverted-Thinking with Introverted-Intuition
Sang Eksekutif
ENTJ sangat bersemangat bersama orang lain, dan suka mengarahkan orang lain (Extroverted-Thinking) yang kesemuanya murni menurut pandangan mereka yang intuitif (Introverted-Intuition). Mereka bisa melihat pelbagai kemungkinan di masa depan (meski tidak sehebat INTJ), dan menjadi pegangan mereka dalam membuat keputusan. Atas dasar ini lah, ENTJ sangat cocok menjadi seorang pemimpin besar atau eksekutif, terlepas dari image mereka yang cenderung dikenal sebagai ‘tukang perintah’. Segala keputusan dibuat berdasarkan intuisi mereka, yang terkadang sulit bagi orang lain untuk memahami. ENTJ tidak percaya pada perasaan mereka, karena mereka menilai bahwa hal-hal seperti itu akan mengganggu efisiensi dan efektivitas suatu proses. Mereka sangat fokus pada karir, dan banyak yang menjadi seorang pemimpin besar nan hebat, namun tidak jarang banyak yang bermasalah dengan kehidupan pribadi mereka.

INTP, Introverted-Thinking with Extroverted-Intuition
Sang Pemikir
INTP hampir bisa mengingat semua teori-teori maupun istilah-istilah yang aneh dalam dunia fisika, kimia, biologi dan keilmuan lainnya dalam konteks yang sangat dalam. Mereka lah ahli nya ahli ilmuwan, karena mampu mempelajari semua ilmu hingga paling dalam, yang nyata-nyata nampak tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari. Kalau INFP berkhayal dengan ada yang ia rasakan, maka INTP berkhayal dengan apa yang ia pikirkan dari pendekatan logika. INTP tidak suka dikendalikan maupun mengendalikan, dan cenderung sangat independen dalam hidupnya. Kekurangpekaan mereka terhadapĀ  perasaan orang lain, kalo boleh dibilang terlalu tidak peka, menjadikan mereka figur yang kurang dipertimbangkan selain pencapaian pribadi mereka di dunia sains. Mereka lah pencari kebenaran sejati, dan akan terus mencari sesuai dengan apa yang mereka yakini benar.

ENTP, Extroverted-Intuition with Introverted-Thinking
Sang Visioner
Sama seperti ENFP, ENTP sangat cepat dalam menginspirasi dirinya terhadap berbagai ide yang muncul dalam sekejap (Extroverted-Intuition). Mereka sering terlihat sangat ahli dan menguasai bidangnya, meski itu hanya nampak sesaat dikarenakan ENTP kurang fokus dalam dunia yang mereka tekuni. Bagus ketika memulai, namun buruk ketika mengakhiri. Mudah bosan ketika semuanya tidak lagi menarik. Boleh dibilang, mereka lah tipe yang paling natural untuk menjadi seorang wirausaha atau pengacara, karena mereka sarat dengan ide dan konsep yang menarik untuk dicoba (bukan ditekuni). Mereka sangat suka sekali berdebat (Extroverted-Intuition), dan jangan heran kalo mereka bisa berdebat dari dua sisi yang berbeda (Introverted-Thinking). ENTP mampu memahami situasi dan kondisi dengan sangat cepat, serta memiliki ide apa saja yang bisa dilakukan (seperti pengacara). Sama seperti NT yang lain, ENTP kurang begitu ahli ketika mengungkapkan perasaan mereka.

Untuk penjelasan lebih lengkap, bisa dilihat di:
INTJ
ENTJ
INTP
ENTP

NF: The Idealists

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Kita mulai dengan review kategori pertama dari semua jenis yang ada di MBTI, yaitu tipe NF. Ada 4 macam di kategori ini, yaitu INFP, ENFP, INFJ dan ENFJ. Kesemuanya memiliki ciri khas yang sama, yaitu mencari identitas/entity di dunia ini meski tidak selalu mereka dapatkan (identity seeking). Identitas di sini bisa berarti peranan, khayalan maupun dunia lain yang berada di angan-angan/impian mereka.

INFP, Introverted-Feeling with Extroverted-Intuition
Sang Pemimpi
Orang-orang yang cenderung tertutup, pemalu (introverted feeling) namun sering disebut sebagai pengkhayal tingkat tinggi (extroverted intuition). Tidak mudah percaya pada orang lain, dan tidak jarang terlihat misterius karena kemampuannya untuk menyembunyikan perasaan dengan sangat baik. Survei membuktikan bahwa hampir semua penulis hebat di dunia ini adalah seorang INFP, karena kemampuannya untuk mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan. Tidak jarang, INFP juga seorang teman yang baik ketika berusaha menyelesaikan konflik orang lain (Extroverted-Intuition). Akan tetapi karena dominannya Introverted-Feeling, menjadikan segala halnya bersumber dari bagaimana keputusan itu dilihat dari prinsip hidupnya.

INFJ, Introverted-Intuition with Extroverted-Feeling
Sang Pelindung
Seperti saudaranya, INTJ, INFJ memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap segala macam informasi serta memiliki tingkat imajinasi yang terkadang sulit bagi orang lain untuk memahami (Introverted-Intuition). Faktor ini juga lah yang membuatnya tidak begitu bermasalah dengan hal-hal yang rumit atau abstrak serta mampu melihat sesuatu dari pelbagai sudut pandang. INFJ rata-rata adalah seorang penyemangat yang sangat baik (Extroverted-Feeling) karena mereka mempunyai kemampuan untuk memotivasi dan memahami maksud dan hasrat tersembunyi yang terkadang tidak mudah bagi orang lain untuk melihat (Introverted-Intuition).

ENFP, Extroverted-Intuition with Introverted-Feeling
Sang Inspirator
ENFP adalah orang-orang yang memiliki ketajaman visi dalam melihat masa depan, dan tidak jarang bisa berpikir jauh lebih cepat daripada orang lain karena terlalu abstrak untuk dipahami (Extroverted-Intuition). Mereka bisa dengan sangat cepat menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain keterkaitannya (Extroverted-Intuition), namun kesemuanya dilihat dari peranannya terhadap orang lain (Introverted-Feeling). Mereka hidup dalam kemungkinan-kemungkinan, dan setiap detil dianggap setiap hal-hal yang kurang penting. Satu lagi, mereka adalah orang yang mudah bosan dan sulit untuk fokus pada suatu hal, seperti saudaranya ENTP.

ENFJ, Extroverted-Feeling with Introverted-Intuition
Sang Guru
ENFJ fokus pada orang lain (Extroverted-Feeling). Dan didukung dengan kemampuannya dalam menyerap berbagai informasi (Introverted-Intuition), menjadikannya tokoh yang ideal untuk menjadi seorang guru. Mereka bisa dengan cepat memahami situasi dan kondisi, dan bisa mengarahkan mereka melalui pendekatan personal yang luar biasa (Extroverted-Feeling). Tidak sulit bagi mereka untuk membuat orang lain melakukan apa yang mereka inginkan. Dari semua tipe NF, bisa dibilang tipe ini lah yang paling ahli berkomunikasi dengan orang lain. Mereka jauh lebih mementingkan orang lain, dan tidak jarang mereka lupa pada kebutuhannya sendiri. Bedanya dengan INFJ, ENFJ cenderung untuk berhubungan dengan banyak orang, sementara INFJ cenderung untuk berhubungan dengan orang-orang tertentu secara personal.

Untuk penjelasan yang lebih lengkap, bisa dilihat di:
INFP
INFJ
ENFP
ENFJ

Four Dichotomies of MBTI

Posted in Psychology on October 27, 2009 by dplt

Jika belum membaca topik pengantar sebelum ini, silakan baca di sini.
Untuk mencoba online test, silakan klik ini.

Hari ini saya tidak masuk kerja karena masuk angin, yang artinya saya punya waktu untuk melunasi hutang-hutang saya sebelumnya. Kali ini, saya mau menekankan kembali pengertian dari 4 kunci teori psikologi MBTI, supaya nantinya para pembaca tidak kebingungan menginterpretasikanĀ  kepribadiannya melalui penjelasan ilmiah yang disajikan.

Pertama, introvert dan extrovert.
Introvert artinya kecenderungan untuk fokus pada dunia sendiri daripada dunia di luar. Contoh kegiatan yang berkaitan seperti membaca, introspeksi dan mendengar. Juga bisa diartikan kecenderungan untuk menyerap informasi.
Extrovert artinya kecenderungan untuk fokus pada dunia di luar dirinya. Contoh kegiatan yang berkaitan seperti berbicara, mengajar, dan hal lainnya yang umumnya berhubungan dengan komunikasi langsung. Juga bisa diartikan kecenderungan untuk menyajikan/menyampaikan informasi.

Banyak orang yang mengira dirinya introvert, padahal aslinya ekstrovert. Begitu juga sebaliknya. Cara yang terbaik ialah dengan melakukan test, syukur-syukur ambil official test. Faktor intro dan extro ini sangat mempengaruhi perbedaan karakter yang akan kita pahami lebih lanjut di bawah ini.

Kedua, sensing atau intuition.
Mengenai bagaimana kita menyerap informasi. Sensing lebih cenderung pada hal-hal yang kasat mata, realistik, nyata, identik dengan hal-hal yang pasti, praktis, detil. Sementara intuition lebih cenderung pada hal-hal yang abstrak, imaginatif, tidak nyata, identik dengan ketidakpastian, estimasi, konseptual, umum.

Dengan mengimplementasikan faktor introvert/ekstrovert ke dalamnya, maka ada 4 macam yang dapat dibentuk:
- introverted intuition: kemampuan untuk menyerap semua hal yang ditangkap oleh intuisinya. Apa itu intuisi? Seperti yang disebutkan sebelumnya yaitu hal-hal yang abstrak, imaginatif, tidak nyata, dst.
- extroverted intuition: kemampuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk hal yang tidak nyata, imaginatif, ketidakpastian.
- introverted sensing: kemampuan untuk menyerap semua informasi yang ditangkap oleh kelima panca inderanya, baik yang dilihat, didengar, dirasakan, diraba, dikecap. Orang jenis ini biasanya sangat teliti dalam melihat suatu benda, dan dengan cepat bisa mengetahui bila ada yang retak, berubah bentuk, warna, dll.
- extroverted sensing: berbeda dengan introverted sensing, tipe ini lebih cenderung untuk menyentuh langsung benda-benda kasat mata yang ia lihat. Ingin berhubungan secara langsung dengan hal-hal yang ia lihat, baik diraba, dikecap, dst. Faktor yang umumnya dimiliki oleh para olahragawan. Tipe ini biasanya pintar melucu, karena kemampuannya dalam mengungkapkan hal-hal detil yang sering tidak terpikirkan oleh orang lain.

Ketiga, feeling dan thinking.
Mengenai bagaimana kita membuat keputusan. Untuk faktor ketiga ini, banyak sekali orang yang salah menginterpretasikannya dengan mengasumsikan bahwa orang Feeling tidak bisa berpikir, dan orang Thinking tidak punya perasaan. Bukan demikian yang dimaksud oleh sang pembuat teori. Perbedaan mendasarnya ialah: orang Feeling cenderung membuat keputusan berdasarkan prinsip yang ia miliki, sedangkan Thinking cenderung membuat keputusan berdasarkan aturan yang berlaku. Orang feeling juga biasanya memiliki kepekaan yang tinggi dalam menangkap signal orang lain, meski orang sensing masih lebih ahli (sensitif; sense; sensing).

Dengan mengimplementasikan faktor introvert/ekstrovert ke dalamnya, maka ada 4 macam yang dapat dibentuk:
- introverted feeling: membuat keputusan berdasarkan apa yang ia rasakan atau prinsip yang ia miliki serta memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik, kalo boleh dikatakan paling ahli dari tipe yang lain.
- ekstroverted feeling: melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ia rasakan harus ia lakukan atau sesuai dengan prinsip yang ia miliki. Tipe ini biasanya seorang ahli komunikasi yang sangat baik, dan bisa mengendalikan situasi ketika sedang berdiskusi dengan tatanan bahasa yang cenderung sopan dan diterima oleh banyak orang.
- introverted thinking: serupa dengan introverted feeling, hanya saja lebih ditentukan dari logis tidaknya keputusan itu dibuat. Kelemahannya pun juga sama, tidak mudah untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan ke dalam bahasa verbal yang dimengerti orang lain. Hampir semua ilmuwan memiliki faktor ini, karena kemampuannya dalam memahami suatu konsep tapi sulit menjelaskannya kepada orang lain.
- extroverted thinking: kecenderungan untuk selalu mengungkapkan pendapatnya kepada orang lain. sederhananya, tipe ini disebut juga ‘tukang perintah’ karena selalu aja ada hal yang ia rasa seharusnya perlu dilakukan oleh orang lain melalui pendekatan logika, birokrasi, aturan, dsj. Hampir semua eksekutif, pemimpin besar nan radikal, memiliki faktor ini.

Okay, sekarang saya rasa anda sudah mulai menerka-nerka termasuk golongan apakah anda di atas. Apakah sensing atau intuitive? Tergolong intro atau ekstro? Begitu juga dengan feeling atau thinking, tergolong intro atau extro?

Berbeda dengan yang sebelumnya, bagian yang keempat ini mau menunjukkan kecenderungan manakah yang lebih dominan antara menerima informasi (sensing-intuitive) dengan membuat keputusan (thinking-feeling) dilengkapi dengan intro dan ekstro-nya masing-masing tentunya.

Judging:
kecenderungan untuk membuat keputusan (feeling/thinking). Ditandai dengan suka membuat rencana jangka panjang, melakukan sesuatunya lebih cepat (early), teratur, rapi, sistematis, terencana.

Perceiving:
kecenderungan untuk menunggu apa yang akan dilakukan hingga menit terakhir, melihat dulu semua hal yang ada (intutive/sensing). Ditandai dengan suka menunda-nunda, kurang sistematis, spontan.

Dengan demikian, setelah semua hal kita analisis, kita akan mendapatkan hasil akhir berupa 4 karakter yang menjadi kunci kepribadian kita secara umum (disebut umum, karena teori ini tentunya tidak pas 100%; namanya juga pendekatan). Kenapa MBTI? Karena sejauh ini, teori ini masih diakui yang paling reliable dalam menentukan kepribadian manusia.

Cara menganalisisnya ada beberapa cara (meski yang paling baik ialah melalui testnya), seperti:
- pertama, tentukan keempat faktor secara bergiliran. apakah I/E, N/S, T/F, P/J. kemudian digabungkan menjadi INTJ misalnya.
- kedua, dianalisis tiap sensing/intuition (apakah intro atau extro), begitu juga dengan feeling/thinking. Lalu, kalo kita cenderung lebih dominan ke menerima informasi (sensing/intuition) berarti kita adalah P. Kalo kita cenderung membuat keputusan terlebih dahulu (Thinking/Feeling), berarti kita adalah J. Kemudian, kita melihat faktor dominan kita apakah introvert / extrovert. Dari situlah ditentukan apakah kita Introvert atau Ekstrovert.

Contoh:
Introverted Sensing, Extroverted Thinking. Lebih dominan Extroverted Thinking, berarti Judging (J). Karena extroverted thinking adalah dominan, berarti pada dasarnya kepribadiannya Extrovert (E). Maka hasilnya, ESTJ.

Selamat mencoba :)

Honor Your Mother?

Posted in Psychology on October 22, 2009 by dplt

I got this article this morning and I think it’s nice to read.

—————————————————————————————————————————

Question:

I know that the Ten Commandments require us to respect our parents. But not all parents are worthy of respect. I am disgusted by the things my mother has done. She is old now and needs me, but there is nothing in her life that deserves respect. How can I respect my mother without losing my dignity?

Answer:

Respecting your mother doesn’t mean that you think she is all good. But surely she can’t be all bad. Surely you can think of some redeeming feature, something good your mother has done. There must be something for which you can say that she is a worthwhile person. Can’t you think of one good thing she has achieved?

I can. You?

“Respect for parents is a base for self-respect”

Like it or not, you are a product of your parents. No matter how different you are from them, no matter how far you go to avoid repeating their mistakes, you will never be able to change the simple fact that they are your parents. Whether they were good parents or horrible parents, whether they built you up or put you down, they are where you come from.

Your mother brought you into the world. If you honestly think your mother is all bad, without a good bone in her body, then on some level you will see yourself as another one of her failures. Your existence stems from her. Respect for parents is a base for self-respect.

The fact that she mothered a child who has a clear sense of right and wrong, and is aware of her wrongdoing, means she must not be all bad. She may not get the credit for your moral sensitivity, but she does get some credit for your existence. If nothing else, you can at least respect her for that. Far from compromising your dignity, respecting your mother forms the basis for your dignity, because she, along with your father and G-d, was a partner in your birth.

Respect does not mean accepting her failings or excusing her misdeeds. It means that if your mother needs help, you should be there for her. When she speaks, you need not agree, but you must listen respectfully. You have to treat her as a mother. Failing that, your self-respect has shaky foundations.

You don’t have to respect the life your mother has led. But, for your own sake, you do have to respect that she is your mother.

Kiss From a Rose (.mod)

Posted in Lyrics on October 21, 2009 by dplt

There used to be a graying tower alone on the sea
You became the light on the dark side of me
Love remained a drug that’s the high and not the pill

But did you know
that when it snows
My eyes become large and
the light that you shine can be seen

To me you’re like a growing addiction that I can’t deny
Won’t you tell me is that healthy?

There is so much a man can tell you
So much he can say
You remain my power, my pleasure, my pain

I’ve been kissed by a rose on the gray…

I compare you to a kiss from a rose on the gray
The more I get of you, stranger it feels
Now that your rose is in bloom
A light hits the gloom on the gray

FB, Face-Broke?

Posted in Journal on October 18, 2009 by dplt

By this informal acknowledgment, I want to announce anyone that I am no longer using FB since it has discontinued its services (on me).

This last 5 days, I was having problems logging into FB. I don’t know what happened for sure but it always gives me the same error message:

“Your account is currently unavailable due to a site issue. We expect this to be resolved shortly. Please try again in a few minutes.

fb-error2


However, few days ago Finne tested and founded that it is still possible to log in by keep refreshing the page until it shows the contents. Well, I found it so annoying (because waiting and waiting are the most boring things to do, agree?). And later on, I used the same method like she did and I could log in. Maybe it’s just a few minutes maintenance on their databases before recovering the systems, I thought. But wait, I still found it just-like-another-unusual-page to see. What happened here actually?

What I mean here is that I got no wall posts, and the most strange one is that I got 0 friend(s). That was really strange ‘coz it had been about a thousand of friends I had if I remembered it correctly. Bastari said that it was possible that a user (who-should-be-better-not-exist) clicked “report/block this user” on the bottom of the profile page. Theoretically that’s possible, but how come that there’s any user did that on me. That’s just too outrageous. I think Reachy was right, that there’s too much activity on my account last days so that they probably decided to block my account. The last time I uploaded some photos about HILET, it came out about 70-100 notifications every single day for certain, nearly all are about those pictures’ comments or like-this-picture note. I am still find it hard to take, especially after seeing her playing several games in FB so smooth without any problem like I had while I was nearly a whole day in her room yesterday.

So on behalf of my self, I would like gently to say to everyone that I will be lowering my activity on FB due to this accident occured. Currently, I don’t have any other social networking community web account beside FB, and am not really interested to find another one. I hope FB could fix this problem soon, or otherwise I’ll be no longer using it.

But don’t worry, I’ll keep updating my blog for any certain news, events or other activities. You can make a post on this blog or email me for sure. Got no prob with this, right? Good day everyone :)

Pragmatisme Politik Pemuda

Posted in Journal on October 14, 2009 by dplt

Ini adalah kutipan surat pembaca yang menurut saya bagus untuk disimak. Penyampaiannya yang lugas serta tepat sasaran membuatnya menarik untuk dibaca dengan seksama. Selamat membaca.

—————————————————————————————————————————

Pragmatisme Politik (Kedangkalan Moral) Pemuda

Sejarah membuktikan betapa peristiwa-peristiwa besar yang dilalui digerakkan oleh pemuda. Sejarah telah membuktikan pula bahwa pemuda merupakan penggerak utama denyut nadi revolusi suatu bangsa di mana pun. Tak terkecuali di Indonesia.

Sejarah telah mencatat gerakan kebangkitan nasional pertama Boedi Oetomo 1908 yang dipelopori oleh Dr Sutomo dan kawan-kawan dalam menggugah semangat kebangsaan atau nasionalisme sebagai dasar dari kebangkitan nasional dalam melawan penjajahan asing.

Kesadaran moral kebangsaan ini dua puluh tahun kemudian telah melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang intinya membangun rasa persaudaraan senasib, sebangsa, setanah air, serta satu bahasa nasional, Indonesia. Ikrar suci itu pun kemudian menjelma menjadi gerakan politik kemerdekaan tujuh belas tahun kemudian. Tepatnya 17 Agustus 1945 yang dipelopori oleh Soekarno-Hatta dan kawan-kawan yang tak lain adalah orang-orang muda.

Begitu pula gerakan mahasiswa 66 (Tritura), gerakan mahasiswa 74 (peristiwa Malari), gerakan mahasiswa 78 (tentang Aliran Kepercayaan), gerakan mahasiswa 80-an, dan gerakan mahasiswa Mei 1998, merupakan gerakan revolusioner pemuda Indonesia yang gigih berani membela dan memperjuangkan suara rakyat kecil yang tertindas.

Sikap idealisme dan patriotisme mahasiswa/ pemuda yang rela mengorbankan apa saja. Bahkan, nyawa sekali pun inilah yang perlu ditauladani oleh para elit politik kita yang tengah mengalami demoralisasi dan mediokrasi.

Kini para elit politik kita mulai dari eksekutif, legeslatif, sampai yudikatif tengah terjerembab dalam kubangan kedangkalan moral. Paradigma politik para elit politik mengalami pendangkalan berpikir. Semuanya asal instan saja tanpa memikirkan rambu moral, hukum, dan tata nilai yang ada.

Korupsi menjadi momok yang amat memalukan dan memprihatinkan di negeri ini. Setiap hari kita disuguhkan sajian amat tak bermoral oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang notabene adalah wakil rakyat yang harus memperjuangkan hak dan kepentingan rakyat.

Tapi, apa lacur. DPR malah menggerogoti uang negara yang sejatinya berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Demi hidup yang mewah dan kesenangan pribadi mereka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa rasa malu sedikit pun. Tak jarang dari mereka yang terang-terangan melakukan korupsi. Mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, program studi banding ke luar negeri yang banyak menguras kocek negara, sampai praktik jual-beli hukum.

Perilaku elit-elit politik kita makin hari makin memuakkan nurani saja. Tanpa ada niatan mereka untuk berubah. Kita menyaksikan bagaimana sesama mereka saling “membunuh” dan membuka aib sesama. Mereka terus berebut kue kekuasaan yang menggerus nurani dan akal sehat mereka. Demi kekuasaan yang sesaat mereka rela mengebiri dan mengorbankan apa saja. Termasuk hak rakyat kecil untuk hidup layak. Sementara itu perbaikan kehidupan rakyat ditelantarkan begitu saja.

Rakyat dibiarkan miskin dan terlunta-lunta menanti nasibnya yang tak kunjung pasti. Kemakmuran dan kesejahteraan semakin menjauh dari relung kehidupan mereka. Kelaparan karena tak bisa membeli makan, putus sekolah kerana tak punya biaya, menjadi pengemis di jalan hanya demi sesuap nasi menjadi pemandangan rutin yang tak sedap dipandang mata kita.

Tanpa disadari kalau perilaku elit politik kita telah mengimbas di dunia akademik-mahasiswa (aktivis pemuda). Tak sedikit dari mereka yang “berjuang” di organisasinya masing-masing hanya untuk menjadi anggota dewan yang terhormat. Dengan berpartisipasi menjadi ketua cabang, ketua daerah, sampai menjadi ketua umum organisasinya di tingkat nasional. Kemudian, setelah lulus dari organisasinya masing-masing, mereka ramai-ramai mencalegkan diri menjadi anggota dewan. Mereka berharap, akan terjadi sebuah transformasi diri dari hidup yang biasa menjadi sejahtera. Dari yang “miskin” menjadi tidak terlalu “miskin”.

Harapan akan transformasi diri pribadi inilah telah menanamkan sikap atau mental korup dalam benak anak-anak muda ini. Tanpa disadari bahwa perilaku dan sikap korup sehari-hari sedang mereka jalani.

Banyak contoh kasus sikap pragmatisme yang dilakukan pemuda. Misalnya, tertangkapnya politisi muda kita Al Amin Nasution atas dakwaan korupsi/ suap miliaran rupiah dana alih fungsi lahan. Al Amin merupakan anggota DPR RI dari fraksi PPP dan mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kasus Al-Amin merupakan cerminan pragmatisme seorang mantan aktivis muda yang ingin mentransformasi diri pribadi secara instan tanpa harus bekerja keras.

Contoh lain dari sikap pragmatisme politik pemuda adalah masuknya para mantan aktivis pemuda ke dalam lingkaran kekuasaan. Sederet nama seperti: Andy Arif, Syahganda Nainggolan, Aam Sapulete, Anas Urbaningrum, Rama Pratama, dan Nusron Wahid, semuanya masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Andi, mantan aktivis mahasiswa yang diculik Tim Mawar Kopassus, kini diangkat menjadi komisaris PT Pos Indonesia. Syahganda didaulat menjadi komisaris PT Pelindo. Adapun Aam Sapulete menjadi komisaris PT Perkebunan VII (Lampung). Nusron Wahid dan Rama Pratama merupakan anggota DPR RI dari fraksi Golkar dan PKS. Sedangkan Anas yang mantan Ketua Umum HMI kini menjadi salah satu ketua DPP Partai Demokrat.

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan masuknya mereka ke dalam kekuasaan. Akan tetapi, apakah setelah masuk ke dalam kekuasaan mereka tetap komitmen dan konsisten dengan suara rakyat miskin. Apakah semangat mereka membela kaum susah masih sama seperti dulu ketika mereka masih menjadi seorang aktivis.

Pertanyaan inilah yang harus mendapatkan jawaban. Sebab, selama ini kita merasa sepi akan suara para mantan aktivis muda itu membela rakyatnya yang kini sedang dilanda kesulitan ekonomi. Kita sudah tidak mendengar lagi suara lantang mereka membela kaum yang tertindas.

Kini para aktivis muda baru lainnya bermunculan mewarnai setiap aksi demostrasi di tiap daerah atau pun ibu kota. Atas nama rakyat kecil mereka berteriak lantang akan nasib dan kesejahteraan masyarakat yang ujung-ujungnya untuk memenuhi kocek pribadi mereka saja.

Memang, tidak semua demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa/ aktivis seperti itu. Saya yakin masih ada sebagian dari mereka yang betul-betul ikhlas membela rakyat kecil.

Contohnya, masih ada sebagian dari aktivis pemuda yang melakukan advokasi untuk memberdayakan masyarakat pinggiran. Mereka berusaha mengimpower masyarakat dengan memberikan penyadaran politik (civic education) dan penguatan nalar publik, dengan menanamkan pemahaman masyarakat atas hak dan kewajibannya di dalam berbangsa dan bernegara. Mereka dengan keterbatasannya tetap sukarela menolong rakyat kecil tanpa pamrih.

Seharusnya sikap dan mental seperti inilah yang harus dimiliki oleh para elit politik, politisi muda, dan juga para aktivis mahasiswa di negeri ini. Sikap mengedepankan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi, menolong kaum papa yang tak berdaya.

Menyikapi perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Membangun rasionalitas berpolitik yang mengedepankan etika moral dan akal sehat. Menjauhkan diri dari sikap tamak harta dan benda yang menghalalkan segala cara. Berpolitik luhur untuk membangun peradaban bangsa yang mulia, tanpa harus menghancurkan sesama kita.

Dengan rasionalitas dan moralitas politik akan terlihat lebih seperti seni dan kemuliaan. Bukan kejam dan busuk yang selama ini kita lihat. Kasantunan, kedewasaan, dan keluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Tanpa itu semua nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta.

Maka dari itulah mulai saat ini juga, baik elit politik maupun para (aktivis) pemuda/ mahasiswa wajib mengedepan etik moral berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Karena politik tanpa rasionalitas moral dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat jahat. Sebaliknya, moral saja tanpa diimbangi kesadaran politik (kerakyatan dan kebangsaan) hanya akan menjadi tatanan kehidupan yang sia-sia. Maka berpolitiklah dengan akal sehat dan kejernihan nurani. Demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Semoga.

Abdul Ghopur

Penulis adalah Direktur Eksekutif Jendela Indonesia dan Pemerhati masalah sosial politik.